Surabaya | Kabar duka datang dari keluarga Alena, bayi perempuan yang meninggal dunia pada usia 28 hari setelah sempat menjalani perawatan di RSUD Dr Soetomo Surabaya. Alena sebelumnya berada dalam kondisi kritis dan memperoleh penanganan medis di rumah sakit tersebut. Kepergian bayi berusia kurang dari satu bulan itu disampaikan sebagai kabar wafatnya seorang anak yang sebelumnya tengah mendapat perawatan intensif.
Informasi mengenai meninggalnya Alena disampaikan melalui sebuah akun Threads yang mengaku sebagai tantenya. Unggahan tersebut menjadi sumber kabar awal tentang kondisi terakhir Alena, termasuk pemberitahuan bahwa bayi tersebut telah meninggal dunia. Keterangan dari akun itu kemudian menjadi perhatian publik karena dibagikan di tengah informasi mengenai perawatan Alena di RSUD Dr Soetomo Surabaya.
Pihak rumah sakit menyatakan bahwa Alena dinyatakan meninggal pada Minggu pagi sekitar pukul 07.10 WIB. Keterangan tersebut menegaskan waktu wafat Alena setelah sebelumnya sempat dirawat dalam kondisi kritis. Tidak terdapat informasi lain yang perlu ditambahkan di luar keterangan mengenai waktu meninggal dan perawatan yang telah dijalani di rumah sakit.
Dengan demikian, inti kabar yang beredar adalah meninggalnya Alena, bayi perempuan berusia 28 hari, setelah mendapatkan perawatan di RSUD Dr Soetomo Surabaya. Informasi itu berasal dari unggahan akun Threads yang mengaku sebagai tantenya, sementara waktu kematian disampaikan oleh rumah sakit pada Minggu pagi sekitar pukul 07.10 WIB. Kabar ini memuat perkembangan terakhir mengenai kondisi Alena setelah sebelumnya menjalani perawatan dalam keadaan kritis.
Sebelum kondisi Alena dilaporkan memburuk dan bayi tersebut sempat menjalani perawatan di RSUD Dr Soetomo, muncul informasi dari pihak keluarga mengenai asupan yang diberikan kepadanya. Dalam unggahan akun Threads @calisthaarisha, disebutkan bahwa Alena pernah diberi telur mentah. Unggahan tersebut juga menyatakan bahwa tindakan itu diduga dilakukan oleh nenek Alena dengan tujuan menurunkan demam yang dialami sang bayi.
Informasi tersebut perlu dipahami sebagai keterangan dari unggahan keluarga, bukan sebagai penjelasan medis resmi dari dokter, rumah sakit, atau tenaga kesehatan yang menangani Alena. Sampai terdapat keterangan klinis yang dapat diverifikasi, rincian mengenai kondisi tubuh bayi setelah mengonsumsi asupan tersebut, termasuk jumlah dan waktu pemberiannya, belum dapat dipastikan secara independen.
Pemberian telur mentah kepada bayi yang masih berusia 28 hari dinilai tidak semestinya, terutama karena bayi pada usia tersebut memiliki kebutuhan nutrisi yang sangat khusus dan umumnya masih mengandalkan ASI atau susu formula sesuai anjuran tenaga kesehatan. Asupan tambahan tanpa petunjuk medis dapat menimbulkan risiko tertentu, termasuk masalah pencernaan atau paparan mikroorganisme, meskipun dampaknya pada setiap bayi dapat berbeda.
Dalam unggahan yang beredar, pemberian telur mentah kemudian dikaitkan dengan memburuknya kondisi Alena sebelum ia mendapatkan perawatan. Namun, keterkaitan waktu tersebut belum membuktikan hubungan sebab akibat. Kondisi kritis dan kematian bayi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor medis yang memerlukan pemeriksaan menyeluruh, seperti riwayat penyakit, gejala yang muncul, hasil laboratorium, serta penanganan di rumah sakit. Karena itu, telur mentah tidak dapat disebut sebagai penyebab pasti meninggalnya Alena tanpa kesimpulan resmi berdasarkan evaluasi medis dan bukti yang memadai.
