JAKARTA – Suasana di kawasan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (10/6/2026), mendadak diwarnai aksi penyampaian pendapat dari sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nias Nusantara (GMN Nusantara). Dengan membawa spanduk, poster tuntutan, serta bendera organisasi, mereka menyuarakan desakan agar aparat penegak hukum segera menuntaskan kasus kematian Agnes Janche Zebua yang hingga kini dinilai belum menemukan titik terang.
Aksi yang berlangsung sejak siang hari itu dipimpin oleh Deseri Harefa selaku koordinator lapangan. Meski jumlah peserta tidak terlalu banyak, sekitar 14 orang, suara tuntutan yang mereka gaungkan terdengar lantang di depan kompleks parlemen.
Di bawah terik matahari Jakarta, para peserta aksi membentangkan poster bertuliskan “Justice for Agnes” serta sejumlah tulisan yang berisi tuntutan pengungkapan kasus dan evaluasi terhadap kinerja kepolisian di wilayah Nias. Mereka menilai penanganan perkara tersebut berjalan lamban dan belum mampu memberikan kepastian hukum kepada keluarga korban maupun masyarakat yang terus mengikuti perkembangannya.
Dalam orasinya, massa menyampaikan bahwa kematian Agnes Janche Zebua tidak boleh berlalu begitu saja tanpa adanya kejelasan proses hukum. Menurut mereka, berbagai upaya telah dilakukan untuk meminta penjelasan terkait perkembangan penyelidikan, namun hingga kini belum diperoleh jawaban yang dianggap memuaskan.
“Kasus ini harus dibuka secara terang-benderang. Jangan sampai keadilan hanya menjadi slogan. Kami datang membawa suara masyarakat yang menginginkan kepastian hukum,” ujar salah seorang orator dari atas mobil komando.
Sejumlah peserta aksi tampak bergantian menyampaikan pandangan mereka. Beberapa di antaranya menyoroti apa yang mereka anggap sebagai lambannya proses penanganan perkara. Mereka mengaku kecewa karena kasus yang menjadi perhatian publik tersebut belum juga menunjukkan perkembangan signifikan.
Selain meminta pengusutan menyeluruh terhadap kematian Agnes Janche Zebua, massa juga mendesak adanya evaluasi terhadap jajaran kepolisian yang menangani perkara tersebut. Mereka menilai perlu ada langkah tegas dari institusi terkait untuk memastikan proses hukum berjalan secara profesional dan transparan.
Tidak hanya itu, tuntutan lain yang disampaikan adalah permintaan kepada DPR RI agar memfasilitasi forum dengar pendapat guna membuka ruang pengawasan terhadap proses penegakan hukum yang sedang berlangsung. Menurut mereka, keterlibatan lembaga legislatif diperlukan agar persoalan tersebut mendapatkan perhatian lebih luas.
Orasi demi orasi terus bergema di depan gedung parlemen. Massa menyebut kasus kematian Agnes telah menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat Nias. Mereka mengaku khawatir apabila perkara tersebut tidak ditangani secara terbuka akan memunculkan spekulasi yang semakin berkembang di ruang publik.
Dalam beberapa kesempatan, para peserta aksi juga mengkritik kinerja aparat penegak hukum yang dinilai belum mampu memberikan rasa keadilan bagi keluarga korban. Kritik tersebut disampaikan secara terbuka melalui pengeras suara yang terpasang di mobil komando.
Menurut massa aksi, masyarakat membutuhkan kepastian mengenai hasil penyelidikan yang selama ini ditunggu-tunggu. Mereka berharap aparat dapat segera menyampaikan perkembangan secara resmi sehingga tidak menimbulkan berbagai asumsi maupun dugaan liar di tengah publik.
Aksi berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan. Petugas terlihat berjaga di sejumlah titik untuk memastikan kegiatan penyampaian pendapat berjalan tertib. Selama berlangsungnya aksi, arus aktivitas di sekitar lokasi tetap terkendali dan tidak terjadi gangguan berarti.
Sekitar pukul 15.00 WIB, massa kemudian bergerak menuju Gerbang Pancasila yang berada di bagian belakang kompleks DPR RI. Perpindahan lokasi tersebut dilakukan untuk melanjutkan penyampaian aspirasi sekaligus menarik perhatian para pemangku kebijakan yang berada di lingkungan parlemen.
Meski sempat diwarnai orasi yang bernada keras dan penuh kritik, keseluruhan kegiatan berlangsung tanpa insiden. Tidak terlihat adanya tindakan anarkis maupun bentrokan selama aksi berlangsung. Para peserta tetap menyampaikan tuntutan mereka dalam koridor unjuk rasa yang damai.
Hingga menjelang sore, semangat para mahasiswa tidak surut. Mereka menegaskan akan terus mengawal perkembangan kasus kematian Agnes Janche Zebua sampai memperoleh kejelasan hukum yang mereka harapkan. Bagi mereka, perjuangan tersebut bukan hanya menyangkut satu individu, melainkan juga menyangkut rasa keadilan yang harus ditegakkan bagi seluruh masyarakat.
Sekitar pukul 15.50 WIB, aksi akhirnya berakhir. Massa secara tertib membubarkan diri setelah menyampaikan seluruh tuntutan yang telah disiapkan. Meski demikian, mereka memastikan bahwa gerakan pengawalan terhadap kasus tersebut akan terus berlanjut melalui berbagai langkah yang dianggap sesuai dengan ketentuan hukum dan mekanisme demokrasi.
Berakhirnya aksi di depan Gedung DPR/MPR RI bukan berarti berakhir pula sorotan terhadap kasus kematian Agnes Janche Zebua. Justru dari pusat ibu kota, suara mahasiswa Nias itu kembali mengingatkan bahwa masih ada pertanyaan yang menunggu jawaban dan masih ada harapan masyarakat yang menantikan kepastian dari proses hukum yang sedang berjalan.














Response (1)