Kabupaten Seruyan | Tim gabungan berhasil mengevakuasi jenazah Sertu (Anumerta) Heri Prasetyo, korban terakhir dalam kecelakaan helikopter Mi-17V5 TNI AD bernomor registrasi HA-5235. Evakuasi tersebut berlangsung pada Jumat (6/11), setelah upaya pencarian dan penanganan korban dilakukan di wilayah Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Jenazah Heri ditemukan di perairan, dan proses evakuasinya menjadi bagian dari operasi untuk memastikan seluruh korban kecelakaan dapat ditemukan serta dievakuasi. Dengan ditemukannya korban terakhir ini, tahapan pencarian yang berkaitan dengan korban dinyatakan tuntas.
Lokasi evakuasi berada di perairan Desa Pematang Limau/Sungai Perlu, Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan. Wilayah perairan tersebut menjadi titik penting dalam operasi karena jenazah Sertu Heri berada di sana. Tim gabungan melaksanakan evakuasi pada Jumat, 6 November, dengan membawa jenazah dari lokasi penemuan. Informasi mengenai tempat dan waktu evakuasi menegaskan bahwa proses penanganan berlangsung di kawasan Seruyan, tempat kecelakaan helikopter Mi-17V5 HA-5235 terjadi. Setelah jenazah berhasil dievakuasi, tidak ada lagi korban yang belum ditemukan dalam peristiwa tersebut.
Keberhasilan mengevakuasi Sertu (Anumerta) Heri Prasetyo melengkapi rangkaian pencarian terhadap para korban kecelakaan. Sebelumnya, tim gabungan telah melakukan upaya untuk menemukan dan mengevakuasi korban lain dari insiden helikopter TNI AD itu. Dengan evakuasi terakhir ini, seluruh korban kecelakaan Mi-17V5 bernomor registrasi HA-5235 telah berhasil ditemukan dan dievakuasi. Kepastian tersebut menjadi perkembangan penting dalam penanganan peristiwa di Kabupaten Seruyan, sekaligus menandai berakhirnya pencarian korban yang masih hilang. Seluruh korban kini telah tercakup dalam proses evakuasi yang dilaksanakan oleh tim gabungan.
Operasi evakuasi korban terakhir kecelakaan helikopter TNI AD di Seruyan melibatkan berbagai unsur, yakni personel TNI, Polri, Basarnas, BNPB, pemerintah daerah, serta masyarakat. Keterlibatan banyak pihak tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk menuntaskan proses evakuasi di lokasi kejadian. Setiap unsur hadir dalam operasi yang dipimpin Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen Zainul Arifin.
Dalam kegiatan tersebut, Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran turut mendampingi proses evakuasi. Hadir pula Kapolda Kalimantan Tengah Irjen Pol. Iwan Kurniawan, Danrem 102/Pjg Brigjen TNI Wimoko, serta perwakilan BNPB Brigjen TNI Asep. Kehadiran para pejabat itu berlangsung bersama unsur yang terlibat di lapangan, tanpa mengubah bahwa operasi dipimpin oleh Pangdam XXII/Tambun Bungai.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat Brigjen Donny Pramono memberikan keterangan mengenai upaya tim dalam proses tersebut. Keterangan itu menyoroti kerja tim yang terlibat dalam operasi evakuasi korban terakhir. Informasi yang disampaikan menegaskan adanya keterlibatan lintas unsur dalam penanganan di Seruyan, termasuk personel TNI dan Polri, Basarnas, BNPB, pemerintah daerah, serta masyarakat.
Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa proses evakuasi tidak hanya melibatkan satu institusi. Berbagai pihak berada dalam rangkaian operasi yang sama, dengan kepemimpinan di lapangan berada pada Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen Zainul Arifin. Sejumlah pejabat daerah, kepolisian, TNI, dan perwakilan BNPB turut mendampingi, sementara masyarakat juga tercatat sebagai bagian dari unsur yang terlibat.
Dengan dievakuasinya korban terakhir, operasi terkait kecelakaan helikopter TNI AD di Seruyan mencapai tahap penting. Upaya bersama seluruh unsur menjadi bagian dari proses tersebut. Keterangan Brigjen Donny Pramono mengenai kerja tim melengkapi informasi tentang pelaksanaan evakuasi, yang melibatkan lembaga dan pihak dari berbagai lingkup. Peristiwa ini memperlihatkan koordinasi lintas unsur dalam operasi kemanusiaan di wilayah Kalimantan Tengah, dengan para pejabat yang mendampingi serta tim gabungan yang berupaya menuntaskan evakuasi.
