Jakarta | Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menyatakan bahwa inflasi Indonesia saat ini lebih mencerminkan cost-push inflation, yaitu kenaikan harga yang dipicu oleh tekanan biaya dan keterbatasan pasokan. Menurutnya, laju inflasi tidak terutama disebabkan oleh lonjakan permintaan masyarakat, melainkan oleh belum memadainya ketersediaan barang untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Penilaian tersebut disampaikan Dradjad berdasarkan kajian serta data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam konferensi pers yang digelar di kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin (12/10). Data dan kajian itu menjadi dasar untuk melihat bahwa tekanan inflasi yang berlangsung memiliki hubungan kuat dengan kondisi produksi, distribusi, serta ketersediaan komoditas di berbagai wilayah.
Dradjad menjelaskan, daya beli masyarakat masih tergolong kuat. Namun, kemampuan konsumsi tersebut belum sepenuhnya dapat diimbangi oleh pasokan barang yang tersedia. Ketika permintaan tetap berjalan sementara jumlah barang terbatas, harga cenderung meningkat. Situasi inilah yang membedakan tekanan inflasi dari sisi pasokan dengan inflasi yang terutama didorong oleh permintaan berlebihan.
Tekanan biaya dapat muncul dari berbagai komponen dalam rantai pasok, termasuk biaya produksi, transportasi, dan distribusi. Keterbatasan pasokan juga dapat membuat harga komoditas lebih mudah bergejolak, khususnya ketika terjadi gangguan pada produksi atau penyaluran. Karena itu, pengendalian inflasi tidak cukup dilakukan melalui kebijakan yang berfokus pada permintaan dan daya beli.
Pemerintah perlu memastikan ketersediaan barang sekaligus menjaga kelancaran distribusinya agar kebutuhan pasar dapat terpenuhi. Pemahaman mengenai karakter inflasi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk menyiapkan koordinasi lintas sektor, sehingga langkah pengendalian dapat diarahkan pada sumber tekanan yang paling berpengaruh. Dengan demikian, penguatan pasokan menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas harga dan mempertahankan daya beli masyarakat.
Dradjad menjelaskan bahwa tekanan inflasi dapat muncul ketika ketersediaan barang tidak mampu mengikuti kondisi daya beli masyarakat. Dalam keadaan tertentu, daya beli tetap berada pada tingkat yang baik, sehingga permintaan terhadap barang masih berjalan. Namun, apabila pasokan komoditas yang dibutuhkan terbatas, keseimbangan permintaan dan ketersediaan barang terganggu. Ketidakseimbangan tersebut kemudian memberikan tekanan terhadap harga.
Contoh yang disampaikan adalah pasokan cabai yang kurang ketika daya beli masyarakat tetap baik. Dalam situasi seperti ini, masyarakat masih memiliki kemampuan untuk membeli cabai, tetapi jumlah cabai yang tersedia tidak mencukupi. Perbedaan kemampuan membeli dan barang yang dapat diperoleh membuat harga cabai terdorong naik. Dengan demikian, kenaikan harga bukan semata-mata berkaitan dengan melemahnya daya beli, melainkan juga dapat terjadi karena barang yang tersedia tidak sebanding dengan kebutuhan pembelian.
Tekanan pasokan juga terlihat pada komoditas elektronik yang masih bergantung pada impor. Ketergantungan tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan barang elektronik berkaitan dengan pasokan dari luar negeri. Apabila barang yang dibutuhkan tidak tersedia dalam jumlah yang memadai, sementara daya beli masih ada, harga dapat mengalami kenaikan. Dalam konteks ini, kemampuan masyarakat untuk membeli tidak otomatis menjamin harga tetap stabil ketika ketersediaan komoditas terbatas.
Penjelasan Dradjad menegaskan bahwa hubungan daya beli dan pasokan menjadi unsur penting dalam memahami inflasi. Daya beli yang tetap baik dapat meningkatkan kemampuan masyarakat untuk melakukan pembelian, tetapi kondisi tersebut harus diimbangi dengan ketersediaan barang. Jika pasokan cabai kurang atau komoditas elektronik masih bergantung pada impor, ketidakseimbangan dapat terbentuk. Ketika jumlah barang tidak mencukupi dibandingkan kemampuan membeli, tekanan harga menjadi lebih kuat. Mekanisme inilah yang menjadikan keterbatasan komoditas dan ketergantungan impor sebagai faktor yang mendorong kenaikan harga.
