Papua Barat Daya – Kepala cabang Pelni Sorong, Jhoni Rachman bersama crew mewakili direksi PT Pelni (Persero) menghadiri Peringatan Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) ke-55 di Provinsi Papua Barat Daya tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat komitmen menghadirkan konektivitas transportasi yang aman, terjangkau, dan merata hingga ke wilayah-wilayah terluar.
Upacara Harhubnas Ke-55 tahun 2026 yang berlangsung di halaman Kantor BLU UPBU Kelas I Domine Eduard Osok (DEO) Sorong, Kamis (17/9/2026). Sekitar 300 peserta mengikuti rangkaian upacara yang mempertemukan unsur pemerintah daerah, TNI-Polri, perhubungan darat, laut dan udara, serta sejumlah instansi yang berkaitan langsung dengan pelayanan transportasi di Papua Barat Daya.
Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Papua Barat Daya, Viktor Solossa, S.Pd., S.T., M.T., bertindak sebagai inspektur upacara. Sementara itu, Gersom Ibrahim Babu, A.Md. LLAJ., S.Tr.Tra., dari BPTD Kelas II Papua Barat dipercaya sebagai komandan upacara.
Peringatan tahun ini mengusung tema “Menghubungkan Indonesia untuk Masa Depan Lebih Maju.” Tema tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan sektor perhubungan memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar memindahkan orang dan barang dari satu tempat ke tempat lainnya.
Di Papua Barat Daya, konektivitas memiliki arti strategis. Kondisi geografis yang terdiri atas wilayah kepulauan, pesisir, perkotaan hingga daerah yang sulit dijangkau menjadikan transportasi sebagai salah satu kunci pemerataan pembangunan dan pelayanan masyarakat.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam amanat Menteri Perhubungan RI yang dibacakan oleh inspektur upacara. Pemerintah menekankan bahwa keselamatan dan konektivitas harus berjalan beriringan, terlebih sektor transportasi menghadapi berbagai situasi darurat dan tantangan operasional yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Dalam kondisi lapangan yang tidak aman, keselamatan harus menjadi prioritas. Di sisi lain, ketika terjadi gangguan pada suatu jalur transportasi, diperlukan kesiapan rute alternatif agar mobilitas masyarakat maupun distribusi bantuan tetap dapat berjalan.
Bagi Papua Barat Daya, prinsip tersebut menjadi semakin penting karena transportasi merupakan penghubung utama antara pusat pemerintahan, kawasan ekonomi, fasilitas pendidikan dan kesehatan, hingga kampung-kampung yang berada jauh dari pusat kota.
Sorong sebagai salah satu pintu gerbang utama Papua Barat Daya memiliki posisi penting dalam jaringan tersebut. Aktivitas penerbangan, pelayaran, angkutan darat, distribusi logistik, serta pergerakan masyarakat bertemu di wilayah ini dan kemudian terhubung dengan berbagai daerah lainnya.
Karena itu, penguatan konektivitas tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, tetapi juga menyangkut bagaimana masyarakat dapat memperoleh layanan transportasi secara aman dan dengan biaya yang wajar.
Empat fokus utama turut ditekankan dalam arah pembangunan perhubungan ke depan, yakni menjaga layanan angkutan perintis agar wilayah tertinggal, terdepan dan terluar tidak terisolasi; memperkuat angkutan massal perkotaan; membangun integrasi antarmoda dari satu titik ke titik lainnya; serta memperbaiki sistem logistik untuk memperpendek rantai distribusi.
Bila berjalan secara konsisten, konektivitas yang semakin baik diharapkan dapat memberikan dampak langsung terhadap aktivitas masyarakat. Akses menuju sekolah, rumah sakit, pusat perdagangan dan sentra produksi menjadi lebih mudah, sementara distribusi kebutuhan pokok dan barang produksi daerah dapat berlangsung lebih efisien.
Peringatan Harhubnas juga menempatkan keselamatan transportasi sebagai perhatian utama. September dicanangkan sebagai Bulan Keselamatan Transportasi, yang diharapkan menjadi momentum untuk membangun budaya keselamatan secara berkelanjutan, bukan hanya selama momentum peringatan berlangsung.
Aspek sumber daya manusia juga menjadi perhatian. Kemajuan teknologi transportasi harus diimbangi dengan kualitas dan integritas para petugas yang berada di lapangan. Mereka dituntut tanggap terhadap kebutuhan masyarakat, tangguh menghadapi kondisi lapangan, serta bertanggung jawab terhadap aspek keselamatan dan keamanan.
Di Papua Barat Daya, tantangan tersebut melibatkan banyak unsur sekaligus. Pengelolaan transportasi tidak berdiri sendiri, melainkan membutuhkan koordinasi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, pengelola bandara dan pelabuhan, operator transportasi, lembaga navigasi, Basarnas, BMKG, serta berbagai instansi terkait lainnya.
Koordinasi lintas sektor menjadi penting untuk mendeteksi potensi gangguan sejak dini sekaligus memastikan pelayanan transportasi tetap berjalan ketika menghadapi kondisi yang tidak terduga.
Selain keselamatan pada moda transportasi, kedisiplinan masyarakat dalam berkendara juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Kepatuhan terhadap aturan lalu lintas dan kesadaran menjaga keselamatan bersama menjadi langkah sederhana yang dapat mengurangi risiko kecelakaan serta kerugian terhadap manusia maupun material.
Harhubnas ke-55 di Papua Barat Daya pada akhirnya membawa pesan bahwa pembangunan transportasi harus dirasakan manfaatnya secara nyata oleh masyarakat. Konektivitas bukan sekadar tentang tersedianya jalan, pelabuhan, bandara atau armada, tetapi tentang terbukanya akses dan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat di seluruh wilayah.
Dari Sorong, semangat tersebut kembali ditegaskan: setiap jalur transportasi harus mampu menjadi penghubung antardaerah, membuka akses ekonomi dan pelayanan publik, serta memperkuat kehadiran negara hingga wilayah yang paling jauh.
Momentum Harhubnas 2026 pun diharapkan tidak berhenti sebagai perayaan, melainkan menjadi titik penguatan langkah bersama untuk membangun sistem transportasi Papua Barat Daya yang semakin terintegrasi, aman, terjangkau dan berkelanjutan.
(Tim/Red)













