Jakarta | PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengingatkan investor untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penipuan digital dan berbagai modus investasi ilegal. Peringatan ini disampaikan di tengah pertumbuhan jumlah investor ritel, terutama dari kalangan generasi muda, yang semakin mudah mengakses informasi serta melakukan transaksi pasar modal melalui platform digital.
Perluasan akses tersebut memberikan manfaat besar bagi inklusi keuangan, tetapi juga menciptakan ruang bagi pelaku kejahatan untuk menyebarkan penawaran investasi palsu. Modus yang digunakan dapat berupa akun media sosial, situs web, atau aplikasi yang mengatasnamakan perusahaan sekuritas, manajer investasi, bahkan lembaga resmi. Pelaku biasanya menawarkan keuntungan tinggi dalam waktu singkat, mendesak calon korban untuk segera menyetor dana, atau meminta data pribadi dan kode keamanan.
BEI menilai investor perlu memahami bahwa kemudahan berinvestasi harus diimbangi dengan kemampuan memeriksa legalitas dan kredibilitas pihak yang menawarkan produk keuangan. Setiap penawaran sebaiknya ditelusuri melalui kanal resmi regulator maupun perusahaan terkait. Investor juga perlu menghindari pemberian kata sandi, kode OTP, serta informasi rekening kepada pihak yang tidak dapat diverifikasi.
Penyampaian peringatan tersebut berlangsung dalam acara Ring the Bell for Financial Literacy 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian World Investor Week 2026, yang mengusung slogan “Invest in Your Future, Protect It Today”. Pesan tersebut menekankan pentingnya membangun masa depan keuangan melalui keputusan investasi yang terukur sekaligus melindungi aset dari risiko penipuan.
Dengan semakin banyaknya masyarakat yang masuk ke pasar modal, literasi dan perlindungan investor menjadi tanggung jawab bersama. Investor muda tidak hanya perlu mengenali peluang pertumbuhan aset, tetapi juga memahami karakteristik risiko, memastikan transaksi dilakukan melalui platform berizin, dan melaporkan indikasi penawaran mencurigakan kepada otoritas berwenang.
Direktur Keuangan, Sumber Daya Manusia, dan Umum Bursa Efek Indonesia (BEI), Umi Kulsum, menjelaskan bahwa World Investor Week 2026 menyoroti tiga isu utama yang perlu menjadi perhatian investor. Ketiga isu tersebut adalah ketahanan investor, penipuan digital, serta kewaspadaan terhadap berbagai modus investasi ilegal. Penjelasan itu disampaikan Umi Kulsum di Main Hall BEI, Jakarta, pada Rabu, 14 Oktober 2026, di tengah pertumbuhan jumlah investor muda dan semakin luasnya pemanfaatan teknologi dalam aktivitas investasi.
Menurut Umi Kulsum, ketahanan investor tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghadapi perubahan kondisi pasar, tetapi juga dengan kecakapan mengambil keputusan secara rasional. Investor perlu memahami informasi yang diterima sebelum menentukan pilihan investasi. Dalam konteks tersebut, ia menekankan pentingnya melakukan verifikasi dan tidak langsung mempercayai setiap informasi yang beredar. Langkah ini diperlukan karena informasi yang tampak meyakinkan belum tentu benar, lengkap, atau berasal dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Isu penipuan digital dan investasi ilegal juga menjadi perhatian karena pelaku dapat memanfaatkan berbagai saluran komunikasi untuk menjangkau calon korban. Tawaran keuntungan tinggi, ajakan yang mendesak, maupun informasi yang meminta tindakan segera perlu disikapi secara hati-hati. Umi Kulsum mengingatkan agar masyarakat memeriksa kebenaran informasi melalui sumber resmi serta meningkatkan kewaspadaan terhadap modus investasi ilegal. Selain itu, keamanan data pribadi harus dijaga di lingkungan digital. Investor tidak seharusnya membagikan data penting secara sembarangan, termasuk kepada pihak yang identitas dan tujuannya belum terverifikasi. Kewaspadaan, verifikasi informasi, dan perlindungan data menjadi bagian penting dalam membangun perilaku investasi yang aman.
Peringatan BEI mengenai penipuan digital semakin relevan seiring pertumbuhan investor pasar modal Indonesia. Jumlah investor telah melampaui 32 juta, dengan proporsi besar berasal dari generasi muda. Banyak di mereka mengenal investasi melalui aplikasi perdagangan, media sosial, kanal edukasi daring, serta berbagai komunitas digital. Akses yang mudah ini memperluas partisipasi, tetapi juga meningkatkan risiko terpapar tawaran investasi palsu dan informasi yang menyesatkan.
