Jakarta | Bank Jakarta memperkuat kerja sama strategis dengan badan usaha milik daerah (BUMD), badan usaha milik negara (BUMN), serta perangkat daerah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sinergi ini diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung pembangunan Jakarta yang lebih inklusif, terhubung, dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi lintas lembaga tersebut, Bank Jakarta mengambil peran dalam menghadirkan solusi pembiayaan dan infrastruktur yang memiliki dampak langsung bagi warga.
Kerja sama itu mencakup tiga bidang utama. Pertama, pembiayaan hunian bagi pekerja sektor informal, kelompok yang kerap menghadapi keterbatasan akses terhadap produk pembiayaan perumahan formal. Kedua, dukungan terhadap elektrifikasi armada Transjakarta sebagai bagian dari upaya mendorong transportasi publik yang lebih ramah lingkungan dan efisien. Ketiga, pembangunan pedestrian deck di kawasan Dukuh Atas untuk memperkuat konektivitas antarmoda sekaligus meningkatkan kenyamanan dan keselamatan pejalan kaki.
Apabila seluruh rencana kerja sama tersebut direalisasikan, potensi nilai yang dihimpun mencapai Rp5,87 triliun. Nilai itu menunjukkan besarnya ruang sinergi sektor keuangan, badan usaha, dan pemerintah daerah dalam mendukung agenda pembangunan perkotaan. Kepala Badan Pembinaan BUMD Provinsi DKI Jakarta, Saefullah Hidayat, menyampaikan hal tersebut di Jakarta pada Selasa. Ia menegaskan bahwa BUMD memiliki peran strategis yang tidak hanya berfokus pada kinerja bisnis, tetapi juga pada pelayanan masyarakat dan penggerak perekonomian daerah. Dengan perspektif tersebut, kerja sama Bank Jakarta bersama BUMD, BUMN, dan perangkat daerah diharapkan mampu menghasilkan manfaat ekonomi serta sosial yang lebih luas bagi masyarakat Jakarta.
Bank Jakarta memperkuat dukungan terhadap kepemilikan hunian bagi pekerja sektor informal melalui sinergi dengan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, serta Jamkrida Jakarta. Kolaborasi ini menjadi bagian dari pelaksanaan program Fasilitas Pembiayaan Perolehan Rumah yang dirancang untuk menjangkau masyarakat dengan karakteristik pendapatan dan pekerjaan yang beragam.
Dalam kerja sama tersebut, Bank Jakarta berperan menyalurkan kredit, sementara Jamkrida Jakarta memberikan dukungan penjaminan kredit. Skema ini memiliki potensi nilai pembiayaan hingga Rp587 miliar. Kehadiran penjaminan diharapkan dapat membantu mengurangi kendala yang sering dihadapi calon debitur sektor informal, terutama terkait persyaratan agunan, pembuktian penghasilan, dan penilaian kelayakan kredit.
Pekerja sektor informal memiliki peran penting dalam perekonomian Jakarta, tetapi sebagian di antaranya masih menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan perbankan. Pendapatan yang tidak selalu tetap serta ketiadaan dokumen penghasilan formal dapat membuat proses pengajuan pembiayaan rumah menjadi lebih sulit. Melalui koordinasi antarlembaga, program ini berupaya menghadirkan mekanisme pembiayaan yang lebih sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka.
Perluasan akses tersebut memberi peluang lebih besar bagi pekerja informal untuk memperoleh hunian yang layak, aman, dan sesuai kemampuan finansial. Dukungan pembiayaan juga dapat membantu masyarakat mengurangi ketergantungan pada pinjaman nonformal yang berbiaya tinggi atau tidak memberikan kepastian perlindungan bagi peminjam. Dengan proses yang transparan dan pendampingan yang memadai, calon penerima dapat memahami persyaratan, kewajiban pembayaran, serta manfaat kepemilikan rumah melalui jalur resmi.
Sinergi Bank Jakarta dan para pemangku kepentingan diharapkan mendorong inklusi keuangan sekaligus memperkuat kualitas permukiman di Jakarta. Program ini tidak hanya berfokus pada penyaluran dana, tetapi juga membuka akses yang lebih adil terhadap pembiayaan kepemilikan rumah bagi kelompok masyarakat yang selama ini belum sepenuhnya terlayani oleh perbankan.
