IHSG Turun 1,31% pada Awal Perdagangan, Saham Energi Tertekan

IHSG Turun 1,31% pada Awal Perdagangan, Saham Energi Tertekan

Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak turun pada perdagangan sesi pertama, Rabu, 21 Oktober 2026. Berdasarkan data pada pukul 09.35 WIB, indeks berada di level 5.209,5. Posisi tersebut mencerminkan pelemahan sebesar 69,39 poin atau 1,31% dibandingkan penutupan sebelumnya. Dengan demikian, tekanan jual telah membawa indeks ke bawah level penutupan terdahulu pada waktu pengamatan tersebut.

Aktivitas perdagangan yang tercatat hingga pukul 09.35 WIB mencapai volume 90,27 juta lot. Sementara itu, nilai transaksi saham di bursa berada di angka Rp5.237,63 miliar. Angka-angka ini memberikan gambaran mengenai transaksi yang sudah berlangsung pada awal sesi, ketika IHSG masih mencatat penurunan. Data tersebut merupakan potret pada waktu tertentu dan tidak menggambarkan perubahan indeks setelah waktu pengamatan.

Pergerakan IHSG pada sesi pertama menjadi perhatian pelaku pasar karena indeks utama bursa domestik itu mengalami koreksi cukup jelas pada awal perdagangan. Level 5.209,5, penurunan 69,39 poin, serta pelemahan 1,31% menjadi indikator utama kondisi pasar pada pukul 09.35 WIB. Di sisi lain, volume 90,27 juta lot dan nilai transaksi Rp5.237,63 miliar menunjukkan besaran aktivitas yang tercatat pada saat itu. Informasi ini merangkum perkembangan yang tersedia pada waktu tersebut, tanpa menyimpulkan arah pergerakan untuk sisa sesi perdagangan. Investor dapat menggunakan data indeks dan transaksi sebagai konteks untuk memantau kondisi pasar, dengan tetap membedakan angka pengamatan awal dan hasil perdagangan pada waktu lain. Hingga batas waktu data yang disebutkan, IHSG berada dalam wilayah negatif pada sesi pertama. Tidak ada angka lanjutan yang disertakan dalam laporan ini, sehingga posisi indeks dan aktivitas transaksi setelah pukul 09.35 WIB tidak dapat ditarik dari data tersebut. Fokus laporan tetap pada kondisi awal perdagangan sebagaimana tercermin dalam level indeks, perubahan poin dan persentase, volume, serta nilai transaksi yang telah tercatat.Data Refinitiv menunjukkan pelemahan IHSG pada awal perdagangan tidak tersebar merata di seluruh sektor. Tekanan paling besar datang dari sektor energi, yang turun 3,1%. Penurunan ini menjadikan energi sebagai penekan utama indeks pada sesi tersebut. Sektor material dasar juga bergerak melemah 1,8%, sementara sektor konsumer kritikal terkoreksi 1,4%. Perbedaan besaran penurunan tersebut menggambarkan bahwa sentimen negatif terkonsentrasi pada beberapa kelompok saham, khususnya energi dan material dasar. Meski angka sektoral memberi gambaran luas mengenai arah pasar, kontribusi saham individual turut menentukan gerak IHSG.

Sejumlah saham tercatat menjadi pemberat indeks, yakni PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA), PT DCI Indonesia Tbk. (DCII), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), dan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR). Daftar ini mencakup emiten dari bidang usaha yang berbeda, sehingga tekanan terhadap IHSG tidak hanya terkait dengan satu kelompok industri. BYAN dan MDKA, misalnya, berkaitan dengan sektor sumber daya dan pertambangan, sedangkan MORA dan DCII bergerak di bidang infrastruktur telekomunikasi dan pusat data. Pergerakan masing-masing saham berkontribusi terhadap perubahan indeks sesuai bobotnya.

Di sisi lain, terdapat saham-saham yang menopang pergerakan IHSG dan membantu menahan pelemahan lebih lanjut. Saham tersebut meliputi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), serta PT Astra International Tbk. (ASII). Kehadiran saham penopang tidak serta-merta membalikkan arah indeks ketika tekanan dari saham pemberat dan sektor yang melemah lebih kuat. Karena itu, daftar saham yang menekan dan menopang perlu dibedakan saat membaca dinamika pasar. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa pelemahan IHSG pada awal perdagangan merupakan hasil tarik-menarik antarsaham, dengan koreksi sektor energi sebagai tekanan sektoral terbesar.

