SURABAYA, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 21 September 2026, Ratusan mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UISA) melancarkan aksi penutupan gerbang utama kampus sebagai respons terhadap pelantikan rektor baru yang dianggap tidak sesuai harapan. Aksi yang dilaksanakan pada hari Senin ini berlangsung dengan damai, namun penuh dengan semangat dan tuntutan keadilan oleh para peserta. Mereka merasa diperlukan perubahan dalam kepemimpinan untuk menciptakan lingkungan akademik yang lebih demokratis dan responsif terhadap aspirasi mahasiswa.
Peserta aksi terdiri dari mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum yang menggerakkan aksi tersebut dengan mengajak mahasiwa lainnya untuk bergabung. Para demonstran menuntut agar rektor baru tersebut tidak melanjutkan jabatannya, serta menyerukan perlunya evaluasi terhadap kebijakan-kebijakan yang telah diterapkan sebelumnya. Dalam pandangan mereka, perubahan kepemimpinan sangat penting agar berbagai masalah yang ada di dalam kampus dapat teratasi secara efektif.
Selama aksi berlangsung, aktivitas perkuliahan dihentikan sementara. Hanya sejumlah mahasiswa saja yang diperbolehkan masuk kampus untuk memastikan keselamatan dan mencegah terjadinya kerusuhan. Tindakan segel gerbang ini bertujuan untuk menarik perhatian pihak kampus dan masyarakat luas akan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam pengambilan keputusan yang menyangkut pendidikan mereka. Situasi ini menunjukkan besarnya antusiasme dan kepedulian mahasiswa terhadap nasib kampus serta masa depan pendidikan di UISA.
Aksi ini mencerminkan dinamika di kampus-kampus Indonesia, di mana mahasiswa tidak ragu untuk bersuara melawan kebijakan yang dinilai tidak pro-kampus. Melalui protes ini, para mahasiswa berharap dapat membuka jalur komunikasi yang lebih baik pimpinan universitas dan pihak mahasiswa, serta menjamin bahwa seluruh suara mahasiswa akan didengar dan diakomodasi dalam setiap keputusan yang diambil.
Dalam beberapa hari terakhir, kampus Universitas Islam Sains dan Teknologi (UISA) menjadi pusat perhatian akibat aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa. Aksi ini dipimpin oleh koordinator lapangan, Fadlurrahman Fazle, dan dimulai pada pukul 06.00 WIB. Penutupan pintu kampus, atau penyegelan, menjadi simbol protes yang mendalam terkait dengan kebijakan terbaru yang diambil oleh pihak universitas, khususnya pelantikan Akh Muzakki sebagai rektor.
Mahasiswa UISA yang terlibat dalam demonstrasi ini memiliki keprihatinan serius terhadap proses pemilihan rektor yang dianggap tidak transparan dan tidak representatif. Mereka khawatir bahwa keputusan yang diambil oleh pihak manajemen universitas akan berdampak negatif terhadap kualitas pendidikan yang mereka terima. Sejumlah mahasiswa juga mengungkapkan bahwa pelantikan Akh Muzakki tidak mencerminkan aspirasi mahasiswa, sehingga mereka merasa perlu untuk bersuara dan mengungkapkan ketidakpuasan mereka melalui aksi protes ini.
Dalam aksi tersebut, Fadlurrahman menegaskan bahwa tuntutan mereka adalah untuk mencopot Akh Muzakki dari jabatannya. Tuntutan ini bukan hanya bersifat pribadi, tetapi juga berkaitan dengan harapan mahasiswa untuk mendapatkan pemimpin yang lebih peduli dan responsif terhadap kebutuhan dan permasalahan yang ada di kampus. Mereka berharap adanya pemimpin yang dapat membawa perubahan positif dan meningkatkan iklim akademik di UISA.
Aksi protes ini direncanakan untuk terus berlangsung hingga semua permintaan mahasiswa dipenuhi. Mahasiswa percaya bahwa dengan menyegel pintu kampus, mereka dapat menarik perhatian lebih lanjut terhadap isu-isu yang mereka angkat serta mendorong dialog pihak manajemen universitas dan mahasiswa. Penyegelan ini menjadi bentuk solidaritas dan komitmen mahasiswa dalam memperjuangkan hak mereka untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan di lingkungan akademik. Ketidakpuasan yang terakumulasi ini mencerminkan kebutuhan akan reformasi yang lebih luas dalam pengelolaan institusi pendidikan tinggi di Indonesia.
