Surabaya | Warga di Jalan Dupak Rukun, Surabaya, dikejutkan oleh munculnya semburan lumpur dari area tanah pada Selasa siang, 13 Oktober 2026. Material berwarna keruh itu menyembur ke udara dengan ketinggian yang diperkirakan mencapai sekitar dua hingga tiga meter. Peristiwa tersebut berlangsung di tengah aktivitas warga, sehingga kemunculannya secara tiba-tiba segera menarik perhatian orang-orang yang berada di sekitar lokasi.
Semburan itu terlihat kuat dan membentuk aliran lumpur yang membasahi bagian tanah di sekitarnya. Kepulan material yang naik cukup tinggi membuat warga memilih menjauh dari titik kejadian demi menjaga keselamatan. Mereka mengamati fenomena tersebut dari jarak aman, sementara sebagian lainnya berusaha merekam keadaan menggunakan telepon seluler. Rekaman visual kejadian kemudian beredar luas di media sosial dan mempercepat penyebaran informasi mengenai kondisi di kawasan Dupak Rukun.
Situasi tersebut memicu kepanikan di warga sekitar, terutama karena semburan muncul dari permukaan tanah tanpa tanda yang sebelumnya diketahui masyarakat. Sejumlah warga juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa peristiwa itu menyerupai musibah lumpur Lapindo di Sidoarjo, yang masih membekas dalam ingatan publik. Namun, kemiripan secara visual tersebut belum menunjukkan adanya hubungan kejadian di Dupak Rukun dan bencana di Sidoarjo.
Dampak langsung pada saat kejadian terutama dirasakan oleh warga dan pengguna area di sekitar titik semburan. Mereka harus berhati-hati terhadap lumpur yang menggenangi tanah serta mengantisipasi kemungkinan perubahan pada tekanan atau arah semburan. Pemandangan material yang terus keluar dengan ketinggian beberapa meter menjadi alasan utama warga merasa cemas. Peristiwa pada siang itu pun segera menjadi perhatian, baik di lingkungan setempat maupun di ruang digital, sebelum penyebabnya dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut.
Setelah menerima laporan dari warga mengenai semburan lumpur di kawasan Dupak Rukun, Surabaya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Jasa Marga mendatangi lokasi untuk melakukan pengecekan secara langsung. Kedatangan petugas dilakukan sebagai langkah awal untuk memperoleh gambaran faktual mengenai kondisi yang dilaporkan, sekaligus memastikan situasi di sekitar titik munculnya semburan.
Di lokasi, petugas melakukan pemeriksaan dan asesmen terhadap fenomena tersebut. Pemeriksaan ini bertujuan menelusuri penyebab keluarnya material dari dalam tanah serta menilai kondisi area yang terdampak oleh kemunculan lumpur. Dengan melihat keadaan secara langsung, BPBD dan Jasa Marga dapat mencocokkan laporan warga dengan temuan lapangan dan mengidentifikasi karakteristik semburan yang terjadi.
Asesmen lapangan juga diperlukan untuk membedakan fenomena tersebut dari kejadian semburan lumpur yang memiliki karakter lebih serius. Petugas memastikan bahwa semburan di Dupak Rukun bukanlah semburan lumpur berbahaya seperti yang pernah terjadi di Sidoarjo. Kepastian ini diperoleh berdasarkan hasil pemeriksaan langsung terhadap kondisi di lokasi, sehingga fenomena yang dilaporkan tidak dikategorikan sebagai peristiwa serupa.
Kehadiran BPBD dan Jasa Marga menunjukkan bahwa laporan warga segera ditindaklanjuti melalui pemeriksaan bersama. Proses pengecekan tersebut menjadi dasar untuk memahami penyebab semburan dan memberikan penilaian yang sesuai terhadap kondisi area. Hasil pemeriksaan lapangan memastikan bahwa kejadian di Dupak Rukun perlu dipahami berdasarkan karakteristik setempat, bukan disamakan dengan semburan lumpur berbahaya di wilayah lain.
