Hilirisasi Antam Mulai Menopang Kinerja, dari Alumina hingga Ekosistem Baterai

Hilirisasi Antam Mulai Menopang Kinerja, dari Alumina hingga Ekosistem Baterai

Kabupaten Mempawah | Pengembangan hilirisasi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mulai menunjukkan hasil dan dinilai berpotensi menjadi katalis bagi kinerja perusahaan maupun pergerakan sahamnya. Upaya mengolah mineral hingga menjadi produk bernilai tambah membuka peluang bagi Antam untuk memperkuat sumber pendapatan, tidak hanya mengandalkan penjualan bahan mentah. Perkembangan ini juga memberi konteks penting bagi investor dalam menilai prospek perusahaan, terutama ketika proyek pengolahan dan pengembangan industri terkait bergerak menuju tahap operasional.

Analis Phintraco Sekuritas, Indra Setyadi, menilai Antam terus memperkuat hilirisasi pada dua bidang strategis, yaitu ekosistem baterai dan aluminium. Di sektor baterai, pengembangan rantai industri nikel menjadi bagian dari upaya memperluas peran perusahaan dalam industri kendaraan listrik. Sementara itu, pengolahan bauksit menjadi alumina mendukung penguatan ekosistem aluminium. Kedua jalur tersebut berpotensi meningkatkan nilai mineral domestik dan memperluas kontribusi kegiatan pengolahan terhadap bisnis Antam. Meski demikian, dampaknya terhadap kinerja akan bergantung pada kemajuan proyek, kapasitas produksi, serta kemampuan perusahaan menjaga operasional dan permintaan pasar.

Kinerja semester I-2026 memberikan gambaran bahwa bisnis Antam tetap tumbuh di tengah pengembangan tersebut. Perusahaan membukukan pendapatan sebesar Rp62,71 triliun, meningkat sekitar 6,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih tercatat Rp6,91 triliun, naik 34% dari semester I-2025. Pertumbuhan laba yang lebih tinggi daripada kenaikan pendapatan menunjukkan adanya peningkatan hasil pada tingkat profitabilitas, meskipun kinerja ke depan tetap dipengaruhi oleh harga komoditas, biaya, dan volume penjualan.

Emas masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar Antam, disusul nikel serta bauksit dan alumina. Komposisi ini menegaskan bahwa bisnis emas tetap berperan utama dalam menopang pendapatan saat ini, sedangkan pengembangan hilirisasi membuka ruang bagi sumber pertumbuhan tambahan. Dengan memperkuat pengolahan nikel dan bauksit, Antam berupaya membangun portofolio yang lebih terhubung dengan kebutuhan industri masa depan. Karena itu, perkembangan hilirisasi dapat menjadi faktor yang semakin diperhatikan dalam membaca arah kinerja perusahaan dan prospek sahamnya.

Beroperasinya Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah mulai menunjukkan kontribusi nyata terhadap kinerja hilirisasi Antam. Pada semester I-2026, fasilitas tersebut membukukan penjualan sebanyak 350 ribu ton alumina. Jumlah itu menjadi pijakan untuk mencapai target penjualan 700 ribu ton hingga akhir tahun. Melalui PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), perusahaan patungan yang mengelola proyek, SGAR juga menyumbangkan laba sebesar Rp257,6 miliar kepada Antam pada periode yang sama. Indra menilai setoran laba tersebut berpotensi meningkat seiring kenaikan produksi, sehingga manfaat proyek dapat bertambah ketika operasi berkembang dan volume alumina yang dihasilkan semakin besar.

Fasilitas SGAR berlokasi di Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. BAI dibentuk sebagai perusahaan patungan Antam dan Inalum, dengan fase I dirancang memiliki kapasitas produksi sebesar 1 juta ton alumina per tahun. Berdasarkan rencana alokasi, sekitar 550 ribu ton produksi akan memenuhi kebutuhan domestik Inalum, sementara kurang lebih 450 ribu ton ditujukan untuk ekspor. Pembagian tersebut menghubungkan pengolahan bauksit menjadi alumina dengan kebutuhan bahan baku industri dalam negeri, sekaligus membuka saluran penjualan ke pasar luar negeri. Karena itu, capaian penjualan semester pertama menjadi indikator awal pemanfaatan kapasitas dan penyerapan produk SGAR.

Operasi kilang ini juga memperkuat keterkaitan kegiatan tambang Antam dan tahap pengolahan. SGAR membutuhkan pasokan bijih bauksit dari tambang perseroan, sehingga peningkatan produksi kilang dapat mendorong kebutuhan bahan baku secara berkelanjutan. Pada semester I-2026, penjualan bauksit Antam naik 24,4% menjadi sekitar 1,3 juta wet metric ton (WMT). Kenaikan tersebut berlangsung seiring beroperasinya proyek yang menambah jalur pemanfaatan bauksit, dari komoditas tambang menuju alumina bernilai tambah. Dengan pasokan tambang, pengolahan di Mempawah, dan alokasi produk untuk pasar domestik serta ekspor, SGAR menjadi bagian penting dari rantai usaha Antam. Perkembangan produksi dan penjualan berikutnya akan menentukan besarnya kontribusi proyek terhadap laba perusahaan.

Pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik Antam bergerak melalui sejumlah proyek yang berada pada tahapan berbeda. Indra menyampaikan bahwa proyek Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) telah memasuki tahap engineering, procurement, and construction (EPC). Sementara itu, proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) masih berada dalam tahap persetujuan investasi. Perbedaan tahapan tersebut mencerminkan proses pengembangan yang berjalan secara bertahap, mulai dari persiapan dan persetujuan investasi hingga pelaksanaan pembangunan. Antam menargetkan pembentukan rantai nilai baterai kendaraan listrik yang terintegrasi, dengan dukungan mitra strategis. Melalui visi tersebut, perusahaan berupaya menghubungkan berbagai mata rantai industri, dari pengolahan mineral hingga produk yang dibutuhkan dalam ekosistem baterai. Kemitraan strategis menjadi bagian penting dalam mendorong pengembangan proyek dan keterhubungan rantai nilai itu.

Direktur Strategi Hilirisasi dan Operasi Hilir Antam, I Dewa Bagus Sugata Wirantaya, menyampaikan bahwa fasilitas manufaktur sel baterai di Karawang mulai beroperasi pada 2026. Kehadiran fasilitas ini menjadi bagian dari pengembangan ekosistem baterai di dalam negeri. Di luar proyek baterai, kinerja penjualan produk hilir Antam juga menunjukkan perkembangan pada semester I-2026. Penjualan feronikel naik 32% menjadi sekitar 7,6 ribu ton Ni. Pada periode yang sama, penjualan chemical grade alumina meningkat 10,2% menjadi sekitar 100,4 ribu ton. Data tersebut memperlihatkan pertumbuhan penjualan pada dua produk hilir, di tengah upaya perusahaan memperluas pengolahan sumber daya mineral. Feronikel dan alumina merupakan bagian dari portofolio produk yang mendukung strategi hilirisasi Antam, sementara proyek baterai membuka arah pengembangan rantai nilai yang lebih luas.

Dewa menjelaskan bahwa hilirisasi ditujukan untuk menambah nilai sumber daya mineral. Pendekatan ini juga menghubungkan rantai kegiatan, mulai dari sumber daya hingga produk olahan, sehingga manfaat pengolahan dapat berkembang di dalam negeri. Dalam menjalankan agenda tersebut, Antam menyatakan proyek perlu dikerjakan secara terukur, dengan memperhatikan tahapan dan kesiapan investasi maupun pelaksanaan. Menurut Dewa, langkah yang terukur diperlukan agar proyek dapat memberi kontribusi berkelanjutan dan manfaat bagi Indonesia. Dengan demikian, pengembangan produk hilir dan ekosistem baterai ditempatkan sebagai bagian dari upaya memperkuat nilai tambah mineral, bukan sekadar memperluas kapasitas pengolahan. Kemajuan proyek RKEF dan HPAL, rencana operasi fasilitas sel baterai, serta peningkatan penjualan feronikel dan alumina menggambarkan beberapa jalur yang ditempuh Antam dalam menjalankan agenda tersebut.

Phintraco Sekuritas menilai prospek laba PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) semakin ditopang oleh pertumbuhan EBITDA dan kontribusi laba dari entitas asosiasi yang meningkat. Dalam pandangan sekuritas tersebut, perkembangan bisnis hilirisasi memberi dukungan yang lebih nyata terhadap kinerja, seiring proyek pengolahan alumina dan penguatan ekosistem baterai mulai berperan dalam rantai nilai perusahaan. Kontribusi entitas asosiasi, terutama PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam proyeksi tersebut.

Berdasarkan perkiraan Phintraco Sekuritas, laba bersih Antam pada 2026 berpotensi mencapai sekitar Rp11,6 triliun. Angka itu mencerminkan pertumbuhan 61,6% dibandingkan proyeksi atau capaian pembanding yang digunakan sekuritas tersebut. Perkiraan tersebut bukan kepastian hasil perusahaan, melainkan estimasi analis yang bergantung pada perkembangan operasional, kinerja EBITDA, kontribusi laba asosiasi, serta faktor lain yang dapat memengaruhi usaha Antam. BAI dinilai penting karena peningkatan kontribusinya dapat memperkuat bagian laba yang diterima Antam dari investasi asosiasi, selain hasil dari kegiatan usaha yang dijalankan secara langsung.

Dengan mempertimbangkan prospek itu Phintraco Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham ANTM dan menetapkan target harga Rp4.

Baca juga: Evaluasi Kinerja Perangkat Daerah dalam Pembinaan Kampung Pancasila | Inisiatif Pengembangan Ekosistem Kendaraan Listrik di Indonesia