Aksi protes yang diadakan oleh mahasiswa Universitas Islam Sunan Ampera (UISA) berlangsung selama satu hari penuh dan berdampak signifikan terhadap kondisi lalu lintas di sekitar kampus. Lokasi protes yang berada di jalur frontage Ahmad Yani Surabaya menyebabkan kemacetan yang cukup parah, terutamanya pada jam-jam sibuk, ketika banyak pegawai dan mahasiswa lainnya berusaha untuk ke kampus. Akibat dari penyegelan pintu akses, pegawai yang biasanya dapat dengan mudah memasuki lingkungan kampus harus menunggu di luar gerbang, yang mengakibatkan penumpukan kendaraan.
Dengan kebijakan baru yang diterapkan selama protes, hanya pegawai yang memiliki keperluan absen yang diperbolehkan untuk memasuki area kampus. Hal ini menambah stres bagi banyak pegawai yang harus meninggalkan kendaraan mereka di tempat parkir sementara di luar gedung, dan harus berjalan jauh untuk mencapai ruang kerja mereka. Situasi ini tidak hanya berpengaruh terhadap kenyamanan pegawai yang berusaha menjalani proses kerja rutin mereka, tetapi juga menimbulkan frustrasi bagi para mahasiswa yang perlu menghadiri kelas.
Peningkatan kepadatan lalu lintas di sekitar jalur frontage Ahmad Yani berdampak pada banyak aspek. Di antaranya, ketidakteraturan arus kendaraan dapat menyebabkan risiko keselamatan yang lebih tinggi, di mana pengemudi dan pejalan kaki harus lebih waspada terhadap situasi di sekitar mereka. Munculnya masalah ini menyebabkan beberapa pengemudi terpaksa mencari jalur alternatif, yang selanjutnya berdampak pada volume kendaraan di jalan-jalan lain di sekitarnya.
Secara keseluruhan, tindakan protes mahasiswa di UISA telah membawa dampak nyata dan langsung terhadap lalu lintas di sekitarnya. Sementara pihak fakultas dan administrasi mengupayakan penyelesaian dari masalah ini, banyak orang berharap agar situasi segera membaik, sehingga mengembalikan aktivitas kampus ke normal.
Mahasiswa Universitas Islam Sayyid Ali (UISA) saat ini mengekspresikan ketidakpuasan mereka melalui serangkaian aksi demonstrasi yang berfokus pada delapan poin tuntutan yang ditujukan kepada Kementerian Agama. Tuntutan ini mencakup berbagai isu, mulai dari transparansi dalam pengelolaan dana kampus hingga perbaikan dalam sistem akademik dan pelayanan mahasiswa. Demonstrasi yang berlangsung di depan kampus ini menunjukkan tekad kuat para mahasiswa untuk memastikan bahwa suara mereka didengar oleh pihak-pihak berwenang.
Dari hasil diskusi dan penggalian aspirasi di mahasiswa, dapat disimpulkan bahwa tuntutan ini bukan sekadar gerakan sementara. Mahasiswa UISA bertekad akan melanjutkan aksi hingga mereka melihat adanya perubahan yang berarti, termasuk pengunduran diri rektor yang saat ini dianggap tidak mampu menjalankan amanah dengan baik. Komitmen ini menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya peduli pada kondisi kampus mereka, tetapi juga berupaya untuk menciptakan lingkungan akademik yang lebih baik dan kondusif.
Harapan mahasiswa UISA sangat tinggi, di mana mereka percaya bahwa dengan bersatu dan menyuarakan tuntutan tersebut, mereka dapat mendorong pihak terkait untuk memberikan perhatian yang serius. Masyarakat kampus, termasuk dosen dan staf, diharapkan untuk mendukung perjuangan mahasiswa ini. Dengan demikian, diharapkan ada tanggapan yang konstruktif dari Kementerian Agama dan pihak manajemen kampus, yang pada gilirannya dapat memperbaiki kondisi yang ada serta menanggapi segala aspirasi yang telah diajukan. Dukungan yang kuat dari seluruh elemen kampus diharapkan akan meningkatkan legitimasi gerakan ini dan memungkinkan tercapainya tujuan yang diinginkan oleh seluruh mahasiswa UISA.











