Kota Penuh Lautan Manusia | Ribuan pendukung gerakan mahasiswa menghadiri kampanye terakhir daftar kandidat Students Win di pusat kota Belgrade pada Kamis, 22 Oktober 2026. Acara tersebut berlangsung tiga hari sebelum pemilu Serbia yang dijadwalkan pada 25 Oktober. Jumlah peserta yang besar menjadikan kampanye ini sebagai penampilan publik penting bagi daftar yang didukung gerakan mahasiswa menjelang hari pemungutan suara. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa kampanye tersebut mampu menghimpun dukungan dalam jumlah besar pada tahap akhir persaingan politik.
Selama kegiatan, para peserta meneriakkan slogan dan bernyanyi bersama. Mereka juga mengibarkan bendera Serbia serta menyalakan suar. Unsur-unsur yang terlihat itu menjadi bagian dari kampanye terakhir Students Win, tanpa perlu mengasumsikan rincian lain mengenai rangkaian acara atau kondisi di sekitarnya. Aktivitas tersebut memperlihatkan bentuk ekspresi kolektif para pendukung saat mereka berkumpul untuk menunjukkan dukungan menjelang pemilu. Tidak ada keterangan lebih lanjut yang memastikan pesan dari setiap slogan atau lagu yang dinyanyikan.
Waktu penyelenggaraan menempatkan kampanye itu pada momen yang dekat dengan pemungutan suara. Dengan hanya beberapa hari tersisa sebelum 25 Oktober, kehadiran ribuan pendukung memberi gambaran tentang kapasitas gerakan mahasiswa untuk mengumpulkan massa di pusat kota. Namun, besarnya jumlah peserta pada satu acara tidak dengan sendirinya menunjukkan hasil pemilu atau tingkat dukungan seluruh pemilih. Kampanye tersebut merupakan salah satu peristiwa menjelang pemungutan suara, sementara penilaian mengenai hasil politik tetap bergantung pada proses pemilu dan suara yang diberikan.
Bagi Students Win, acara Kamis itu menandai kesempatan terakhir untuk tampil di hadapan pendukung sebelum pemilu yang telah dijadwalkan. Slogan, nyanyian, bendera Serbia, dan suar menjadi elemen yang tercatat dalam pertemuan tersebut. Fakta-fakta itu menggambarkan kampanye sebagai kegiatan yang melibatkan partisipasi publik, tetapi tidak menjelaskan program kandidat, tanggapan pihak lain, ataupun dampak elektoralnya. Karena itu, arti politik kampanye tersebut perlu dipahami secara proporsional: ribuan orang hadir dan menyatakan dukungan, sementara keputusan akhir berada di tangan para pemilih pada 25 Oktober.
Bagi Aleksandar Vučić, pemilu Serbia bukan sekadar agenda rutin, melainkan ujian politik bagi kepemimpinan yang telah membentuk arah negara selama bertahun-tahun. Partainya telah berada di pucuk kekuasaan selama 12 tahun, sementara Vučić sendiri dikenal sebagai pemimpin veteran dengan pengaruh besar dalam pemerintahan dan politik nasional. Karena itu, persaingan kali ini menjadi kesempatan untuk mengukur dukungan terhadap kekuasaan yang telah lama bertahan, sekaligus memperlihatkan seberapa kuat kelompok-kelompok penentang dapat mengubah ketidakpuasan publik menjadi pilihan politik yang terorganisasi.
Perhatian tertuju pada gerakan mahasiswa yang menggelar aksi protes sejak 2024. Demonstrasi tersebut menjadikan mahasiswa sebagai salah satu kekuatan yang menonjol dalam ruang publik Serbia, dengan tuntutan dan kritik yang berkembang di tengah perdebatan mengenai tata kelola serta pertanggungjawaban politik. Kini, gerakan itu mengambil langkah yang berbeda dengan mengajukan 250 kandidat untuk bersaing dalam pemilu. Jumlah tersebut menunjukkan upaya membangun kehadiran yang luas melalui daftar kandidat, bukan hanya mengandalkan mobilisasi massa di jalanan. Keputusan ini juga memberi gerakan tersebut saluran langsung untuk membawa agenda dan suara pendukungnya ke arena pemilihan.
Pergeseran dari demonstrasi menuju persaingan melalui daftar kandidat menandai perubahan penting dalam strategi gerakan mahasiswa. Aksi protes dapat menarik perhatian dan menyampaikan tekanan kepada pemerintah, sedangkan pencalonan memungkinkan para aktivis terlibat dalam proses politik formal dan menjangkau pemilih di berbagai wilayah. Langkah itu menuntut organisasi, koordinasi, dan kemampuan menyampaikan pesan kepada masyarakat dalam bentuk yang dapat dipertimbangkan saat pemungutan suara. Bagi Vučić dan partainya, kehadiran daftar tersebut menambah tantangan politik yang harus dihadapi dalam pemilu. Namun, pengajuan kandidat sendiri tidak menetapkan bagaimana pemilih akan menentukan pilihan atau bagaimana hasil akhirnya. Pemilu menjadi ruang persaingan bagi kekuatan lama dan gerakan baru, sekaligus tolok ukur bagi perubahan bentuk keterlibatan politik mahasiswa di Serbia.
