Siswa di Distrik Prafi Dibekali Peran sebagai Konselor Sebaya

Siswa di Distrik Prafi Dibekali Peran sebagai Konselor Sebaya

Kabupaten Manokwari | Tim 4 Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga memberikan pelatihan konselor sebaya kepada siswa di tiga sekolah di Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Kegiatan ini dirancang untuk membekali remaja dengan pengetahuan dan keterampilan dasar dalam membantu teman sebaya yang menghadapi persoalan, baik dalam kehidupan sekolah maupun lingkungan pergaulan.

Konselor sebaya merupakan siswa yang mendapat pembekalan untuk mengenali tanda-tanda permasalahan pada temannya, membangun pendekatan yang tepat, serta menyediakan ruang untuk mendengarkan. Peran tersebut tidak berarti menggantikan guru, tenaga kesehatan, atau pihak yang memiliki kewenangan dalam penanganan masalah. Sebaliknya, konselor sebaya menjadi penghubung awal yang dapat mendorong teman untuk menyampaikan persoalan kepada guru atau puskesmas apabila membutuhkan pendampingan lebih lanjut.

Pelatihan ini menyasar remaja di kawasan transmigrasi. Dalam proses pendampingan, Tim 4 menemukan adanya kecenderungan kurang percaya diri di kalangan remaja tersebut. Kondisi itu menjadi salah satu alasan penting untuk menghadirkan kegiatan yang mendorong keberanian berkomunikasi, kepedulian terhadap sesama, dan kemampuan mengambil peran secara positif di lingkungan sekitar.

Melalui pembekalan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya mampu memahami persoalan yang dialami teman, tetapi juga dapat meresponsnya dengan empati dan tanggung jawab. Pendekatan berbasis teman sebaya dinilai relevan karena remaja umumnya lebih mudah membuka percakapan dengan orang yang memiliki usia dan pengalaman keseharian yang berdekatan. Meski demikian, setiap persoalan tetap perlu diarahkan kepada guru atau puskesmas ketika memerlukan bantuan profesional.

Program ini memiliki tujuan jangka panjang untuk mendorong generasi muda di Prafi agar tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri, kreatif, dan mampu berkontribusi dalam pembangunan wilayahnya sendiri. Dengan keterampilan sosial serta kepedulian yang dibangun sejak sekolah, para siswa diharapkan dapat menjadi bagian dari perubahan positif di komunitas mereka.

Sadiqah Adzana Islami, siswa kelas 9C SMP Negeri 8 Prafi, merasakan manfaat dari pelatihan konselor sebaya yang diikutinya. Melalui kegiatan tersebut, ia memperoleh pemahaman mengenai pentingnya mengenali emosi, baik emosi diri sendiri maupun emosi yang tampak dalam interaksi dengan orang lain. Pengetahuan ini menjadi bekal bagi Sadiqah untuk menjalankan perannya sebagai kader konselor sebaya di lingkungan sekolah.

Materi pelatihan juga mengajarkan kebiasaan untuk berpikir sebelum bertindak. Bagi Sadiqah, kemampuan tersebut penting agar seseorang tidak terburu-buru mengambil keputusan ketika sedang menghadapi persoalan atau merasakan emosi yang kuat. Dengan mengenali perasaan dan mempertimbangkan dampak dari tindakan, remaja diharapkan dapat merespons masalah secara lebih tenang dan bertanggung jawab.

Pengalaman mengikuti pelatihan membuat Sadiqah merasa siap menjalankan tanggung jawab barunya. “Saya merasa siap untuk menjalankan peran sebagai konselor sebaya,” ujarnya. Ia berharap para remaja di Distrik Prafi dapat belajar mengendalikan emosi serta membiasakan diri mempertimbangkan tindakan sebelum melakukannya. Menurutnya, kebiasaan tersebut diperlukan agar remaja mampu menghadapi berbagai situasi dengan pertimbangan yang lebih baik.

Untuk mendukung peran tersebut, Sadiqah berencana menyusun program bersama teman-temannya. Rencana itu akan dibahas secara bersama agar kader konselor sebaya dapat berkontribusi dalam membantu teman-teman di sekolah. Ia ingin pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan tidak berhenti pada dirinya, tetapi dapat dibagikan melalui kerja sama dengan sesama siswa. Dengan kesiapan tersebut, Sadiqah menjadi salah satu siswa yang diharapkan mampu mendorong terciptanya lingkungan pergaulan yang lebih peduli, terbuka, dan mendukung pengelolaan emosi secara sehat di kalangan remaja Prafi.