Bank Jakarta menjalin kerja sama dengan PT Transportasi Jakarta atau Transjakarta untuk mendukung percepatan transformasi transportasi publik di ibu kota. Kerja sama tersebut diarahkan pada penyediaan pembiayaan bagi program elektrifikasi armada Transjakarta, sebagai bagian dari upaya mendorong penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan dalam layanan transportasi publik. Melalui dukungan pembiayaan ini, pengembangan kendaraan berbasis listrik diharapkan dapat dilakukan secara lebih terarah sesuai kebutuhan operasional Transjakarta.
Program elektrifikasi yang menjadi bagian dari kerja sama tersebut mencakup sebanyak 3.782 armada. Jumlah ini menunjukkan cakupan pembiayaan yang luas, sekaligus menggambarkan skala pengembangan transportasi publik berbasis listrik yang akan didukung. Bank Jakarta dan Transjakarta menuangkan komitmen tersebut dalam nota kesepahaman dengan jangka waktu tiga tahun. Dalam periode itu, kerja sama memiliki potensi nilai pembiayaan hingga Rp5,07 triliun.
Dukungan pembiayaan dari Bank Jakarta diharapkan dapat mempercepat pengembangan armada listrik Transjakarta. Ketersediaan skema pendanaan menjadi salah satu unsur penting dalam mendukung proses pengadaan dan pengembangan armada, sehingga rencana elektrifikasi dapat berjalan sesuai arah kerja sama yang telah disepakati. Langkah ini juga memperkuat kolaborasi lembaga keuangan daerah dan pengelola transportasi publik dalam mengembangkan layanan yang menggunakan sumber energi lebih ramah lingkungan.
Selain mempercepat pengembangan armada berbasis listrik, program tersebut diharapkan membantu upaya pengurangan emisi di ibu kota. Penggunaan kendaraan listrik dalam transportasi publik menjadi bagian dari arah pengembangan mobilitas yang lebih memperhatikan aspek lingkungan. Dengan dukungan pembiayaan selama masa nota kesepahaman, Bank Jakarta dan Transjakarta memiliki landasan kerja sama untuk mendorong pelaksanaan program elektrifikasi sebanyak 3.782 armada secara bertahap.
Bank Jakarta menjalin kerja sama dengan PT MRT Jakarta (Perseroda) untuk mendukung pembangunan pedestrian deck di kawasan Dukuh Atas. Dalam kerja sama tersebut, Bank Jakarta menyiapkan fasilitas kredit dengan plafon Rp220 miliar dan jangka waktu 15 tahun. Pembiayaan ini menjadi bagian dari dukungan terhadap pengembangan infrastruktur perkotaan yang berorientasi pada kemudahan mobilitas masyarakat.
Pembangunan pedestrian deck Dukuh Atas ditujukan untuk memperkuat konektivitas antarmoda transportasi sekaligus meningkatkan aksesibilitas pejalan kaki. Fasilitas tersebut membantu menciptakan hubungan yang lebih terintegrasi berbagai pilihan transportasi dan jalur berjalan kaki, sehingga perpindahan pengguna dapat berlangsung secara lebih mudah. Pengembangan akses pejalan kaki juga mendukung terciptanya kawasan perkotaan yang lebih nyaman dan terhubung bagi masyarakat yang beraktivitas di sekitarnya.
Dukuh Atas merupakan salah satu titik penting dalam integrasi transportasi Jakarta. Kawasan ini mempertemukan sejumlah layanan transportasi publik dan menjadi lokasi dengan mobilitas masyarakat yang tinggi. Karena itu, pembangunan pedestrian deck memiliki peran dalam memperlancar pergerakan pengguna, memperjelas koneksi antarfasilitas transportasi, serta memperluas akses menuju kawasan tersebut tanpa hanya bergantung pada kendaraan bermotor.
Kerja sama dengan PT MRT Jakarta (Perseroda) melengkapi dukungan Bank Jakarta terhadap tiga kebutuhan pembangunan di Jakarta. Pada sektor hunian, Bank Jakarta mendorong pembiayaan rumah bagi masyarakat. Pada sektor transportasi, bank tersebut mendukung pembiayaan kendaraan listrik. Sementara itu, melalui fasilitas kredit untuk pedestrian deck Dukuh Atas, Bank Jakarta turut membiayai infrastruktur pejalan kaki dan konektivitas antarmoda dengan plafon Rp220 miliar berjangka waktu 15 tahun.
Baca juga: Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya: Tender Terbuka untuk Program Listrik Desa 2026 | Pengalaman Terbaru di Toko Robot Cerdas di Jakarta | Pertemuan Sengit: Persija Jakarta Menanti Kehadiran Persib Bandung di Super League