Gerakan mahasiswa Serbia memperoleh perhatian luas setelah kanopi di stasiun kereta Novi Sad runtuh pada 2024 dan menewaskan 16 orang. Tragedi tersebut mengguncang masyarakat, terutama karena terjadi di ruang publik yang digunakan banyak orang. Kabar mengenai korban jiwa segera memunculkan tuntutan agar peristiwa itu ditangani secara terbuka dan informasi yang relevan disampaikan kepada publik. Bagi banyak mahasiswa, tragedi itu bukan semata-mata berita duka, melainkan alasan untuk meminta pertanggungjawaban institusional dan penjelasan yang dapat dipercaya. Namun, tuntutan tersebut tidak dengan sendirinya menetapkan penyebab keruntuhan ataupun pihak yang bertanggung jawab; hal itu harus dibedakan dari dugaan dan pertanyaan yang berkembang di tengah masyarakat.
Dalam suasana berkabung dan ketidakpuasan, mahasiswa mulai menggelar demonstrasi dan aksi solidaritas. Sejumlah kampus menjadi titik berkumpul, sementara peserta menyuarakan tuntutan perubahan melalui kegiatan publik, termasuk pawai dan penghentian aktivitas akademik. Aksi-aksi itu mencerminkan dorongan agar lembaga terkait menanggapi pertanyaan warga secara terbuka, menyediakan informasi yang dapat diperiksa, serta menjalankan proses penyelidikan dengan sungguh-sungguh. Mahasiswa juga meminta agar ruang bagi kritik dan partisipasi publik dihormati. Bentuk serta skala mobilisasi berkembang dari waktu ke waktu, tetapi pemicunya tetap berkaitan dengan tragedi Novi Sad dan tuntutan akan keterbukaan. Protes tersebut menunjukkan bagaimana peristiwa yang menimbulkan duka dapat berkembang menjadi seruan politik yang lebih luas.
Selain menyoroti penanganan tragedi, demonstrasi mahasiswa mengangkat persoalan kepercayaan terhadap institusi dan dugaan korupsi di Serbia. Para peserta mengaitkan tuntutan transparansi dengan kekhawatiran tentang tata kelola dan pengawasan publik, tanpa menjadikan dugaan sebagai fakta yang telah terbukti. Sikap ini penting karena pembahasan mengenai tragedi harus tetap berlandaskan informasi yang tersedia, bukan spekulasi mengenai penyebab atau penunjukan pihak tertentu. Bagi gerakan mahasiswa, tuntutan perubahan mencakup akses terhadap informasi, pemeriksaan yang terbuka, serta respons institusional yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, runtuhnya kanopi menjadi titik mula mobilisasi yang mempertemukan duka, desakan akan kejelasan, dan kritik terhadap praktik pemerintahan. Gelombang protes itu kemudian menempatkan suara mahasiswa dalam perdebatan politik Serbia menjelang pemilu.
Bagi Natalija Vujisic, dukungan terhadap gerakan Students Win berangkat dari harapan yang dekat dengan kehidupan keluarga sekaligus menyangkut arah masa depan Serbia. Ia ingin ikut memperjuangkan masa depan negara agar anak-anaknya kelak dapat hidup dalam lingkungan yang lebih baik dan bebas dari korupsi. Harapan tersebut memberi makna pribadi pada keterlibatannya: perubahan politik bukan sekadar persoalan pergantian kekuasaan, melainkan juga upaya menciptakan kondisi yang lebih layak bagi generasi berikutnya. Dalam pandangannya, aspirasi itu terkait dengan tuntutan yang dibawa gerakan mahasiswa dan para pendukungnya.
Viktor Milenkovic memandang aksi tersebut sebagai kesempatan untuk memperlihatkan seberapa besar dukungan masyarakat terhadap gerakan protes. Ia juga menilai pentingnya menunjukkan sokongan kepada kandidat yang diusung gerakan mahasiswa. Dengan hadir dan menyatakan dukungan, para pendukung dapat membuat kekuatan gerakan terlihat di ruang publik, bukan hanya melalui demonstrasi, tetapi juga melalui dukungan politik yang terukur. Bagi Milenkovic, momentum ini memungkinkan warga menyampaikan pilihan mereka dan memperlihatkan bahwa tuntutan gerakan memiliki basis pendukung yang nyata.
Harapan kedua pendukung itu muncul saat persaingan politik Serbia memasuki tahap penting. Jajak pendapat yang dirilis pada pekan tersebut menunjukkan bahwa dukungan kepada gerakan mahasiswa hampir seimbang dengan dukungan kepada Partai Progresif Serbia (SNS), kekuatan politik utama yang mendukung Presiden Aleksandar Vučić.
Baca juga: Beri Kuliah Pascasarjana Universitas Pertahanan, Bamsoet Ingatkan Kekuatan Negara Ditentukan Kemampuan Mengelola Konflik dan Menjaga Kepercayaan Publik | Catatan Politik Bamsoet; Harapan Pelaku Sektor Riel Setelah Konsolidasi Sektor Moneter dan Fiskal | Protes Mahasiswa UISA: Pintu Kampus Disegel Lagi