Riyanto, guru SMP Negeri 8 Prafi, menilai pelatihan konselor sebaya memberikan manfaat nyata bagi sekolah dalam menghadapi berbagai tantangan pergaulan remaja. Ia mengapresiasi kunjungan Tim Ekspedisi Patriot yang membawa kegiatan pembinaan langsung kepada siswa. Menurutnya, program tersebut tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membuka ruang bagi peserta untuk belajar memahami persoalan teman sebaya secara lebih peka, tenang, dan bertanggung jawab.

Dalam pelatihan, siswa dibekali keterampilan untuk mengenali tanda-tanda teman yang sedang membutuhkan bantuan. Mereka juga belajar cara mendekati teman secara tepat, membangun percakapan yang nyaman, serta memberikan dukungan tanpa menghakimi. Selain itu, materi diarahkan untuk memperkuat rasa percaya diri dan kemampuan berpikir kritis. Keterampilan tersebut dinilai penting karena siswa sering kali menjadi orang pertama yang mengetahui perubahan perilaku, tekanan, atau kesulitan yang dialami teman di lingkungan sekolah.

Riyanto menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan dalam kegiatan itu mengutamakan bahasa positif dan tidak berfokus pada larangan. Siswa didorong memahami alasan di balik perilaku yang sehat serta mempertimbangkan dampak dari setiap keputusan. Dengan pendekatan tersebut, perubahan diharapkan tumbuh dari kesadaran pribadi, bukan semata-mata karena takut dimarahi atau menerima hukuman. Pola pembinaan ini juga membantu menciptakan suasana sekolah yang lebih terbuka untuk membicarakan masalah.

Setelah pelatihan berlangsung, tiga sekolah membentuk organisasi konselor sebaya di lingkungan masing-masing. Setiap organisasi memiliki guru pendamping yang bertugas mengarahkan kegiatan, memberikan supervisi, dan membantu siswa ketika menghadapi persoalan yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Para peserta awal kemudian mulai melatih siswa lain yang belum mengikuti kegiatan. Langkah berkelanjutan ini memperluas manfaat program sekaligus memperkuat sistem pendampingan, sehingga semakin banyak siswa memiliki akses terhadap dukungan yang aman, positif, dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Kelanjutan program di Distrik Prafi dijadwalkan melalui sosialisasi kepada orang tua pada pekan berikutnya. Kegiatan ini menjadi ruang untuk menjelaskan peran siswa sebagai konselor sebaya sekaligus membangun pemahaman bersama mengenai dukungan yang dapat diberikan keluarga. Dengan demikian, perhatian terhadap pendampingan anak di rumah dan pelaksanaan pembinaan di sekolah dapat berjalan seiring, sesuai dengan tahapan program yang telah disiapkan.

Langkah tersebut juga berkaitan dengan perhatian pemerintah terhadap penguatan karakter, keteguhan hati, kesopanan, dan ketahanan mental anak-anak Indonesia. Saat meninjau Sekolah Rakyat di Tabanan, Bali, pada 7 Juni 2026, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pesan agar anak-anak tetap teguh serta menghadapi ejekan dengan sopan santun. Pesan itu menempatkan pembentukan sikap dan kemampuan menghadapi tekanan sebagai bagian penting dalam pendampingan generasi muda.

Harapan serupa disampaikan Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono dalam Patriot Move 2026 di Jakarta pada 17 Mei 2026. Ia menyatakan bahwa generasi muda diharapkan berada di garis depan, karena Indonesia membutuhkan tenaga dan pemikiran terbaik. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya ruang bagi anak muda untuk berkembang, berkontribusi, dan belajar mengambil peran secara bertanggung jawab, termasuk melalui dukungan teman sebaya.

Dalam mengaitkan program ini dengan agenda penguatan karakter, keterangan mengenai Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara perlu disampaikan secara hati-hati. Bahan sumber yang tersedia berakhir sebelum pesan beliau lengkap, sehingga pernyataannya tidak dapat dilengkapi atau ditafsirkan melampaui informasi yang tercatat. Sosialisasi kepada orang tua tetap menjadi langkah berikutnya yang disebutkan dalam program, tanpa menarik kesimpulan mengenai dampak yang belum dinyatakan sumber.