Lima Wilayah Aceh Jadi Fokus Percepatan Pemulihan Sungai dan Tanggul

Lima Wilayah Aceh Jadi Fokus Percepatan Pemulihan Sungai dan Tanggul

Kabupaten Perbaikan | Kementerian Pekerjaan Umum mempercepat perbaikan tanggul dan normalisasi sungai di sejumlah kawasan Aceh yang terdampak longsor serta banjir bandang. Upaya ini diarahkan pada lima wilayah sasaran, yaitu Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Utara, Nagan Raya, dan Pidie Jaya. Pekerjaan tersebut menjadi bagian dari penanganan pascabencana untuk memulihkan fungsi infrastruktur sumber daya air sekaligus membantu mengurangi dampak yang dirasakan masyarakat. Percepatan dilakukan dengan memperhatikan kondisi di lapangan dan kebutuhan tiap kawasan, terutama pada sungai dan tanggul yang terdampak.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menyatakan bahwa penanganan bencana harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Prinsip tersebut, katanya, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar langkah pemerintah berorientasi pada kebutuhan warga. Karena itu, pekerjaan tidak hanya ditujukan untuk mengembalikan kondisi seperti sebelum bencana, tetapi juga untuk memperkuat ketahanan infrastruktur agar lebih mampu menghadapi risiko ke depan. Perbaikan tanggul dan penataan aliran sungai diharapkan mendukung perlindungan kawasan serta kelancaran aktivitas warga, tanpa mengabaikan penanganan segera atas kerusakan yang terjadi.

Pada Sabtu, 7 November 2026, Dody menyampaikan bahwa pekerjaan penanganan masih berlanjut. Jajaran sumber daya air, menurut dia, terus membersihkan sungai dan muara agar aliran air dapat bergerak lebih lancar. Pembersihan tersebut juga ditujukan untuk mengurangi risiko banjir susulan, terutama ketika debit air meningkat. Kegiatan di lima wilayah sasaran mencakup penanganan bagian sungai dan tanggul yang memerlukan pemulihan, dengan pelaksanaan mengikuti kondisi setempat. Pemerintah melanjutkan pekerjaan ini sebagai upaya pemulihan sekaligus penguatan infrastruktur, sehingga penanganan pascabencana dapat memberi manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Aceh yang terdampak.

Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera I, Asyari, menjelaskan bahwa kesiapsiagaan dan respons cepat terus ditingkatkan untuk menghadapi potensi banjir di kabupaten dan kota di Aceh. Penanganan dilakukan dengan mempercepat pekerjaan pada sungai serta tanggul yang dinilai membutuhkan perhatian, terutama setelah banjir memicu gangguan dan meningkatkan risiko luapan. Langkah ini ditujukan untuk mengurangi dampak bencana, melindungi masyarakat, dan menjaga aktivitas warga tetap berjalan. Upaya tersebut juga menjadi bagian dari pembangunan infrastruktur sumber daya air yang lebih tangguh dan berkelanjutan, sehingga kawasan terdampak memiliki perlindungan lebih baik menghadapi aliran air berdebit tinggi.

Di Aceh Tenggara, hingga 4 November 2026, satu unit excavator dikerahkan untuk menormalisasi alur dan memperkuat tanggul pada Sungai Lawe Bulan dan Lawe Kihing di Desa Kuning I. Pekerjaan ini dimaksudkan untuk membantu mengendalikan aliran serta mencegah luapan susulan yang dapat mengancam wilayah sekitar. Penanganan mencakup pengerukan sedimen yang menghambat kapasitas sungai dan perapian alur agar air dapat mengalir lebih lancar. Di Pinding, Kecamatan Bambel, pengerukan sedimen dan perapian alur juga dilaksanakan sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko banjir. Dengan aliran dari hulu yang dapat mencapai kawasan tersebut, pekerjaan ini diharapkan mengurangi ancaman terhadap lahan pertanian dan permukiman warga, sekaligus mendukung pemulihan kondisi sungai setelah banjir.

Penanganan berikutnya berlangsung di Kabupaten Gayo Lues pada 3–4 November 2026. Satu excavator bekerja menormalisasi alur dan memperbaiki tanggul Sungai Pangur yang melintasi Desa Badak, Kecamatan Dabun Gelang. Banjir sebelumnya sempat memutus akses antar-desa, sehingga pemulihan sungai menjadi penting untuk menekan risiko gangguan serupa dan membantu menjaga konektivitas masyarakat. Normalisasi dan perbaikan tanggul diarahkan agar aliran sungai lebih terkendali serta struktur pelindung kembali berfungsi. Menurut Asyari, pekerjaan lapangan yang dilakukan secara cepat dan terarah merupakan bagian dari kesiapsiagaan menghadapi banjir, bukan hanya respons terhadap dampak yang telah terjadi. Koordinasi dan pemantauan kondisi sungai tetap diperlukan agar kebutuhan penanganan dapat dikenali sejak dini. Dengan demikian, perlindungan warga dan infrastruktur dapat diperkuat secara bertahap di wilayah rawan.

