BNPB Nilai Dry Ice Bantu Atasi Asap Karhutla dan Picu Hujan

BNPB Nilai Dry Ice Bantu Atasi Asap Karhutla dan Picu Hujan

Jakarta | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menilai operasi modifikasi cuaca (OMC) yang memadukan penggunaan dry ice cukup efektif membantu menurunkan hujan di sejumlah wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Upaya tersebut dilakukan untuk mendukung penanganan asap sekaligus membantu memperbaiki kondisi lingkungan di kawasan yang mengalami kebakaran. Kepala BNPB Kristomei Sianturi menyampaikan perkembangan itu di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026). Menurut keterangan yang disampaikan, perubahan cuaca dan kondisi atmosfer di sejumlah lokasi turut menjadi perhatian dalam pelaksanaan operasi tersebut.

Salah satu indikator yang disebutkan BNPB adalah membaiknya jarak pandang. Sebelumnya, jarak pandang di wilayah terdampak dilaporkan kurang dari 1.000 meter. Kini, angka itu mencapai sekitar 7.000 meter. Peningkatan tersebut menunjukkan kondisi yang lebih baik dibandingkan saat asap karhutla membatasi pandangan. Meski demikian, angka itu merupakan gambaran yang disampaikan dalam keterangan BNPB dan tidak serta-merta berarti seluruh wilayah terdampak memiliki kondisi yang sama. Situasi dapat berbeda berdasarkan lokasi, waktu pengamatan, dan perkembangan kebakaran maupun cuaca setempat.

Pada hari pernyataan tersebut disampaikan, BNPB menerbangkan lima sorti di Kalimantan Tengah dan satu sorti di Sumatera Selatan. Penerbangan itu menjadi bagian dari pelaksanaan OMC di dua provinsi yang menghadapi dampak karhutla. Dalam operasi modifikasi cuaca, dry ice digunakan sebagai salah satu bahan untuk mendukung proses pembentukan hujan, dengan pelaksanaan yang disesuaikan terhadap kondisi atmosfer dan kebutuhan di lapangan. BNPB menilai kombinasi tersebut cukup membantu dalam upaya menurunkan hujan di area terdampak. Perkembangan jarak pandang dan pelaksanaan sorti menjadi informasi penting untuk memantau manfaat operasi, sementara penanganan karhutla tetap memerlukan pemantauan serta langkah lanjutan sesuai kondisi masing-masing wilayah.

Kristomei menjelaskan bahwa dry ice digunakan dengan tujuan membuka lapisan asap yang menghalangi masuknya sinar matahari. Dalam keterangan tersebut, penggunaan bahan itu ditempatkan sebagai bagian awal dari upaya penanganan asap karhutla sekaligus proses yang diharapkan dapat mendukung pembentukan hujan. Lapisan asap menjadi perhatian karena, menurut penjelasannya, keberadaannya menghambat sinar matahari untuk masuk. Karena itu, dry ice diarahkan untuk membantu membuka lapisan tersebut, bukan untuk menggantikan tahapan operasi modifikasi cuaca (OMC) berikutnya. Penjelasan ini merupakan uraian Kristomei mengenai maksud penggunaan dry ice dalam rangkaian upaya yang dilakukan.

Tahapan yang dipaparkan berlanjut setelah sinar matahari diharapkan dapat menembus lapisan asap. Kristomei menyebut, sinar matahari yang masuk diharapkan memicu proses yang membentuk awan hujan. Dengan demikian, tujuan yang disampaikan bukan sekadar membuat asap terbuka, melainkan memberi kesempatan bagi proses pembentukan awan hujan sebagaimana ia uraikan. Proses tersebut disampaikan sebagai harapan dalam rangkaian penanganan, bukan sebagai jaminan bahwa hujan pasti terjadi. Keterangan itu menghubungkan penggunaan dry ice dengan kondisi masuknya sinar matahari, kemudian dengan proses yang diharapkan menghasilkan awan hujan. Tidak ada mekanisme lain yang ditambahkan di luar tahapan yang dijelaskan oleh Kristomei.

Setelah tahap tersebut, OMC akan dilanjutkan dengan penggunaan natrium klorida atau NaCl. Menurut Kristomei, NaCl digunakan untuk membantu menurunkan hujan. Urutan yang ia sampaikan ialah dry ice untuk membuka lapisan asap, sinar matahari diharapkan masuk dan memicu proses pembentukan awan hujan, lalu OMC diteruskan dengan NaCl sebagai upaya membantu hujan turun. Uraian ini menggambarkan pembagian peran bahan dalam tahapan yang disebutkan narasumber, tanpa menyimpulkan hasil yang belum dipastikan. Dengan penjelasan tersebut, penggunaan dry ice dan NaCl merupakan bagian dari urutan upaya yang ia paparkan untuk mendukung pembentukan serta turunnya hujan di tengah penanganan asap karhutla.

