JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 October 2026, Kejuaraan Daerah Piala Gubernur DKI Jakarta 2026 menjadi salah satu agenda penting dalam pembinaan olahraga catur di ibu kota. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) DKI Jakarta itu berlangsung di The Tavia Heritage Hotel, Jakarta, pada Sabtu, 3 Oktober 2026, hingga Minggu, 4 Oktober 2026. Penyelenggaraan selama dua hari tersebut mempertemukan pecatur dari berbagai wilayah dan kelompok usia dalam suasana kompetitif, sekaligus mendukung upaya membangun ekosistem catur yang berkelanjutan.
Sebanyak 420 pecatur ambil bagian dalam kejuaraan ini. Peserta berasal dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak hingga dewasa, sehingga pertandingan tidak hanya menampilkan persaingan antarpemain berpengalaman, tetapi juga memberikan ruang bagi talenta muda untuk berkembang. Keberagaman peserta menjadi gambaran bahwa minat terhadap catur di Jakarta terus tumbuh. Setiap pertandingan dapat menjadi sarana bagi atlet untuk menguji konsentrasi, ketepatan perhitungan, pengambilan keputusan, serta kemampuan menjaga ketahanan mental sepanjang permainan.
Total hadiah yang diperebutkan mencapai Rp100 juta. Namun, nilai kejuaraan ini tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya hadiah atau hasil akhir pertandingan. Ajang tersebut juga berfungsi sebagai instrumen evaluasi bagi pembinaan atlet, karena pelatih dan pengurus dapat memantau perkembangan kemampuan pecatur secara langsung dalam persaingan terbuka. Penampilan para peserta turut menjadi bahan pertimbangan untuk mengidentifikasi atlet potensial yang dapat dipersiapkan mewakili DKI Jakarta pada kompetisi tingkat nasional, termasuk Kejurnas 2026. Dengan demikian, Piala Gubernur DKI Jakarta 2026 bukan sekadar kompetisi rutin, melainkan bagian dari proses seleksi, pematangan pengalaman bertanding, dan penguatan fondasi prestasi catur Jakarta.
Kehadiran Women Grandmaster (WGM) Laysa Latifah menjadi salah satu perhatian utama dalam pembukaan Kejuaraan Daerah (Kejurda) Catur DKI Jakarta. Di tengah rangkaian kegiatan yang mempertemukan ratusan peserta, sosok Laysa memberikan makna khusus bagi pembinaan catur di ibu kota. Ia tidak hadir sekadar sebagai tamu, tetapi juga sebagai figur yang merepresentasikan keberhasilan atlet muda Indonesia dalam menapaki jenjang prestasi internasional.
Laysa tercatat sebagai WGM terbaru Indonesia setelah meraih gelar tersebut pada Olimpiade Catur 2026 di Uzbekistan pada bulan sebelumnya. Pencapaian itu memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain yang patut diperhitungkan sekaligus menambah catatan penting bagi perkembangan catur nasional. Gelar WGM yang diraih melalui ajang bergengsi tersebut membuat kehadirannya di Kejurda memperoleh perhatian besar dari peserta, pengurus, dan para pembina.
Bagi para pecatur muda DKI Jakarta, Laysa dapat menjadi inspirasi yang dekat dan relevan. Statusnya sebagai mahasiswa Universitas Negeri Jakarta menunjukkan bahwa prestasi olahraga dapat berjalan berdampingan dengan pendidikan. Perjalanan tersebut memberi pesan bahwa keberhasilan membutuhkan ketekunan, disiplin, serta keberanian untuk berkompetisi pada tingkat yang lebih tinggi. Pengalaman Laysa juga dapat mendorong peserta untuk menetapkan target prestasi secara lebih terarah.
Ketua Percasi DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, mengambil keputusan untuk menghadirkan Laysa dalam pembukaan Kejurda dengan pertimbangan tersebut. Ratusan peserta diharapkan memperoleh dorongan langsung dari atlet yang baru saja menorehkan prestasi penting bagi Indonesia. Interaksi dengan seorang WGM dapat memperluas pandangan peserta mengenai peluang, tantangan, dan proses yang harus dilalui untuk mencapai tingkat permainan yang lebih tinggi.
Dengan demikian, kehadiran Laysa memperkaya pesan pembukaan Kejurda, bukan hanya sebagai seremoni, melainkan sebagai bagian dari upaya membangun motivasi. Figur berprestasi seperti dirinya dapat membantu menumbuhkan keyakinan para pemain muda bahwa kerja keras dalam pembinaan catur Jakarta memiliki jalur menuju prestasi nasional dan internasional.