Di Aceh Utara, pekerjaan pemulihan diarahkan untuk menangani dampak luapan Sungai Peuto serta kerusakan infrastruktur pintu air. Kedua persoalan tersebut menjadi perhatian karena sebelumnya air meluap hingga merendam rumah warga dan badan jalan pada ruas Lhoksukon–Cot Girek. Dengan demikian, penanganan di wilayah ini mencakup perhatian terhadap aliran sungai dan saluran pembuangan, sekaligus kondisi infrastruktur pintu air yang terdampak. Fokus tersebut merupakan bagian dari upaya percepatan pemulihan sungai dan tanggul di sejumlah wilayah Aceh.

Luapan Sungai Peuto memberi gambaran mengenai persoalan yang perlu ditangani di Aceh Utara. Rumah warga dan badan jalan Lhoksukon–Cot Girek sebelumnya terendam, sementara infrastruktur pintu air mengalami kerusakan. Informasi mengenai kondisi ini menjadi konteks bagi pekerjaan yang diarahkan pada penanganan saluran pembuangan. Dalam kegiatan di lapangan, perhatian juga diberikan pada saluran di Syamtalira Aron. Penempatan alat berat di lokasi tersebut disebut sebagai langkah untuk mendukung pembersihan dan normalisasi saluran, bukan sebagai keterangan bahwa pekerjaan telah selesai atau seluruh dampak telah teratasi.

Pada 3–4 November 2026, tim satuan tugas menempatkan satu unit alat berat di Syamtalira Aron. Alat tersebut digunakan untuk membersihkan dan menormalisasi saluran pembuangan. Kegiatan ini menjadi bagian dari penanganan yang dipusatkan pada aliran pembuangan di kawasan tersebut, sejalan dengan kebutuhan untuk menangani dampak luapan Sungai Peuto dan kerusakan pintu air di Aceh Utara. Keterangan yang tersedia mencatat jenis pekerjaan, lokasi, waktu pelaksanaan, serta jumlah alat berat yang ditempatkan. Tidak disebutkan hasil akhir pekerjaan maupun perubahan kondisi setelah kegiatan berlangsung. Karena itu, uraian penanganan ini terbatas pada langkah yang dilakukan tim satuan tugas, tanpa menyimpulkan bahwa rumah warga, badan jalan, atau infrastruktur pintu air telah pulih.

Di Kabupaten Nagan Raya, pekerjaan pemulihan diarahkan untuk mengantisipasi abrasi tebing sungai yang semakin mendekati kawasan permukiman di Desa Pulo Raga dan Desa Krueng Cut, Kecamatan Beutong. Kondisi tersebut membuat penanganan tanggul dan alur sungai menjadi penting agar risiko terhadap warga dapat ditekan. Pada 3 dan 4 November 2026, excavator dikerahkan untuk membangun tanggul darurat sekaligus menormalisasi alur Krueng Seunagan di Desa Krueng Cut. Pekerjaan ini mencakup penataan alur sungai dan penguatan perlindungan sementara pada bagian tebing yang memerlukan penanganan.

Lokasi pekerjaan di Desa Krueng Cut berbatasan dengan jalur lintas Meulaboh–Beutong, sehingga upaya pemulihan juga berkaitan dengan perlindungan lingkungan di sekitar akses tersebut. Pembangunan tanggul darurat ditujukan untuk menghadapi ancaman abrasi, sementara normalisasi alur dilakukan sebagai bagian dari penataan sungai. Kedua pekerjaan itu dilaksanakan dengan dukungan alat berat agar penanganan dapat berlangsung di lapangan. Dengan berfokus pada titik yang mendekati permukiman, kegiatan ini membantu mempercepat respons terhadap kondisi tebing sungai di wilayah Beutong.

Pada tanggal yang sama, pekerjaan juga berlangsung di Kabupaten Pidie Jaya. Dua excavator bekerja secara bersamaan di Desa Dayah Husen, Kecamatan Meurah Dua, untuk mempercepat perbaikan tanggul jebol dan merapikan alur Krueng Meureudu. Kerusakan tersebut terjadi setelah banjir luapan pada akhir Oktober. Banjir itu sempat melumpuhkan jalan nasional Banda Aceh–Medan, sehingga pemulihan tanggul dan sungai menjadi perhatian penting setelah kejadian tersebut. Penanganan dilakukan melalui perbaikan bagian tanggul yang jebol serta penataan kembali alur sungai. Penggunaan dua alat berat secara bersamaan mendukung percepatan pekerjaan pada lokasi terdampak. Di Nagan Raya maupun Pidie Jaya, kegiatan ini mencakup langkah darurat dan perbaikan fisik untuk memulihkan kondisi sungai serta mengurangi dampak kerusakan terhadap kawasan sekitar.

Baca juga: Jaga Kebersihan Lingkungan, Babinsa Bersama Instansi di Wilayah Kompak Lakukan gotong royong | Pemerintah Siapkan Skema Pemulihan bagi Warga Binaan Kasus Narkotika | Panglima TNI Dorong Brigif TP dan Yon TP Optimalkan Potensi Wilayah

12 kunjungan