Kelompok investor muda cenderung aktif mencari referensi melalui platform digital yang bergerak cepat. Namun, tidak semua informasi yang beredar telah melalui proses verifikasi atau berasal dari sumber yang memiliki kewenangan. Konten promosi, testimoni pengguna, dan rekomendasi dari figur publik dapat membentuk keputusan investasi tanpa penjelasan memadai mengenai risiko, legalitas, maupun karakteristik produk. Kondisi tersebut membuat kemampuan untuk menilai kredibilitas informasi menjadi bagian penting dari perlindungan investor.
Melalui tema “Stay Smart, Stay Alert, and Stay Resilient”, BEI mengingatkan investor agar memahami produk yang hendak dibeli sebelum mengambil keputusan. Pemahaman itu mencakup cara kerja produk, potensi keuntungan, risiko kerugian, biaya, serta pihak yang mengelolanya. Investor juga perlu memeriksa legalitas penyelenggara dan menggunakan sumber resmi untuk memastikan bahwa informasi yang diterima tidak dipelintir atau dimanfaatkan oleh pelaku penipuan.
Sikap berarti tidak mudah percaya pada informasi yang beredar, terutama jika disertai janji keuntungan tidak wajar, desakan untuk segera mentransfer dana, atau permintaan data pribadi. Setiap klaim perlu dibandingkan dengan informasi dari BEI, OJK, perusahaan sekuritas, atau sumber resmi lainnya. Sementara itu, ketahanan investor dibangun melalui disiplin: menetapkan tujuan, menyesuaikan pilihan dengan profil risiko, menghindari keputusan emosional, dan menjalankan strategi secara konsisten. Dengan kebiasaan tersebut, pertumbuhan investor muda dapat berlangsung secara sehat sekaligus lebih terlindungi dari ancaman digital.
Perlindungan investor menjadi perhatian penting di tengah meningkatnya jumlah investor muda dan berkembangnya modus penipuan digital. Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkuat upaya tersebut melalui kolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), self-regulatory organizations (SRO), serta anggota bursa. Kerja sama ini diarahkan untuk memperluas edukasi pasar modal sekaligus meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap tawaran investasi yang tidak berizin, mengandung janji keuntungan tidak realistis, atau meminta data pribadi secara mencurigakan.
Edukasi tidak hanya diselenggarakan di pusat-pusat ekonomi, tetapi juga diperluas ke berbagai daerah di Indonesia. Pendekatan tersebut memungkinkan informasi mengenai cara mengenali legalitas perusahaan, memahami risiko, menjaga keamanan akun, dan mengambil keputusan investasi secara rasional menjangkau lebih banyak calon investor. BEI berharap masyarakat tidak sekadar tertarik berinvestasi, tetapi juga memiliki pengetahuan yang memadai untuk melindungi aset serta identitas digitalnya.
Setelah seremoni pembunyian bel, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan talkshow yang menghadirkan perencana keuangan Prita Ghozie bersama sejumlah konten kreator. Diskusi ini menjadi ruang untuk membahas tantangan pengelolaan keuangan dan investasi secara lebih dekat dengan karakter peserta, terutama generasi muda yang aktif memperoleh informasi melalui platform digital. Penyampaian materi yang komunikatif diharapkan membantu peserta membedakan informasi edukatif dari promosi yang berpotensi menyesatkan.
BEI berharap pembahasan tersebut memberikan bekal praktis yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Peserta diharapkan mampu memeriksa legalitas suatu penawaran, menilai risiko sebelum bertransaksi, dan tidak mudah membagikan informasi rahasia. Pengetahuan itu juga diharapkan diteruskan kepada keluarga dan kerabat, sehingga kesadaran perlindungan investor dapat tumbuh melalui lingkungan terdekat.
Kegiatan serupa berlangsung serentak di 62 bursa efek lain di seluruh dunia. Pelaksanaannya merupakan bagian dari kampanye global yang diinisiasi International Organization of Securities Commissions (IOSCO) sejak 2017, dengan tujuan memperkuat literasi, ketahanan, dan perlindungan investor di berbagai negara.
Baca juga: Kondisi Kualitas Udara Jakarta: Ancaman Kesehatan di Musim Kemarau | Meningkatnya Kapasitas Energi dan Digital di Indonesia | Jakarta dan Ancaman Gempa Megathrust