Daftar wilayah prioritas Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan mengalami perubahan. Kristomei menyampaikan bahwa Riau tidak lagi dimasukkan sebagai wilayah prioritas dalam susunan terbaru. Sebelumnya, terdapat enam provinsi yang menjadi perhatian, tetapi daftar lengkapnya tidak dirinci dalam keterangan yang tersedia. Karena itu, identitas provinsi-provinsi lain dalam daftar sebelumnya tidak dapat dipastikan dan tidak perlu diasumsikan.

Dalam pembaruan tersebut, tiga wilayah ditambahkan sebagai prioritas, yaitu Papua Selatan, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan Timur. Perubahan ini menunjukkan bahwa cakupan perhatian OMC disesuaikan dengan kondisi yang ditemukan di lapangan. Keterangan yang disampaikan menyebut masih adanya titik api di wilayah-wilayah tersebut sebagai salah satu alasan penambahan. Dengan demikian, daftar terbaru mencerminkan kebutuhan untuk mengarahkan dukungan ke area yang masih menghadapi potensi kebakaran.

Masih ditemukannya titik api menjadi pertimbangan penting dalam penanganan karhutla. Kondisi itu menandakan bahwa upaya pengendalian belum berhenti dan perlu terus dilakukan. Penambahan tiga provinsi tidak berarti bahwa wilayah lain yang sebelumnya masuk prioritas sudah sepenuhnya terbebas dari risiko; informasi yang tersedia hanya menjelaskan perubahan daftar, tanpa merinci penilaian untuk setiap daerah yang dikeluarkan atau dipertahankan.

Kristomei juga menyampaikan bahwa penanganan masih terus berlangsung. OMC menjadi bagian dari upaya yang dilakukan untuk membantu menghadapi situasi karhutla, sementara penentuan wilayah prioritas mengikuti kondisi terkini. Karena itu, pembaruan daftar dapat dipahami sebagai penyesuaian fokus, bukan sebagai pernyataan bahwa kebakaran di suatu wilayah telah selesai. Pemantauan terhadap titik api dan perkembangan kondisi tetap diperlukan agar langkah penanganan dapat diarahkan sesuai kebutuhan.

Informasi mengenai wilayah prioritas ini memberi gambaran tentang perubahan fokus operasi, tetapi tidak memuat rincian lengkap mengenai seluruh provinsi dalam daftar sebelumnya maupun alasan pengeluaran setiap wilayah. Yang dapat dipastikan ialah Riau tidak lagi tercantum, sedangkan Papua Selatan, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan Timur ditambahkan karena masih terdapat titik api. Upaya penanganan karhutla pun dilaporkan tetap berjalan.

BNPB berencana melanjutkan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan menggunakan kombinasi bahan, termasuk dry ice, di wilayah yang masih mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Prioritas diberikan kepada daerah yang hingga kini belum memperoleh hujan, karena kondisi kering dapat membuat api bertahan dan memperbesar risiko asap menyebar. Pelaksanaan OMC akan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan, terutama pada kawasan yang masih menunjukkan titik kebakaran dan memerlukan dukungan untuk mengendalikan dampaknya.

Kristomei menyampaikan bahwa metode tersebut akan terus digunakan setelah dinilai cukup efektif dalam membantu menurunkan hujan. Menurutnya, penggunaan kombinasi dry ice dalam kegiatan modifikasi cuaca menjadi salah satu upaya untuk memicu hujan di daerah yang membutuhkan. Ia juga menyebut bahwa pelaksanaan langkah tersebut sejalan dengan perintah Presiden. Pernyataan itu menjadi dasar bagi BNPB untuk meneruskan upaya serupa pada wilayah yang masih terbakar, dengan mempertimbangkan kondisi cuaca serta hasil pemantauan terhadap area terdampak.

OMC sendiri dilakukan untuk membantu menghadirkan hujan di kawasan yang mengalami karhutla, bukan sebagai satu-satunya penanganan kebakaran. Karena itu, upaya ini berjalan bersama pemantauan dan penanganan di lapangan. Wilayah yang belum menerima hujan tetap menjadi perhatian, sementara hasil operasi yang sudah berlangsung digunakan untuk melihat jangkauan dampaknya. BNPB melaporkan hujan turun di 13 kabupaten di Kalimantan Barat, serta di wilayah Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Kristomei menyebut tiga dari empat provinsi yang menjadi lokasi OMC berhasil mengalami hujan. Keterangan hasil tersebut tidak merinci identitas provinsi keempat, sehingga tidak dapat dipastikan provinsi mana yang belum mengalami hujan berdasarkan informasi yang disampaikan. Hasil yang dilaporkan menunjukkan bahwa hujan telah terjadi di sejumlah wilayah sasaran, tetapi kondisi setempat tetap perlu dipantau untuk menentukan kebutuhan pelaksanaan OMC berikutnya.

Baca juga: Lanud Sjamsudin Noor Kerahkan Tangki Portable dan Gambut Injection di Kawasan Ring I Bandara Sjamsudin Noor Atasi Titik Api Karhutla | Krisis Karhutla: Upaya Pemadaman Intensif oleh Pemerintah | Penanganan Karhutla Sektor Selatan Kalbar Diperkuat, TNI Alihkan Perkuatan Pasukan