Kepala Bagian Umum RSUD Dr Soetomo, Robeth Jabbar, membenarkan bahwa Alena pernah mendapatkan perawatan medis di rumah sakit tersebut. Keterangan itu disampaikan untuk menjawab informasi mengenai riwayat perawatan bayi tersebut sebelum meninggal dunia. Namun, pihak rumah sakit tidak memerinci kondisi kesehatan Alena kepada publik.
Robeth menyatakan tim medis RSUD Dr Soetomo telah memberikan penanganan secara maksimal sesuai standar pelayanan yang berlaku. Setiap tindakan medis, menurut pihak rumah sakit, dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi serta kebutuhan pasien. Pernyataan tersebut juga menegaskan bahwa pelayanan diberikan melalui prosedur yang berlaku di lingkungan rumah sakit.
Alena dinyatakan meninggal pada Minggu pagi sekitar pukul 07.10 WIB. Saat meninggal, bayi tersebut masih berusia 28 hari. Informasi mengenai waktu dan usia tersebut disampaikan dalam konteks keterangan rumah sakit terkait keberadaan Alena yang sebelumnya sempat menjalani perawatan di RSUD Dr Soetomo.
Meski membenarkan riwayat perawatan, rumah sakit tidak mengungkap diagnosis yang diderita Alena ataupun kronologi medis secara terbuka. Pihak RSUD Dr Soetomo memilih untuk menjaga kerahasiaan informasi kesehatan pasien dan menghormati keluarga yang sedang menjalani masa berkabung. Sikap tersebut juga menjadi bagian dari pertimbangan etika dalam menyampaikan informasi mengenai pasien, khususnya ketika menyangkut bayi dan keluarga yang tengah berduka.
Dengan demikian, keterangan resmi rumah sakit sejauh ini terbatas pada konfirmasi bahwa Alena pernah dirawat, tim medis telah memberikan penanganan sesuai standar dan kebutuhan pasien, serta pasien meninggal pada Minggu pagi dalam usia 28 hari. Rincian mengenai penyakit maupun proses perawatan tidak disampaikan kepada publik karena pertimbangan privasi dan penghormatan terhadap keluarga.
Perkembangan terbaru mengenai kondisi Alena disampaikan melalui sebuah akun yang mengaku sebagai tantenya. Dalam unggahan tersebut, akun itu menyampaikan terima kasih kepada warganet yang telah memberikan doa dan perhatian selama Alena menjalani perawatan. Unggahan yang sama mengabarkan bahwa bayi berusia 28 hari tersebut telah berpulang.
Akun tersebut juga menyebut bahwa persoalan yang berkaitan dengan keluarga suami Ariana telah ditindaklanjuti. Namun, belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai bentuk tindak lanjut yang dimaksud. Informasi itu disampaikan secara terbatas, sehingga publik diharapkan tidak menarik kesimpulan atau memperluas dugaan di luar keterangan yang telah dibagikan oleh pihak keluarga.
Ariana, yang diduga merupakan ibu Alena, disebut belum siap memberikan penjelasan lebih lanjut. Kondisi tersebut membuat keluarga meminta ruang untuk berduka dan menghadapi kehilangan secara pribadi. Hingga kini, tidak ada keterangan tambahan dari Ariana yang dapat menjadi penjelasan lebih jauh mengenai persoalan tersebut.
Keluarga juga menyampaikan permintaan agar publik mendoakan Alena. Doa dan dukungan diharapkan dapat diberikan dengan tetap menghormati privasi keluarga, terutama pada masa duka seperti saat ini. Masyarakat diminta menunggu informasi dari pihak keluarga dan tidak menyebarkan kabar yang belum terkonfirmasi. Dengan demikian, kabar mengenai kepergian Alena dapat disikapi secara bijaksana tanpa menambah beban bagi keluarga yang sedang berduka.







