Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) dilaksanakan di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, dan berlangsung dengan meriah selama beberapa hari. Acara pembukaan muktamar diadakan pada tanggal yang telah ditentukan, dihadiri oleh ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Pembukaan ini mengawali rangkaian acara yang padat dan sarat makna, di mana tokoh-tokoh penting dari berbagai latar belakang hadir untuk memberikan sambutan dan arahan. Dari Menteri Agama hingga tokoh masyarakat, setiap perwakilan menyampaikan dukungan dan harapan mereka terhadap perkembangan organisasi NU ke depan.
Suasana pembukaan dipenuhi oleh semangat kebersamaan dan persatuan. Terlihat banyak anggota NU yang mengenakan identitas organisasi, serta berbondong-bondong mengikuti acara dari pagi hingga sore hari. Selain sambutan, ada juga sejumlah kegiatan budaya yang ditampilkan, memperlihatkan kekayaan tradisi yang melekat pada NU. Pembukaan tersebut tidak hanya sekadar seremonial, tetapi juga berfungsi sebagai momentum untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan dan sosial di kalangan anggotanya.
Setelah serangkaian acara berlangsung, muktamar resmi ditutup pada tanggal 31 Agustus 2026. Penutupan ini ditandai dengan pernyataan resmi dari pimpinan muktamar, yang mengajak semua anggota untuk meneruskan semangat yang telah dibangun selama muktamar. Dalam sesi penutupan, dilakukan evaluasi terhadap hasil-hasil yang dicapai selama berlangsungnya kegiatan. Tokoh-tokoh hadir kembali untuk memberikan pandangan mereka tentang arah dan masa depan NU, mengajak seluruh peserta untuk tetap komitmen pada visi dan misi organisasi. Momen ini menjadi sangat signifikan, menjadi titik lanjutan bagi semua anggota untuk mengimplementasikan hasil muktamar dalam langkah nyata bagi umat dan masyarakat.
Dalam muktamar yang ke-35 Nahdlatul Ulama, Mahfud MD, mantan Menko Polhukam, memberikan sambutan penuh pesona dan harapan untuk organisasi besar ini. Di awal pengucapannya, Mahfud MD mengucapkan selamat kepada Rais Aam yang baru dilantik, KH Miftachul Akhyar, dan Ketua Umum PBNU, KH Abdul Hakim Mahfudz. Pujian yang disampaikan Mahfud terhadap kepemimpinan mereka mencerminkan harapan besar akan masa depan Nahdlatul Ulama yang lebih bersatu dan solid.
Mahfud menekankan pentingnya persatuan di dalam tubuh NU. Dia menyampaikan bahwa masa lalu harus ditinggalkan demi mencapai tujuan bersama. Menurutnya, pertikaian yang sering terjadi anggota NU seharusnya tidak dijadikan penghalang untuk bergerak maju. Dalam pandangannya, kekuatan NU terletak pada kemampuannya untuk bersatu, terutama di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Dengan bersatunya elemen-elemen dalam NU, diharapkan organisasi ini dapat menjadi pilar penting dalam membangun masyarakat yang lebih baik.
Sebagai seorang tokoh yang peduli terhadap kemajuan bangsa, Mahfud MD juga mengajak umat NU untuk fokus pada hal-hal yang positif dan membangun. Pesan yang disampaikan menekankan bahwa setiap perbedaan pendapat harus diselesaikan dengan dialog dan pemahaman, bukan dengan konflik yang berkepanjangan. Kearifan lokal dan nilai-nilai yang diajarkan oleh NU harus dijadikan landasan untuk memperkuat komitmen dalam menciptakan harmoni di anggotanya.
Mahfud MD berbicara tentang bagaimana NU harus bergerak dengan penuh semangat, tidak hanya dalam aspek keagamaan tetapi juga dalam bidang sosial dan politik. Tujuan utamanya adalah memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat. Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai NU, diharapkan setiap langkah yang diambil dapat mendatangkan manfaat yang luas untuk semua.
Dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, Presiden Prabowo Subianto memberikan sambutan hangat kepada semua peserta, khususnya kepada tokoh-tokoh yang baru terpilih untuk memimpin organisasi ini. Ucapan selamat tersebut bukan hanya sebagai tanda penghormatan, tetapi juga sebagai pengakuan akan pentingnya peran Nahdlatul Ulama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Presiden Prabowo menekankan harapannya agar Nahdlatul Ulama, sebagai organisasi sosial dan keagamaan besar, terus berkontribusi dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Ia mengingatkan bahwa NU memiliki posisi strategis dalam membangun kerukunan antar umat beragama, yang berkontribusi pada stabilitas dan kedamaian di Indonesia. Melalui sinergi NU dan negara, diharapkan setiap langkah yang diambil dapat mendukung kemajuan bangsa.
Dalam sambutannya, Prabowo juga berbagi pengalaman pribadinya saat menerima kartu tanda anggota NU. Momen tersebut sangat berkesan baginya, karena mengingatkan kembali pada akar budaya dan tradisi yang telah diwariskan oleh para pendahulu. Kartu tanda anggota tersebut bukan hanya simbol keanggotaan, tetapi juga tanda komitmen untuk semakin mendalami ajaran dan nilai-nilai yang menjadi pegangan dalam setiap tindakan. Menurutnya, pengalaman ini menumbuhkan rasa tanggung jawab untuk mengabdikan diri bagi masyarakat.
Dengan menjalin kerjasama yang erat pemerintah dan Nahdlatul Ulama, diharapkan akan terwujud berbagai program yang dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Presiden Prabowo percaya bahwa kolaborasi ini akan memperkuat fondasi bangsa, menjadikannya lebih resilient dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Melalui sinergi yang solid, Nahdlatul Ulama dapat memainkan peran sentral dalam mendorong kemajuan bangsa dan memperkuat nilai-nilai kebangsaan.
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama merupakan pertemuan penting yang tidak hanya menjadi ajang konsolidasi internal, tetapi juga mencerminkan kematangan organisasi dalam mengelola perbedaan. Dalam muktamar ini, Presiden Prabowo Subianto memberikan apresiasi atas keberhasilan NU yang mampu menjalin kerukunan di tengah keragaman pandangan dan kepentingan anggotanya. Pengelolaan perbedaan yang efektif menjadi salah satu aspek kunci untuk menciptakan harmoni dalam masyarakat, dan NU telah menjadi contoh yang signifikan bagi bangsa Indonesia.
Salah satu poin yang disoroti dalam muktamar adalah bagaimana NU berhasil menjaga keseimbangan berbagai perspektif yang ada di dalam organisasinya. Dengan mengedepankan dialog dan musyawarah, NU mampu mencegah potensi konflik yang bisa muncul akibat perbedaan pendapat. Tindakan proaktif tersebut tidak hanya menguntungkan organisasi sendiri, tetapi juga memberikan teladan bagi masyarakat luas tentang pentingnya komunikasi yang baik dalam menyelesaikan perbedaan.
Ketahanan terhadap perbedaan juga berdampak positif terhadap persatuan nasional. Sebagai salah satu organisasi masyarakat terbesar di Indonesia, kontribusi NU dalam membangun ikatan sosial yang kuat sangatlah signifikan. Keberhasilan muktamar dalam menciptakan suasana damai dan rukun menunjukkan bahwa perbedaan tidak selalu berujung pada pertikaian, tetapi dapat menjadi katalisator untuk memperkuat rasa kebersamaan. Ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan inklusif dan saling menghormati dalam upaya menjaga persatuan di negara yang kaya akan keragaman seperti Indonesia.













