Kabut Asap Karhutla Mengganggu Operasional 16 Bandara di Papua

Kabut Asap Karhutla Mengganggu Operasional 16 Bandara di Papua

Jakarta | Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu operasional 16 bandara di Papua. Dampaknya tersebar di sejumlah provinsi, sehingga aktivitas penerbangan di berbagai wilayah dapat terdampak ketika kondisi udara membatasi jarak pandang. Bandara yang mengalami gangguan meliputi Sentani di Provinsi Papua; Mozes Kilangin Timika, Ilaga, dan Ilu di Papua Tengah; serta Wamena, Oksibil, dan Dekai di Papua Pegunungan.

Di Papua Selatan, bandara yang terdampak adalah Mopah di Merauke, Tanah Merah, Kepi, Ewer, Bade, Senggo, Manggelum, Yaniruma, dan Mindiptanah. Daftar tersebut mencakup bandara dengan peran penting dalam menghubungkan masyarakat dan wilayah yang berjauhan. Karena itu, gangguan akibat asap tidak hanya berpotensi memengaruhi jadwal perjalanan, tetapi juga kelancaran konektivitas udara di kawasan tersebut.

Kabut asap dapat mengurangi jarak pandang di sekitar bandara, termasuk pada area yang digunakan untuk proses kedatangan dan keberangkatan pesawat. Apabila jarak pandang tidak memenuhi kondisi yang diperlukan, penerbangan dapat mengalami keterlambatan, penundaan, atau pembatalan. Dampak yang terjadi pada setiap bandara maupun penerbangan bisa berbeda, bergantung pada kondisi cuaca dan tingkat kepekatan asap setempat. Penumpang sebaiknya memantau informasi terbaru dari maskapai atau pengelola bandara sebelum berangkat, terutama ketika kondisi asap masih berubah.

Dalam situasi seperti ini, keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama. Pihak terkait perlu menilai kondisi operasional berdasarkan jarak pandang dan keadaan di sekitar bandara, bukan semata-mata berupaya mempertahankan jadwal. Keputusan untuk melanjutkan, menunda, atau membatalkan penerbangan ditetapkan dengan mengutamakan keselamatan penumpang, awak, dan pesawat. Dengan demikian, gangguan pada operasional 16 bandara tersebut perlu dipahami sebagai langkah antisipasi terhadap risiko yang dapat timbul ketika kabut asap membatasi jarak pandang. Pembaruan informasi secara berkala juga membantu penumpang menyesuaikan rencana perjalanan apabila jadwal berubah.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan terus memantau perkembangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampaknya terhadap transportasi udara di berbagai daerah, termasuk Papua. Pemantauan dilakukan untuk memperoleh gambaran kondisi terkini di wilayah terdampak dan mendukung penanganan gangguan operasional bandara akibat kabut asap. Perubahan jarak pandang dan kondisi cuaca menjadi perhatian karena dapat memengaruhi kelancaran pelayanan penerbangan.

Dalam menghadapi situasi tersebut, Kementerian Perhubungan menjalankan pemantauan dan langkah antisipasi bersama instansi terkait. Koordinasi diperlukan agar informasi mengenai kondisi di lapangan dapat diterima dan ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Dengan demikian, pengelola penerbangan dapat menyesuaikan langkah operasional berdasarkan perkembangan situasi di masing-masing wilayah.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F Laisa, menyampaikan bahwa koordinasi dilakukan melalui Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I hingga X. Kantor-kantor tersebut berkoordinasi dengan pengelola bandara, AirNav Indonesia, maskapai penerbangan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta instansi lain yang terkait. Jaringan koordinasi ini menjadi bagian dari upaya memantau kondisi secara menyeluruh, termasuk dampak asap terhadap aktivitas penerbangan dan kesiapan layanan di bandara.

Lukman menjelaskan bahwa koordinasi tersebut bertujuan memantau situasi di setiap wilayah dan memastikan keselamatan serta keamanan penerbangan tetap menjadi prioritas. Informasi yang dihimpun dari berbagai pihak dapat membantu menentukan langkah yang diperlukan sesuai keadaan setempat. Apabila kondisi di suatu wilayah berubah, komunikasi antarpihak mendukung penyampaian informasi dan pengambilan keputusan operasional secara terkoordinasi.

Keterangan tersebut disampaikan Lukman di Jakarta pada Sabtu, 17 Oktober. Pemantauan berkelanjutan dan komunikasi lintas instansi menjadi bagian penting dalam merespons dampak karhutla terhadap transportasi udara. Di tengah gangguan yang dapat terjadi akibat kabut asap, perhatian utama tetap diarahkan pada keselamatan penumpang dan awak pesawat, keamanan operasional, serta kepastian informasi bagi pihak-pihak yang menjalankan layanan penerbangan.

Kementerian Perhubungan mencatat 2.021 penerbangan berjadwal domestik terdampak kabut asap karhutla sejak 11 Agustus 2026 hingga data per 13 Oktober 2026. Angka tersebut mencakup beragam gangguan operasional, bukan hanya pembatalan. Sebanyak 919 penerbangan mengalami keterlambatan, sementara 1.067 penerbangan dibatalkan atau ditunda. Selain itu, 18 penerbangan dialihkan ke bandara lain, enam pesawat kembali ke bandara keberangkatan, dan 11 penerbangan dimajukan jadwalnya. Rincian ini menunjukkan bahwa dampak asap terhadap perjalanan udara dapat muncul dalam bentuk perubahan jadwal maupun rute.

Gangguan tersebut berkaitan dengan kondisi jarak pandang dan keselamatan penerbangan ketika asap menyelimuti wilayah operasional bandara. Maskapai dan pengelola penerbangan perlu menyesuaikan keputusan dengan situasi aktual, sehingga penumpang dapat menghadapi keterlambatan, perubahan waktu keberangkatan, pengalihan, atau pembatalan. Data nasional Kemenhub menggambarkan akumulasi dampak pada penerbangan domestik berjadwal selama periode pelaporan, termasuk layanan yang melayani wilayah terdampak. Karena kondisi dapat berubah dari waktu ke waktu, angka tersebut merujuk pada pembaruan hingga 13 Oktober, bukan perkiraan jumlah akhir untuk seluruh masa kejadian.

Dampak juga tercatat pada layanan internasional. Sebanyak 12 penerbangan berjadwal rute Singapura–Pontianak pulang pergi dibatalkan pada 12–23 September 2026 akibat kondisi asap di Bandara Supadio, Pontianak. Pembatalan ini merupakan gangguan internasional yang terkait dengan asap, dan perlu dibedakan dari angka penerbangan domestik. Secara terpisah, terdapat 18 penerbangan domestik yang dibatalkan pada periode yang sama karena faktor lain, yaitu abu vulkanik Gunung Lewotolok dan Gunung Dukono, cuaca buruk, angin kencang, serta kebutuhan perawatan pesawat. Dengan pemisahan kategori tersebut, pembaca dapat memahami bahwa tidak seluruh pembatalan pada rentang waktu itu disebabkan karhutla. Data menunjukkan besarnya tekanan terhadap jadwal penerbangan, sekaligus menegaskan perlunya melihat penyebab gangguan secara terperinci saat membandingkan angka operasional.Pemerintah terus melakukan penanganan karhutla melalui pemadaman dari udara, termasuk operasi water bombing, untuk membantu mengendalikan kebakaran di wilayah rawan. Upaya ini penting ketika titik api berada di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat atau ketika kondisi lapangan membutuhkan dukungan pemadaman tambahan. Selain membantu menekan penyebaran api, operasi udara menjadi bagian dari langkah koordinasi lintas instansi dalam menghadapi dampak kebakaran dan kabut asap. Penanganan di lapangan dilakukan dengan memperhatikan situasi wilayah, ketersediaan sarana, serta kondisi cuaca yang dapat memengaruhi pelaksanaan penerbangan.

Berdasarkan data operasi, sejak 20 April hingga 12 Oktober 2026, pemadaman udara telah berlangsung sebanyak 5.035 siklus penerbangan. Kegiatan tersebut melibatkan 38 pesawat yang dioperasikan oleh 11 operator di berbagai wilayah rawan karhutla. Jumlah siklus itu menunjukkan intensitas pengerahan dukungan udara selama periode penanganan kebakaran. Pelaksanaan setiap penerbangan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi setempat. Dalam situasi kabut asap, langkah penanggulangan kebakaran juga berkaitan dengan upaya menjaga keselamatan penerbangan, sebab jarak pandang dan perubahan cuaca dapat berpengaruh terhadap kelancaran operasional bandara maupun rute penerbangan.

Kementerian Perhubungan mengimbau masyarakat agar tetap tenang apabila jadwal penerbangan mengalami penyesuaian. Perubahan jadwal dapat dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan, kondisi cuaca, dan situasi operasional terkini. Penumpang juga diminta tidak mudah mempercayai atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, terutama kabar mengenai gangguan penerbangan yang beredar melalui kanal tidak resmi. Sebelum berangkat menuju bandara, masyarakat sebaiknya memantau kondisi cuaca dan memeriksa informasi terbaru dari maskapai, termasuk pemberitahuan mengenai jadwal maupun status penerbangan. Ditjen Perhubungan Udara akan menyampaikan informasi lanjutan sesuai perkembangan situasi dan hasil koordinasi dengan instansi terkait. Dengan mengikuti sumber resmi, penumpang dapat merencanakan perjalanan secara lebih cermat dan memperoleh pembaruan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Baca juga: Kembali Beroperasinya Tiga Bandara Pasca Erupsi Anak Krakatau | Tak Hanya Logistik, Hercules TNI AU Bawa Dukungan Kesehatan dan Peralatan Untuk Menopang Perjuangan Pasukan Karhutla Kalsel | Bantuan Penanganan Karhutla untuk Lima Pemda di Sumatera Selatan