Pelaku pasar masih mencermati langkah Bursa Efek Indonesia (BEI), pemerintah, dan Danantara setelah pengumuman MSCI memicu kekhawatiran mengenai prospek pasar modal Indonesia. Perhatian investor tertuju pada respons konkret dari masing-masing pihak, terutama upaya menjaga kepercayaan terhadap transparansi, likuiditas, dan tata kelola pasar. Selama belum ada kejelasan yang dinilai memadai, isu tersebut berpotensi terus memengaruhi keputusan transaksi.

Kekhawatiran bahwa Indonesia dapat diturunkan statusnya dari emerging market menjadi standalone market menjadi salah satu pemicu utama aksi jual besar-besaran pada pekan sebelumnya. Perubahan klasifikasi seperti itu dipandang dapat memengaruhi persepsi investor global dan aliran dana ke saham domestik. Meski pasar bergerak dinamis, bayang-bayang risiko tersebut masih terasa, sehingga pelaku pasar cenderung menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum mengambil posisi yang lebih agresif.

Investor juga menantikan realisasi rencana pembelian saham oleh Danantara. Perhatian tidak hanya tertuju pada pengumuman atau rencana, tetapi juga pada pelaksanaan, skala, dan dampaknya terhadap aktivitas perdagangan. Di saat yang sama, pasar mengamati apakah reli saham-saham badan usaha milik negara (BUMN) dapat berlanjut. Keberlanjutan kenaikan akan bergantung pada minat beli, kondisi fundamental emiten, serta sentimen yang berkembang setelah respons terhadap isu MSCI semakin jelas.

Selain itu, aksi pembelian kembali saham oleh sejumlah emiten konglomerat menjadi perhatian karena dapat memengaruhi pasokan saham dan persepsi investor terhadap valuasi perusahaan. Namun, pelaku pasar tetap perlu menilai setiap aksi korporasi berdasarkan tujuan, pendanaan, dan kondisi masing-masing emiten, bukan hanya melihat potensi dukungan terhadap harga saham dalam jangka pendek.

Arahan Presiden Prabowo Subianto agar penegakan aturan di pasar modal diperkuat juga menjadi bagian dari pertimbangan investor. Langkah pengawasan dan penegakan yang konsisten dapat membantu membangun kepercayaan, terutama saat pasar menghadapi ketidakpastian. Dalam waktu dekat, arah pergerakan saham kemungkinan tetap dipengaruhi oleh kombinasi perkembangan kebijakan, realisasi aksi korporasi, dan respons pasar terhadap penjelasan resmi mengenai pengumuman MSCI.

Di tengah tekanan yang membayangi IHSG dan saham energi, perhatian investor tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI). Rapat Dewan Gubernur telah berlangsung sejak Selasa, dengan keputusan kebijakan moneter dijadwalkan diumumkan pada hari itu. Penantian tersebut berlangsung saat rupiah sempat kembali menembus level Rp18.000 per dolar AS, sehingga arah kebijakan BI dinilai penting bagi pelaku pasar yang memantau stabilitas mata uang dan prospek aset domestik.

Hasil polling Research terhadap 13 institusi menunjukkan mayoritas responden mengantisipasi pengetatan kebijakan. Sebanyak 10 institusi memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, dari 5,75% menjadi 6,00%. Sementara itu, tiga responden lainnya memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga di level 5,75%. Perbedaan pandangan tersebut mencerminkan ketidakpastian mengenai respons bank sentral terhadap tekanan pada rupiah dan perkembangan kondisi ekonomi.

Perkiraan kenaikan suku bunga itu belum merupakan keputusan resmi BI. Jika benar terjadi, langkah tersebut akan menjadi kenaikan pertama setelah bank sentral mempertahankan suku bunga selama tiga bulan berturut-turut. Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga secara kumulatif 100 basis poin pada Mei–Juni 2026. Investor akan mencermati keputusan beserta penjelasan BI untuk menilai pertimbangan kebijakan dan sinyal mengenai langkah selanjutnya. Informasi tersebut dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap nilai tukar, biaya pendanaan, serta pergerakan saham.

Sentimen dari luar negeri turut mewarnai perdagangan.

Baca juga: Adapun, saham-saham yang mengalami penguatan harga terbesar yaitu AYLS, ASPI, TEBE, POLA dan FILM