DEN Proyeksikan Ekspor Produk Hilirisasi Indonesia Capai US$50 Miliar

DEN Proyeksikan Ekspor Produk Hilirisasi Indonesia Capai US$50 Miliar

Jakarta | Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memperkirakan nilai ekspor produk hilirisasi Indonesia yang mencakup nikel, aluminium, serta komponen baterai kendaraan listrik dapat mencapai sekitar US miliar hingga akhir tahun ini. Proyeksi tersebut menunjukkan besarnya potensi ekspor dari pengolahan bahan baku di dalam negeri, ketika komoditas tidak lagi hanya dikirim dalam bentuk mentah, tetapi diolah menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi. Angka itu disampaikan oleh Septian Hario Seto, anggota sekaligus Sekretaris Eksekutif DEN.

Dengan asumsi nilai tukar Rp18.000 per dolar AS, proyeksi US$50 miliar tersebut setara dengan sekitar Rp900 triliun. Perhitungan ini merupakan padanan nilai, bukan angka ekspor dalam rupiah yang terpisah. Besaran tersebut memberi gambaran skala penerimaan dari kelompok produk hilirisasi yang menjadi perhatian pemerintah dan pelaku industri, terutama di sektor mineral serta rantai pasok kendaraan listrik. Meski demikian, angka yang disebut DEN tetap merupakan perkiraan untuk capaian hingga akhir tahun, bukan hasil final yang telah tercatat.

Seto menyebut proyeksi itu hampir 45% lebih tinggi dibandingkan nilai ekspor produk terkait pada 2024, yang berada di kisaran US$34,5 miliar. Selisih nominal kedua angka tersebut sekitar US$15,5 miliar, sehingga perkiraan tahun ini mencerminkan kenaikan yang cukup besar secara tahunan. Perbandingan itu juga memperlihatkan laju pertumbuhan ekspor hasil pengolahan nikel, aluminium, dan komponen baterai kendaraan listrik berdasarkan cakupan yang disampaikan DEN. Capaian aktual pada akhir tahun akan menentukan seberapa dekat realisasi ekspor dengan proyeksi tersebut. Dengan demikian, estimasi US$50 miliar menjadi tolok ukur penting untuk menilai perkembangan kinerja ekspor hilirisasi, sekaligus menunjukkan kontribusi sektor-sektor tersebut terhadap perdagangan Indonesia.

Pengembangan hilirisasi di Indonesia mencakup beragam komoditas dan produk, bukan hanya nikel. Aluminium serta komponen baterai lithium juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Ragam sektor tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai ekspor produk hilirisasi perlu melihat lebih dari satu jenis industri. Dalam konteks ini, aluminium mendapat perhatian karena nilai ekspornya diperkirakan meningkat pada tahun ini.

Seto memperkirakan nilai ekspor produk aluminium Indonesia tahun ini berada pada kisaran US$7 miliar hingga US$7,2 miliar. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan nilai sekitar US$3,5 miliar pada 2025. Perkiraan itu menempatkan aluminium sebagai salah satu pendorong pertumbuhan ekspor produk hilirisasi yang turut diperhitungkan dalam proyeksi nasional. Namun, angka tersebut merupakan estimasi yang disampaikan Seto, bukan keterangan bahwa nilai ekspor final telah tercatat pada tingkat tersebut.

Perbandingan perkiraan tahun ini dan nilai pada 2025 memberikan gambaran mengenai skala pertumbuhan yang diproyeksikan. Meski demikian, informasi yang tersedia tidak merinci faktor-faktor yang mendasari kenaikan tersebut. Karena itu, proyeksi nilai ekspor aluminium sebaiknya dipahami sesuai batas keterangan yang disampaikan, tanpa mengaitkannya dengan penyebab tertentu yang belum dijelaskan. Penyampaian angka dalam bentuk rentang US$7 miliar hingga US$7,2 miliar juga menegaskan bahwa nilainya masih berupa perkiraan.

Selain aluminium, komponen baterai lithium melengkapi cakupan hilirisasi yang berkembang di Indonesia bersama nikel. Ketiganya memperlihatkan luasnya jenis produk yang masuk dalam pembahasan peningkatan nilai tambah dan ekspor. Proyeksi aluminium dari Seto menjadi salah satu angka penting dalam menilai potensi kontribusi berbagai sektor tersebut. Dengan mencermati setiap kategori secara terpisah, pembaca dapat memahami bahwa proyeksi ekspor hilirisasi bersandar pada lebih dari satu komoditas, sementara angka aluminium tahun ini tetap perlu diperlakukan sebagai perkiraan, bukan hasil akhir yang telah dikonfirmasi.