Percasi DKI Jakarta memberikan apresiasi berupa bonus uang pembinaan senilai Rp50 juta kepada Laysa Latifah atas keberhasilannya meraih gelar Woman Grandmaster (WGM). Penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas kerja keras, konsistensi, dan pencapaian Laysa dalam membawa nama Jakarta di tingkat nasional maupun internasional. Bonus itu juga diharapkan dapat mendukung keberlanjutan pembinaan dan persiapan Laysa dalam menghadapi berbagai agenda kompetisi berikutnya.
Ketua Percasi DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, menjelaskan bahwa bonus tersebut tidak semata-mata diberikan sebagai penghargaan personal. Menurutnya, apresiasi itu juga dirancang sebagai pemantik semangat bagi atlet-atlet catur Jakarta lainnya. Keberhasilan Laysa menunjukkan bahwa pembinaan yang terarah, latihan yang disiplin, serta kesempatan bertanding dapat membuka jalan bagi pecatur daerah untuk meraih titel bergengsi.
Dalam kesempatan tersebut, Kenneth juga menyampaikan komitmennya kepada Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung untuk membantu melahirkan empat pemegang titel grandmaster dari Jakarta. Target itu menjadi bagian dari upaya memperkuat pembinaan catur secara berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kualitas atlet ibu kota agar mampu bersaing di level yang lebih tinggi. Satu titel telah tercapai melalui Laysa, yang berhasil meraih gelar WGM. Pencapaian ini menjadi fondasi penting untuk mengejar target berikutnya.
Laysa pun sengaja ditampilkan di hadapan para peserta sebagai contoh nyata bahwa prestasi tingkat dunia dapat diraih melalui proses panjang dan kesungguhan. Kehadirannya diharapkan membangun keyakinan para pecatur muda bahwa mereka juga memiliki peluang untuk mengikuti jejak tersebut. Dengan menjadikan Laysa sebagai inspirasi, Percasi DKI Jakarta ingin menumbuhkan ambisi berprestasi sekaligus memperkuat regenerasi atlet. Dukungan penghargaan dan target melahirkan empat grandmaster itu menunjukkan bahwa pembinaan tidak berhenti pada satu keberhasilan, melainkan diarahkan untuk menciptakan lebih banyak prestasi pada masa mendatang.
Kejuaraan Daerah (Kejurda) Catur DKI Jakarta memiliki peran penting dalam rangkaian pembinaan dan seleksi atlet menuju Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Catur ke-51 tahun 2026. Ajang ini tidak hanya menjadi ruang kompetisi bagi pecatur terbaik dari berbagai wilayah di Jakarta, tetapi juga menjadi tolok ukur untuk menilai kesiapan, konsistensi, serta potensi atlet yang akan mewakili ibu kota pada tingkat nasional.
Kejurnas Catur ke-51 dijadwalkan berlangsung di Banten pada 23 hingga 29 Oktober 2026. Karena itu, hasil pertandingan Kejurda menjadi dasar dalam menentukan atlet yang memperoleh tiket untuk tampil dalam kompetisi tersebut. Para pemenang dan peserta yang dinilai memenuhi standar prestasi akan mendapatkan kesempatan membawa nama DKI Jakarta, sekaligus menjalani pembinaan lebih lanjut agar mampu bersaing menghadapi pecatur dari berbagai provinsi.
Hardiyanto Kenneth berharap seluruh atlet yang lolos seleksi dapat memenuhi persyaratan administrasi dan ketentuan keikutsertaan yang telah ditetapkan. Salah satu hal yang menjadi perhatian utama adalah kepemilikan KTP DKI Jakarta atau bukti bahwa atlet tersebut berdomisili di Jakarta. Persyaratan ini penting untuk memastikan bahwa wakil yang dikirim benar-benar merepresentasikan pembinaan catur di wilayah DKI Jakarta serta mengikuti proses seleksi secara tertib dan transparan.
Percasi DKI Jakarta juga menaruh harapan besar terhadap pelaksanaan Kejurda tersebut. Selain menghasilkan wakil yang kompetitif untuk Kejurnas, kejuaraan ini diharapkan mampu menemukan calon juara baru dengan kemampuan dan karakter juara. Atlet-atlet muda yang tampil menonjol dapat menjadi bagian dari regenerasi catur Jakarta, memperkuat prestasi daerah, dan mengharumkan nama DKI Jakarta di tingkat nasional. Dalam jangka panjang, pembinaan yang berkesinambungan diharapkan membawa nama Jakarta ke panggung internasional melalui lahirnya pecatur berprestasi yang mampu bersaing di berbagai kejuaraan dunia.