Proses evakuasi korban terakhir dari helikopter TNI AD di perairan Seruyan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi badan pesawat yang berada di dasar perairan. Sebelum penyelam dapat menjangkau bagian dalam helikopter, tim gabungan lebih dahulu berupaya membalikkan badan pesawat. Langkah ini diperlukan agar akses ke kabin terbuka dan proses pengangkatan korban dapat dilakukan. Untuk menggerakkan bangkai yang berada di bawah air, kapal tugboat digunakan untuk menarik badan helikopter hingga posisinya berubah. Upaya tersebut menjadi tahap awal sebelum penyelam melanjutkan evakuasi di lokasi kecelakaan. Seluruh tindakan dilakukan melalui koordinasi antarpersonel agar pergerakan bangkai tidak menghambat pekerjaan berikutnya.
Setelah badan helikopter berhasil dibalikkan, penyelam dapat menjangkau bagian dalam pesawat dan mengangkat korban. Namun, pekerjaan di bawah permukaan air berlangsung dalam kondisi yang sulit. Donny menyampaikan bahwa arus di sekitar lokasi cukup kuat, sementara air yang keruh dan berlumpur membatasi jarak pandang. Pencahayaan yang minim juga menyulitkan penyelam saat memeriksa bagian pesawat dan menjalankan proses evakuasi. Selain itu, terdapat tumpahan minyak di sekitar lokasi, yang menambah tantangan bagi tim. Gabungan hambatan tersebut menuntut kehati-hatian serta komunikasi yang terjaga selama setiap tahap pekerjaan, terutama ketika penyelam berada di dalam badan helikopter.
Berbagai kendala itu membuat proses evakuasi memerlukan pengaturan yang cermat penyelam, awak tugboat, dan unsur lain yang terlibat. Tim harus memastikan badan helikopter dapat ditarik dan diposisikan terlebih dahulu sebelum penyelam masuk, sekaligus memperhatikan keadaan perairan selama pekerjaan berlangsung. Menurut keterangan Donny, koordinasi dan kerja sama berbagai unsur menjadi faktor penting yang memungkinkan proses evakuasi diselesaikan dengan baik. Dukungan antartim membantu setiap tahapan berjalan secara terarah, mulai dari membalikkan badan pesawat hingga mengangkat korban. Dengan demikian, keberhasilan evakuasi tidak hanya bergantung pada kemampuan penyelam, tetapi juga pada kerja bersama di tengah kondisi perairan yang menantang.
Helikopter milik Penerbangan Angkatan Darat mengalami kecelakaan pada Rabu (4/11) saat menjalankan tugas penanganan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan Tengah. Pesawat tersebut dikerahkan untuk mendukung upaya pemadaman karhutla, yang membutuhkan koordinasi berbagai unsur di tengah kondisi lapangan yang menantang. Kecelakaan itu terjadi ketika misi kemanusiaan tersebut sedang berlangsung, sehingga operasi pencarian dan evakuasi segera menjadi perhatian personel TNI AD serta tim gabungan.
Insiden tersebut menimbulkan duka mendalam karena tiga prajurit TNI AD yang berada dalam helikopter dinyatakan gugur. Mereka adalah Letkol CPN (Anumerta) Dudi Firmansyah, Kapten CPN (Anumerta) Nurhafiz Akbar, dan Sertu (Anumerta) Heri Prasetyo. Ketiganya menjalankan tugas dalam operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan, yang bertujuan membantu penanganan bencana serta melindungi masyarakat dan lingkungan terdampak.
Setelah kecelakaan, pencarian dilakukan untuk menemukan seluruh korban di lokasi kejadian. Proses tersebut melibatkan unsur TNI AD bersama tim gabungan yang bekerja di lapangan, dengan dukungan masyarakat setempat. Medan dan kondisi kawasan yang menjadi lokasi insiden turut menuntut koordinasi serta kehati-hatian selama pencarian dan evakuasi. Setiap upaya diarahkan untuk memastikan korban dapat ditemukan dan ditangani dengan sebaik-baiknya.
Evakuasi korban menjadi bagian penting dari rangkaian penanganan kecelakaan. TNI AD menyampaikan penghormatan kepada para prajurit yang gugur ketika melaksanakan tugas, sekaligus memastikan proses pencarian terhadap korban terakhir terus dilakukan. Keberhasilan menemukan seluruh korban tidak mengurangi kesedihan atas kehilangan tersebut, tetapi menandai selesainya upaya pencarian yang melibatkan banyak pihak. Peristiwa ini juga mengingatkan bahwa operasi pemadaman karhutla dapat berlangsung dalam situasi yang berisiko, sehingga keselamatan personel dan koordinasi antartim menjadi perhatian penting.
TNI AD menyampaikan apresiasi kepada tim gabungan dan masyarakat setempat yang telah membantu pencarian serta evakuasi korban. Dukungan dan kerja sama berbagai pihak berperan dalam kelancaran proses di lapangan, terutama saat seluruh korban harus ditemukan dan dievakuasi.
18 kunjungan