Dewan Energi Nasional (DEN) menaruh perhatian pada pengembangan komponen baterai lithium sebagai bagian dari agenda hilirisasi Indonesia. Perhatian ini mencakup produksi anoda dan katoda, dua komponen utama yang menentukan fungsi dan kinerja baterai. Pengolahan bahan hingga menjadi komponen bernilai tambah menunjukkan bahwa hilirisasi tidak berhenti pada pengolahan mineral mentah, tetapi dapat berlanjut ke tahap manufaktur yang lebih kompleks.

Dalam konteks tersebut, keberadaan fasilitas pemurnian lithium di Indonesia menjadi bagian dari pembahasan mengenai penguatan rantai pasok dan kapasitas industri baterai. Fasilitas pemurnian memungkinkan bahan diproses agar memenuhi kebutuhan industri lanjutan. Namun, kapasitas pengolahan perlu dipahami secara tepat: keberadaan fasilitas atau kemampuan memproduksi komponen tidak dengan sendirinya berarti Indonesia memiliki cadangan maupun sumber lithium. Kedua hal itu merupakan aspek yang berbeda dalam rantai industri.

Seto menjelaskan bahwa Indonesia dapat menjadi salah satu sumber produsen komponen baterai, termasuk anoda dan katoda, meskipun negara ini tidak memiliki lithium. Pernyataan tersebut menekankan kemampuan industri dalam mengolah atau mengindustrialisasikan bahan yang tidak tersedia dari sumber domestik. Dengan demikian, keterlibatan Indonesia dalam produksi komponen tidak didasarkan pada klaim kepemilikan bahan baku lithium, melainkan pada kemampuan membangun proses, fasilitas, dan keahlian manufaktur.

Pendekatan ini dipandang sebagai bagian dari ekosistem hilirisasi yang lengkap. Rantai nilai dapat melibatkan pasokan bahan dari berbagai sumber, pemurnian, pengolahan lanjutan, pembuatan komponen, hingga produksi baterai. Masing-masing tahap membutuhkan investasi, teknologi, tenaga kerja terampil, serta koordinasi industri dan pemerintah. Pengembangan anoda dan katoda berpotensi memperluas nilai tambah yang tercipta di dalam negeri sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam industri baterai. Karena itu, ukuran kemajuan hilirisasi bukan semata-mata kepemilikan seluruh bahan mineral, tetapi juga kemampuan mengolah dan menghasilkan produk industri bernilai lebih tinggi. Penjelasan Seto menegaskan perbedaan penting sumber bahan mentah dan kapasitas industri, sehingga potensi produksi komponen dapat dibahas tanpa menyatakan bahwa Indonesia memiliki lithium.

Seto menyampaikan perkembangan ekspor produk hilirisasi dalam konferensi pers di Istana Negara pada Selasa, 21 Oktober 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia menjelaskan bahwa proyeksi ekspor produk hilirisasi Indonesia yang dapat mencapai US$50 miliar telah dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto. Penyampaian itu menempatkan proyeksi tersebut sebagai bagian dari laporan mengenai perkembangan hilirisasi, bukan sekadar perkiraan yang disampaikan tanpa konteks kepada pemerintah.

Laporan kepada Presiden juga menunjukkan bahwa potensi ekspor hilirisasi menjadi perhatian dalam pembahasan kebijakan ekonomi nasional. Angka US$50 miliar menggambarkan besarnya peluang yang diproyeksikan dari pengolahan lebih lanjut berbagai komoditas di dalam negeri. Namun, proyeksi tersebut tetap perlu dibedakan dari nilai ekspor yang sudah tercatat. Realisasi ke depan akan bergantung pada perkembangan kegiatan produksi, investasi, dan kapasitas industri pengolahan. Karena itu, angka yang disampaikan Seto memberi gambaran mengenai arah potensi, sekaligus menjadi dasar untuk melihat bagaimana investasi dan fasilitas industri dapat mendukung pertumbuhan ekspor.

Di subsektor yang disebut memiliki prospek, hasil hilirisasi aluminium berpotensi mencatat pertumbuhan ekspor yang berarti. DEN memproyeksikan ekspor produk hasil hilirisasi aluminium dapat menembus US$10 miliar pada masa mendatang. Prediksi tersebut dikaitkan dengan penambahan investasi pada smelter-smelter aluminium baru di Indonesia. Jika investasi itu berkembang dan fasilitas baru beroperasi, kapasitas pengolahan di dalam negeri berpeluang meningkat, sehingga peluang untuk memasok pasar ekspor juga dapat bertambah. Meski demikian, nilai US$10 miliar bukan capaian yang telah terjadi dan tidak dapat diperlakukan sebagai angka ekspor saat ini. Besarnya realisasi akan ditentukan oleh perkembangan investasi, pembangunan serta pengoperasian smelter, dan kemampuan industri memenuhi permintaan. Dengan demikian, prospek aluminium memperlihatkan salah satu kemungkinan kontribusi hilirisasi terhadap target ekspor yang lebih luas, dengan tetap bergantung pada pelaksanaan investasi di tahun-tahun mendatang.