Pengendalian inflasi ke depan akan diarahkan pada penguatan rantai pasokan dan kelancaran distribusi barang dari tingkat produksi hingga konsumen. Pendekatan ini penting karena tekanan harga tidak hanya dipengaruhi oleh permintaan, tetapi juga oleh ketersediaan komoditas, biaya logistik, kondisi infrastruktur, serta ketepatan waktu penyaluran. Pemerintah perlu memastikan bahwa barang kebutuhan masyarakat dapat bergerak secara efisien, terutama dari wilayah sentra produksi menuju daerah yang mengalami peningkatan kebutuhan.
Perhatian pemerintah juga mencakup komponen ekspor bersih atau net export sebagai salah satu unsur penting dalam menjaga dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Kinerja ekspor, impor, produksi domestik, dan distribusi perlu dibaca secara terpadu agar kebijakan pengendalian inflasi tidak menghambat aktivitas ekonomi. Dengan demikian, langkah stabilisasi harga dapat berjalan seiring dengan upaya memperkuat daya saing industri, menjaga kesinambungan produksi, dan meningkatkan kontribusi sektor perdagangan terhadap pertumbuhan.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bersama Badan Pusat Statistik (BPS) merencanakan koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk memperbaiki pemahaman terhadap kondisi pasokan di lapangan. Dradjad menyampaikan bahwa koordinasi tersebut akan mencakup berbagi data, penyelarasan informasi, serta perbaikan pencatatan agar perkembangan produksi dan distribusi dapat tergambarkan secara lebih lengkap. Langkah ini diharapkan mengurangi kesenjangan informasi antarinstansi dan membantu pemerintah menyusun kebijakan berdasarkan kondisi aktual.
Selain memperkuat pertukaran data, pemerintah akan mendorong pembenahan kebijakan di sektor hulu. Data yang lebih menyeluruh mengenai produksi, stok, hambatan distribusi, dan kebutuhan antarwilayah dapat menjadi dasar untuk merespons potensi gangguan pasokan lebih awal. Melalui kerja sama lintas sektor tersebut, BPS diharapkan mampu mencatat dinamika ekonomi secara lebih komprehensif, sementara kementerian dan lembaga memperoleh landasan yang lebih kuat untuk menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28 persen secara tahunan (year-on-year) dan 0,30 persen secara bulanan (month-to-month). Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh perubahan harga pada sejumlah komoditas pangan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi sebesar 0,88 persen, dengan andil terhadap inflasi bulanan mencapai 0,26 persen.
Beberapa komoditas pangan menjadi penyumbang utama. Cabai rawit memberikan andil 0,08 persen, disusul cabai merah sebesar 0,06 persen dan daging ayam ras sebesar 0,05 persen. Beras menyumbang 0,03 persen, sedangkan telur ayam ras memberikan andil 0,02 persen. Ikan segar dan kangkung masing-masing turut menyumbang 0,01 persen. Rincian ini memperlihatkan bahwa pergerakan harga komoditas pangan masih menjadi faktor penting dalam pembentukan inflasi pada periode tersebut, terutama melalui komoditas yang umum dikonsumsi rumah tangga.
Di sisi lain, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi sebesar 0,14 persen. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh harga emas perhiasan, yang memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen. BPS juga mencatat inflasi inti sebesar 0,10 persen dengan andil 0,06 persen, terutama dipengaruhi oleh kenaikan biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi. Sementara itu, harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi sangat rendah atau mendekati nol, sehingga tekanannya terhadap perubahan harga umum relatif terbatas.
Persebaran inflasi antarwilayah menunjukkan kondisi yang beragam. Inflasi tertinggi tercatat di Sulawesi Utara, yaitu sebesar 3,53 persen secara tahunan. Sebaliknya, deflasi terdalam terjadi di Nusa Tenggara Timur dengan angka 0,35 persen. Perbedaan tersebut mencerminkan variasi kondisi pasokan, distribusi, serta perubahan harga komoditas dan jasa di setiap daerah.
Baca juga: Laurensius Sabda Menjadi Kunci Kemenangan PSIS Semarang | Siapkan Capex Rp400 Miliar Lebih, ACES Targetkan hingga 75 Gerai Baru | Penurunan Wall Street di Tengah Tingginya Inflasi







