Kebakaran Hutan di Kalsel dan Kalteng Ditargetkan Tertangani dalam Beberapa Pekan

Kebakaran Hutan di Kalsel dan Kalteng Ditargetkan Tertangani dalam Beberapa Pekan

Jakarta | Pemerintah menargetkan penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan serta Kalimantan Tengah dapat rampung dalam beberapa pekan ke depan. Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menyampaikan harapan tersebut dengan mempertimbangkan perkembangan terbaru dalam upaya pemadaman. Target ini menunjukkan bahwa pemerintah menilai penanganan masih dapat dipercepat melalui pengerahan sumber daya dan koordinasi yang terus dilakukan di lapangan.

Untuk mengendalikan kebakaran, pemerintah masih mengerahkan puluhan ribu personel. Mereka terus menjalankan upaya pemadaman guna menekan penyebaran api dan memastikan kondisi di wilayah terdampak berangsur membaik. Pengerahan personel dalam jumlah besar menjadi bagian penting dari respons pemerintah, terutama ketika penanganan harus dilakukan secara berkelanjutan hingga api benar-benar dapat dikendalikan.

Jumhur mengatakan intensitas kebakaran mulai berkurang. Perkembangan ini menjadi salah satu dasar bagi pemerintah untuk melihat adanya peluang bahwa penanganan dapat segera diselesaikan. Penurunan intensitas tidak berarti upaya pemadaman dihentikan, melainkan menjadi dorongan untuk mempertahankan langkah-langkah yang sedang berjalan dan memastikan setiap potensi kebakaran tetap mendapat perhatian.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah berharap pekerjaan pemadaman dan pengendalian kebakaran dapat mencapai hasil sesuai target dalam beberapa pekan. Puluhan ribu personel tetap dikerahkan untuk menjaga kemajuan yang telah dicapai, sementara perkembangan situasi terus menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah berikutnya. Pemerintah juga menempatkan percepatan penanganan sebagai prioritas agar kebakaran di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dapat segera ditangani secara menyeluruh.

Perkiraan waktu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah disampaikan Jumhur setelah melakukan koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Berdasarkan koordinasi tersebut, penanganan kebakaran ditargetkan dapat diselesaikan dalam beberapa pekan. Perkiraan itu menjadi gambaran mengenai rentang waktu yang diharapkan, dengan tetap mempertimbangkan perkembangan kondisi di lapangan.

Jumhur menjelaskan bahwa proyeksi penyelesaian dalam beberapa pekan dipengaruhi oleh intensitas kebakaran yang mulai menurun. Penurunan intensitas tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam memperkirakan waktu penanganan, meskipun upaya pengendalian tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan. Kondisi kebakaran yang berangsur lebih terkendali diharapkan dapat membantu petugas menyelesaikan penanganan di sejumlah wilayah terdampak.

Dalam keterangannya, Jumhur berharap kerja keras para petugas di lapangan dapat mempercepat berakhirnya penanganan karhutla. Ia juga menyampaikan harapan agar upaya tersebut disertai dukungan doa dari masyarakat. “Mudah-mudahan dengan kerja keras petugas di lapangan dan dukungan doa, penanganan karhutla dapat segera berakhir,” ujar Jumhur, sebagaimana dimaknai dari pernyataannya. Harapan itu menegaskan pentingnya ketekunan petugas selama proses penanganan berlangsung, sekaligus dukungan moral agar target yang diperkirakan setelah koordinasi dengan BNPB dapat tercapai dalam beberapa pekan.

Keterbatasan air masih menjadi salah satu kendala utama dalam penanganan kebakaran hutan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Pemadaman membutuhkan ketersediaan air yang memadai agar upaya di lapangan dapat dilakukan secara berulang dan berkesinambungan. Ketika pasokan air terbatas, waktu pelaksanaan pemadaman menjadi lebih sulit diatur, sementara titik api tetap memerlukan pemantauan serta penanganan yang konsisten.

Hambatan juga muncul dalam operasi pemadaman melalui udara dengan metode water bombing. Metode ini mengandalkan ketepatan waktu, koordinasi, dan ketersediaan air untuk menjatuhkan muatan ke area yang terbakar. Keterbatasan pada salah satu unsur tersebut dapat mengurangi efektivitas operasi. Karena itu, pemadaman dari udara belum dapat menjadi satu-satunya solusi untuk mempercepat penanganan seluruh area terdampak.

Intensitas api memang telah berkurang, tetapi kondisi tersebut tidak berarti proses pemadaman sepenuhnya mudah. Api yang melemah tetap perlu diawasi karena bara dan titik panas dapat bertahan atau kembali meningkat apabila tidak segera dikendalikan. Pemerintah dan petugas terkait masih harus menyesuaikan strategi berdasarkan perkembangan di lapangan, termasuk menentukan prioritas penanganan dan menjaga kesinambungan operasi.

Kendala air dan hambatan dalam pelaksanaan water bombing membuat target penanganan dalam beberapa pekan memerlukan kerja yang terukur serta koordinasi berkelanjutan. Setiap upaya harus dilakukan dengan memperhatikan efektivitas penggunaan sumber daya dan keselamatan personel. Dengan intensitas kebakaran yang menurun, peluang untuk mempercepat pemadaman tetap terbuka, namun hasil akhir masih bergantung pada kemampuan mengatasi keterbatasan tersebut secara konsisten.

Pemerintah mengapresiasi pihak-pihak yang menyatakan kesiapan untuk memberikan bantuan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan serta Kalimantan Tengah. Setiap bentuk dukungan dinilai penting, terutama ketika upaya pemadaman dan pengendalian dampak kebakaran masih membutuhkan koordinasi lintas pihak. Apresiasi tersebut disampaikan sebagai penghargaan atas perhatian dan kepedulian terhadap situasi di wilayah terdampak.

Meski demikian, bantuan tambahan akan dikaji terlebih dahulu berdasarkan efektivitas serta kebutuhan yang ditemukan di lapangan. Pemerintah perlu memastikan bahwa dukungan yang diberikan dapat digunakan secara tepat, tidak tumpang tindih dengan langkah yang telah berjalan, dan mampu memperkuat operasi penanganan kebakaran. Penilaian itu mencakup bentuk bantuan, waktu pelaksanaan, lokasi penyaluran, serta kesiapan sumber daya untuk mengoperasikannya.

Dukungan untuk operasi pemadaman dari udara juga akan menjadi bagian dari evaluasi tersebut. Penggunaan pesawat atau sarana udara lainnya akan dipertimbangkan dengan melihat kondisi kebakaran, akses menuju titik api, kebutuhan wilayah, serta hasil koordinasi dengan petugas yang bekerja di lapangan. Pertimbangan berbasis kebutuhan diperlukan agar tambahan bantuan benar-benar memberikan dampak terhadap kecepatan dan ketepatan penanganan.

Evaluasi dilakukan untuk memastikan seluruh bantuan yang diterima dapat mempercepat pengendalian kebakaran di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Pemerintah tetap membuka ruang bagi dukungan dari berbagai pihak, dengan pelaksanaannya disesuaikan dengan perkembangan situasi dan prioritas operasi. Jumhur menyampaikan keterangan tersebut seusai menghadiri acara Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta pada Selasa, 13 Oktober 2026.

Baca juga: Duka Relawan Kebakaran Hutan di Kalimantan Tengah | Kebakaran Hutan di Tiga Gunung Jawa Timur: Upaya Pemadaman oleh Helikopter | Tindakan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalimantan