TULUNGAGUNG β Suara klakson panjang dari kendaraan besar terdengar berulang kali di Perempatan Sukoanyar, Kecamatan Pakel, Kamis siang. Di tengah cuaca yang cukup terik, kendaraan dari berbagai arah bergerak nyaris tanpa jeda. Truk pengangkut material, bus antarkota, kendaraan niaga hingga sepeda motor saling berbagi ruang di persimpangan yang belakangan menjadi perhatian banyak pihak.
Beberapa pengendara tampak memilih mengurangi kecepatan jauh sebelum memasuki area perempatan. Sebagian lainnya bahkan berhenti cukup lama untuk memastikan kondisi benar-benar aman sebelum melintas. Situasi tersebut kini menjadi pemandangan sehari-hari sejak jalur tersebut menanggung beban kendaraan yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya.
Perempatan Sukoanyar saat ini tidak lagi sekadar menjadi titik pertemuan beberapa ruas jalan. Kawasan itu berubah menjadi salah satu simpul lalu lintas terpadat di wilayah selatan Kabupaten Tulungagung setelah adanya pengalihan arus kendaraan akibat penutupan jalur Gondang.
Dampaknya langsung terasa di lapangan. Kendaraan yang sebelumnya melintas melalui jalur lama kini dialihkan menuju ruas BandungβCampurdarat dan kemudian melewati kawasan Sukoanyar. Akibatnya, volume kendaraan meningkat tajam dalam waktu relatif singkat.
Lonjakan arus lalu lintas tersebut ternyata tidak diikuti dengan penambahan fasilitas pengamanan yang memadai. Hingga kini belum terdapat lampu pengatur lalu lintas yang berfungsi mengendalikan kendaraan dari empat arah persimpangan. Padahal intensitas kendaraan yang melintas terus bertambah setiap harinya.
Ketika kendaraan besar datang secara bersamaan dari beberapa arah, situasi lalu lintas sering kali berubah menjadi rumit. Pengendara harus mengambil keputusan sendiri kapan harus melaju, berhenti, atau menyeberang. Dalam kondisi ramai, kesalahan kecil saja dapat berujung pada kecelakaan.
Kondisi itulah yang kini menjadi kekhawatiran utama masyarakat. Dalam kurun sepekan terakhir, sedikitnya empat orang dilaporkan meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas yang terjadi di kawasan Perempatan Sukoanyar.
Rentetan kejadian tersebut membuat warga mulai mempertanyakan tingkat keselamatan jalur yang kini menjadi rute alternatif utama kendaraan dari berbagai daerah. Banyak yang menilai jumlah korban dalam waktu sesingkat itu seharusnya menjadi alarm bagi seluruh pihak terkait.
Menurut sejumlah warga sekitar, lalu lintas di kawasan tersebut mengalami perubahan drastis sejak jalur pengalihan diberlakukan. Jika sebelumnya kendaraan berat hanya sesekali terlihat, kini truk dan bus besar hampir tidak pernah berhenti melintas.
Pada pagi hari ketika aktivitas masyarakat dimulai, kendaraan dari arah Campurdarat dan Bandung mulai memenuhi jalan. Menjelang siang, volume kendaraan semakin meningkat. Memasuki sore hari, kepadatan kembali terjadi ketika arus kendaraan dari berbagai wilayah bertemu di titik yang sama.
Dalam kondisi tertentu, antrean kendaraan dapat terbentuk cukup panjang. Pengendara sepeda motor menjadi kelompok yang paling sering terlihat berhati-hati karena harus berbagi ruang dengan kendaraan yang memiliki dimensi jauh lebih besar.
Warga mengaku beberapa kali menyaksikan situasi yang nyaris berujung kecelakaan. Kendaraan yang datang dari arah berbeda sering kali bertemu pada waktu bersamaan di tengah persimpangan. Tanpa sistem pengaturan yang jelas, masing-masing pengendara berusaha mencari kesempatan melintas terlebih dahulu.
Di tengah kondisi tersebut, kehadiran petugas pengatur lalu lintas dinilai masih belum maksimal. Pada jam-jam tertentu, masyarakat berharap ada personel yang dapat membantu mengendalikan arus kendaraan sehingga risiko kecelakaan dapat ditekan.
Sorotan terhadap kondisi Perempatan Sukoanyar turut disampaikan pengasuh pondok pesantren sekaligus pengamat sosial Tulungagung, KH Toha Maksum atau Gus Maksum. Ia menilai persoalan tersebut tidak boleh dipandang sebagai kejadian biasa karena sudah menyangkut keselamatan masyarakat luas.
Menurut Gus Maksum, meningkatnya jumlah korban jiwa dalam waktu singkat menunjukkan bahwa kawasan tersebut membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah dan aparat terkait. Ia menilai langkah antisipasi harus dilakukan sesegera mungkin sebelum muncul korban berikutnya.
“Kalau sudah berulang kali terjadi kecelakaan dan sampai menimbulkan korban meninggal dunia, maka harus ada tindakan nyata. Jangan menunggu lebih banyak korban jatuh,” ujarnya.
Ia secara khusus mendorong Dinas Perhubungan serta satuan lalu lintas kepolisian untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi persimpangan tersebut. Menurutnya, pemasangan lampu lalu lintas merupakan salah satu solusi yang perlu diprioritaskan.
Keberadaan traffic light dinilai mampu memberikan kepastian bagi pengguna jalan mengenai giliran melintas dari masing-masing arah. Dengan demikian, potensi konflik kendaraan di tengah persimpangan dapat diminimalkan.
Selain lampu lalu lintas, Gus Maksum juga menilai perlunya penempatan petugas secara berkala, terutama pada jam-jam rawan ketika arus kendaraan sedang tinggi. Kehadiran petugas tidak hanya berfungsi mengatur lalu lintas, tetapi juga memberikan rasa aman kepada masyarakat.
Pandangan serupa disampaikan sejumlah pengguna jalan yang ditemui di sekitar lokasi. Mereka berharap ada langkah cepat yang dapat dirasakan langsung di lapangan, bukan sekadar pembahasan atau rencana yang membutuhkan waktu terlalu lama.
Bagi para pengendara, persoalan utama bukan hanya kepadatan lalu lintas. Mereka lebih khawatir terhadap potensi kecelakaan yang sewaktu-waktu dapat terjadi akibat kondisi persimpangan yang semakin sibuk.
Sejumlah warga bahkan mulai mengingatkan anggota keluarganya untuk lebih berhati-hati ketika melintas di kawasan tersebut. Mereka meminta pengendara mengurangi kecepatan dan tidak memaksakan diri menerobos arus kendaraan yang padat.
Di sisi lain, aktivitas ekonomi masyarakat tetap bergantung pada kelancaran jalur tersebut. Banyak pedagang, pekerja, pelajar, hingga sopir angkutan yang setiap hari harus melewati Perempatan Sukoanyar. Karena itu, kebutuhan akan sistem lalu lintas yang aman menjadi semakin mendesak.
Pengamat transportasi umumnya menilai bahwa perubahan fungsi sebuah jalur akibat pengalihan kendaraan harus diikuti langkah mitigasi yang memadai. Ketika volume kendaraan meningkat secara signifikan, fasilitas keselamatan juga perlu ditingkatkan agar mampu mengimbangi perubahan tersebut.
Apabila tidak dilakukan penyesuaian, maka titik-titik persimpangan berpotensi menjadi lokasi dengan tingkat kerawanan tinggi. Kondisi itulah yang saat ini dikhawatirkan sedang terjadi di Perempatan Sukoanyar.
Empat korban jiwa dalam sepekan menjadi fakta yang sulit diabaikan. Angka tersebut tidak hanya menunjukkan adanya persoalan lalu lintas, tetapi juga menjadi pengingat bahwa keselamatan pengguna jalan harus ditempatkan di atas segala pertimbangan lainnya.
Hingga saat ini, kendaraan masih terus melintas padat dari berbagai arah. Truk-truk besar tetap mendominasi jalan, sementara pengendara roda dua berusaha mencari ruang aman untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Di tengah kesibukan lalu lintas yang tak pernah benar-benar sepi itu, harapan masyarakat terdengar sederhana. Mereka ingin melihat langkah nyata dari pihak berwenang sebelum kabar duka berikutnya kembali datang dari persimpangan yang kini dikenal sebagai salah satu titik paling rawan di Kabupaten Tulungagung.













