PDIP Buka Sekolah Partai bagi Generasi Muda Menjelang Pemilu 2029

PDIP Buka Sekolah Partai bagi Generasi Muda Menjelang Pemilu 2029

Jakarta | Menjelang Pemilu 2029, PDI Perjuangan mulai memperluas upaya untuk menjangkau pemilih Generasi Z melalui program Muda-Mudi Sekolah Partai. Program ini resmi dibuka di Jakarta pada Rabu, 21 Oktober 2026. Pembukaan tersebut menandai langkah partai untuk menghadirkan ruang pengenalan politik yang lebih terbuka bagi kalangan muda, termasuk mereka yang belum menjadi kader atau anggota partai. Sasaran ini penting karena pemilih muda akan menjadi bagian signifikan dari pemilih pada pemilu mendatang, sementara cara mereka memahami politik dapat berbeda dari generasi sebelumnya.

Ketua DPP PDIP Bidang Kehormatan sekaligus Kepala Sekolah Partai, Komarudin Watubun, menjelaskan bahwa penyelenggaraan sekolah partai kini dibuka dengan jangkauan lebih luas. Menurutnya, selama ini sekolah partai terkesan elitis dan dipahami sebagai kegiatan yang hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu atau orang-orang di dalam partai. Perluasan akses diharapkan mengubah kesan tersebut, sehingga generasi muda dari luar lingkungan partai juga dapat mengenal program pendidikan politik yang disediakan PDIP.

Melalui Muda-Mudi Sekolah Partai, PDIP berupaya mendekatkan kegiatan pendidikan politik kepada generasi muda. Pembukaan program ini sekaligus memperlihatkan adanya perhatian terhadap kelompok pemilih yang akan memasuki usia menentukan pilihan pada Pemilu 2029. Namun, informasi mengenai pembelajaran, tahapan kegiatan, maupun jumlah peserta belum dijelaskan dalam keterangan pembukaan yang disampaikan. Karena itu, perkembangan pelaksanaan program akan menjadi hal yang perlu dicermati untuk mengetahui bagaimana ruang belajar tersebut dijalankan dan siapa saja yang dapat mengikutinya.

Langkah membuka sekolah partai bagi peserta yang lebih beragam juga memberi kesempatan bagi anak muda untuk berinteraksi dengan gagasan dan proses politik secara langsung. Bagi PDIP, pendekatan ini dapat menjadi salah satu cara membangun komunikasi dengan pemilih muda sebelum masa kampanye Pemilu 2029. Keterbukaan akses menjadi pesan utama dari peluncuran program tersebut: sekolah partai tidak lagi diposisikan semata sebagai ruang internal bagi orang partai, tetapi mulai diarahkan agar dapat menjangkau generasi muda yang lebih luas. Pelaksanaannya akan menentukan sejauh mana tujuan itu dapat diwujudkan.

Ajakan PDIP kepada generasi muda untuk mengikuti pendidikan politik berangkat dari pandangan bahwa masa depan Indonesia berada di tangan mereka. Komarudin menilai keterlibatan anak muda dalam memahami kehidupan politik penting, terutama karena politik turut berkaitan dengan arah kebijakan dan perjalanan bangsa. Menurutnya, ketidaktertarikan generasi muda terhadap politik bukan perkara sepele, melainkan persoalan serius yang perlu mendapat perhatian.

Pendidikan politik di sekolah partai itu dimaksudkan sebagai ruang untuk belajar dan membangun pemahaman, bukan sebagai jalur yang otomatis mengikat peserta menjadi kader. Komarudin menegaskan bahwa setelah menyelesaikan pendidikan, peserta tidak diwajibkan bergabung dengan PDIP ataupun masuk ke dalam sayap-sayap partai. Keikutsertaan dalam kegiatan tersebut, dengan demikian, tidak serta-merta menentukan pilihan politik atau afiliasi organisasi mereka di kemudian hari.

Keputusan untuk bergabung dengan partai atau organisasi pendukung tetap diserahkan kepada masing-masing peserta. Mereka dapat mempertimbangkan pilihan tersebut secara mandiri setelah mengikuti proses pembelajaran, tanpa tekanan untuk mengambil langkah tertentu. Bagi Komarudin, hal yang lebih mendasar adalah agar generasi muda mengenal dan memahami sejarah bangsa. Pengetahuan itu dinilai penting sebagai bekal untuk melihat konteks kehidupan Indonesia serta memahami perjalanan yang membentuk keadaan saat ini. Dengan memahami sejarah, peserta diharapkan memiliki landasan yang lebih baik ketika menilai persoalan kebangsaan dan menentukan sikap. Karena itu, pendidikan politik tidak semata-mata diarahkan untuk menambah keanggotaan partai, tetapi juga memberi kesempatan kepada anak muda untuk memperoleh wawasan tentang politik dan perjalanan bangsa. Penekanan pada kebebasan peserta sekaligus menunjukkan bahwa pemahaman dan kesadaran menjadi tujuan utama yang hendak dijaga, sementara keputusan untuk berorganisasi tetap menjadi hak pribadi setiap peserta setelah mereka menyelesaikan pembelajaran tersebut.