Hasil identifikasi teknis di lapangan menunjukkan bahwa semburan lumpur di kawasan Dupak Rukun, Surabaya, bukan berasal dari sumber geologi atau saluran air biasa. Fenomena tersebut dipicu oleh kebocoran pipa air berdiameter besar yang berada di area proyek galian. Pipa itu terletak di sekitar lokasi pembangunan storage penampungan air yang dikerjakan dekat jalan tol.
Arif Sunandar selaku Ketua Tim Kerja Operasional Kedaruratan BPBD Kota Surabaya menjelaskan bahwa pipa berdiameter sekitar satu meter mengalami kebocoran ketika berada di lokasi penggalian. Kerusakan pada pipa tersebut menyebabkan air bertekanan tinggi keluar melalui bagian yang bocor dan menggenangi area proyek. Material tanah di sekitar titik kebocoran kemudian terbawa bersama aliran air sehingga tampak seperti semburan lumpur.
Tekanan air yang besar dari pipa berukuran tersebut membuat aliran menyembur kuat ke permukaan. Berdasarkan penjelasan Arif, ketinggian semburan air mencapai sekitar dua hingga tiga meter. Kondisi itu menyebabkan genangan dan lumpur terlihat menyebar di sekitar area galian, sekaligus menarik perhatian warga serta pengguna jalan di kawasan tersebut.
Temuan ini menjadi dasar penanganan di lapangan, dengan perhatian utama diarahkan pada titik pipa yang mengalami kebocoran di area proyek pembangunan storage penampungan air. Identifikasi teknis tersebut memperjelas bahwa semburan terjadi akibat gangguan pada jaringan pipa air berdiameter besar, bukan karena kemunculan sumber air baru dari dalam tanah. Besarnya tekanan di dalam pipa menjadi faktor yang membuat air keluar secara kuat dan mencapai ketinggian beberapa meter sebelum mengalir ke area sekitarnya.
Air yang keluar di area galian Dupak Rukun, Surabaya, terlihat seperti semburan lumpur karena membawa material tanah di sekitarnya. Ketika pipa air mengalami kebocoran, air bertekanan menyebar ke ruang galian dan mendorong tanah yang berada di sekitar titik kebocoran. Campuran air dan butiran tanah tersebut kemudian terdorong ke atas serta terbawa ke udara, sehingga warna dan bentuk semburannya menyerupai lumpur.
Material tanah yang ikut terbawa tidak berasal dari sumber semburan lumpur alami di dalam tanah. Tanah itu merupakan bagian dari lapisan di sekitar area yang sedang digali. Tekanan air dari pipa yang bocor membuat permukaan tanah menjadi basah, rapuh, dan mudah terlepas. Saat aliran air terus keluar, tanah yang telah bercampur dengan air bergerak mengikuti arus dan menyebar di sekitar lokasi.
Situasi tersebut menimbulkan kesan bahwa lumpur keluar langsung dari dalam tanah. Pemandangan air berwarna keruh yang menyembur dengan kuat juga memperkuat kekhawatiran warga di sekitar lokasi. Namun, keterangan mengenai kejadian itu mengarah pada kebocoran pipa air sebagai pemicu, dengan material tanah di area galian yang membuat air tampak seperti lumpur.
Kegiatan penggalian di lokasi tersebut merupakan bagian dari proyek pembangunan storage atau tempat penampungan air. Area galian diperlukan untuk mendukung pekerjaan proyek, sekaligus menjadi titik yang berdekatan dengan jaringan pipa air. Ketika pipa mengalami kebocoran, tekanan air berinteraksi dengan tanah galian dan menghasilkan semburan keruh yang tampak lebih besar serta lebih pekat daripada aliran air biasa.
Baca juga: HUT ke-67 PEPABRI di Surabaya, Pesan Kuat untuk TNI-Polri dan Generasi Muda | Proses Penyelidikan Kecelakaan Melibatkan Sopir Alphard di Surabaya | Penyelesaian Masalah Konsumen Wuling di Surabaya