Komarudin menjelaskan bahwa kegiatan Sekolah Partai bagi generasi muda dirancang sebagai ruang belajar yang terbuka dan partisipatif. Anak muda diajak hadir, menyampaikan gagasan, berkontribusi, berdiskusi, serta berkreasi bersama. Dengan keterlibatan langsung, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk bertukar pandangan dan memahami persoalan kebangsaan melalui percakapan yang terarah. Kegiatan ini mendorong mereka mengenali peran yang dapat dijalankan dalam kehidupan publik, sekaligus membangun keberanian untuk menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab. Proses belajar bersama tersebut diharapkan mempertemukan pengalaman dan sudut pandang peserta yang beragam.

Salah satu pokok pembelajaran ialah perjuangan bangsa Indonesia, termasuk kiprah Presiden pertama, Soekarno, dalam perjalanan menuju kemerdekaan dan pembentukan negara. Peserta juga mempelajari Pancasila sebagai dasar negara, bukan sekadar rangkaian sila yang dihafalkan, melainkan pedoman dalam memahami kehidupan bersama. Pembahasan itu dilengkapi dengan materi mengenai konstitusi dan penerapannya. Melalui pengenalan sejarah serta aturan dasar negara, peserta diharapkan memahami mengapa kehidupan berbangsa memiliki proses, tata cara, dan batas yang perlu dihormati. Pengetahuan tersebut menjadi bekal untuk menilai tindakan dan gagasan berdasarkan prinsip kebangsaan.

Komarudin menekankan pentingnya memahami proses dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta tidak mengambil langkah yang melanggar konstitusi. Pesan ini relevan bagi siapa pun yang ingin terlibat dalam politik, terlebih mereka yang kelak bercita-cita menjadi pejabat publik, presiden, ataupun wakil presiden. Keinginan untuk mengemban jabatan, menurut penekanannya, perlu disertai persiapan yang matang, pemahaman terhadap tanggung jawab, dan kesediaan mengikuti proses yang berlaku. Jabatan tidak semestinya dipaksakan hanya karena ambisi pribadi. Melalui pembelajaran bersama, generasi muda dapat menyiapkan diri secara bertahap, memahami nilai yang menjadi landasan negara, dan berpartisipasi dengan cara yang selaras dengan konstitusi.

Sekretaris Sekolah Partai PDIP, Nida Zidny Paradhisa, menjelaskan bahwa peserta yang mengikuti kegiatan ini telah melalui proses seleksi ketat. Pendaftaran dibuka secara daring dan menarik minat ribuan orang yang mengisi formulir. Dari jumlah pendaftar tersebut, panitia kemudian menyeleksi calon peserta berdasarkan sejumlah persyaratan dan pemeriksaan yang telah ditetapkan. Proses ini dilakukan untuk memastikan peserta terpilih sesuai dengan kriteria kegiatan.

Dalam tahap verifikasi, panitia memeriksa kartu tanda mahasiswa dan kartu tanda penduduk setiap pendaftar. Selain kelengkapan identitas, rekam jejak media sosial juga menjadi bagian dari penilaian. Pemeriksaan tersebut dilakukan sebelum panitia menetapkan ratusan orang untuk mengikuti sekolah partai. Dengan seleksi berlapis ini, kegiatan diharapkan diikuti peserta yang memiliki latar belakang serta kesiapan untuk menyimak materi dan berdiskusi mengenai politik.

Nida menyampaikan bahwa kegiatan tersebut tidak semata-mata dimaksudkan untuk mengenalkan peserta pada organisasi partai. Sekolah partai menjadi kesempatan untuk memperkenalkan PDIP secara lebih dekat, termasuk nilai dan pandangan yang dibawa partai. Melalui pertemuan langsung dan materi yang diberikan, peserta diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih utuh, sehingga dapat melihat kehidupan kepartaian dan politik dari sudut pandang yang lebih luas.

Menurut Nida, pendidikan politik yang dihadirkan juga tidak boleh hanya berfokus pada urusan elektoral atau upaya meraih kemenangan dalam pemilu. Pendidikan politik perlu menjangkau masyarakat dan memberikan bekal untuk memahami persoalan publik. Karena itu, kegiatan ini turut menekankan edukasi masyarakat serta upaya menjaga kewarasan demokrasi. Pendekatan tersebut menempatkan pembelajaran politik sebagai proses yang berkelanjutan, bukan sekadar persiapan menghadapi kontestasi.

Pelaksanaan kegiatan ini turut dihadiri jajaran DPP PDIP, yakni My Esti Wijayati dan Yuke Yurike. Hadir pula Bendahara Umum Sekolah Partai, Sigit K. Yunianto. Kehadiran para pengurus tersebut melengkapi rangkaian pembelajaran bagi para peserta terpilih.

Baca juga: Mendorong Generasi Muda untuk Berkontribusi dalam Pembangunan Indonesia | Pendidikan Berkualitas untuk Semua: Dukungan PAN untuk Program Sekolah Rakyat dan Garuda | Pendidikan Gratis untuk Sekolah Negeri: Rencana Presiden Prabowo