Jakarta | Menteri Perdagangan Budi Santoso menekankan pentingnya membangun perdagangan dalam negeri yang kuat agar produk dan pelaku usaha Indonesia mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Upaya ini membutuhkan ekosistem yang memberi ruang bagi produk lokal untuk dikenal, dipilih, dan digunakan oleh masyarakat. Pasar domestik tidak hanya menjadi tempat transaksi, tetapi juga landasan bagi pelaku usaha untuk menguji kualitas produk, memahami kebutuhan konsumen, serta memperkuat kemampuan produksi dan pemasaran.
Penguatan pasar domestik juga perlu berjalan seiring dengan perluasan akses ke pasar global. Keduanya memiliki peran yang saling melengkapi dalam mendorong pertumbuhan usaha. Permintaan di dalam negeri dapat menjadi pijakan untuk membangun skala usaha secara bertahap, sementara peluang ekspor membuka ruang bagi peningkatan kapasitas produksi. Dengan demikian, pelaku usaha dapat mengembangkan produk secara berkelanjutan dan memenuhi kebutuhan konsumen lokal maupun pembeli dari luar negeri.
Untuk menjangkau pasar yang lebih luas, pelaku usaha perlu meningkatkan daya saing melalui perbaikan kualitas, konsistensi pasokan, dan kemampuan memenuhi standar yang berlaku. Pemerintah juga mendorong promosi dan akses perdagangan agar produk lokal memiliki kesempatan lebih besar untuk bertemu dengan konsumen serta mitra usaha. Strategi tersebut dapat membantu produk Indonesia memperkuat posisinya di pasar domestik sekaligus membangun reputasi di pasar internasional.
Hilirisasi produksi menjadi bagian penting dalam upaya tersebut. Pengolahan bahan baku di dalam negeri dapat menciptakan nilai tambah, memperkuat keterkaitan antarsektor, dan membuka peluang bagi industri untuk menghasilkan produk dengan kualitas serta nilai ekonomi lebih tinggi. Langkah ini turut mendorong peningkatan kapasitas dan daya saing industri nasional. Dengan pasar domestik sebagai ruang tumbuh dan pasar global sebagai pendorong ekspansi, perdagangan diharapkan mendukung pelaku usaha Indonesia berkembang serta memberi manfaat lebih besar bagi perekonomian.
Program Campuspreneur yang dibina Kementerian Perdagangan menjadi salah satu upaya untuk mendorong mahasiswa mengembangkan potensi kewirausahaan dan menghasilkan produk yang mampu bersaing di pasar internasional. Melalui program ini, talenta muda tidak hanya diperkenalkan pada gagasan bisnis, tetapi juga dibekali pemahaman mengenai tahapan perdagangan secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir. Pendekatan tersebut membantu peserta melihat keterkaitan mutu produk, kesiapan usaha, dan kebutuhan calon pembeli.
Campuspreneur melibatkan lebih dari 25 perguruan tinggi. Dalam pembinaannya, mahasiswa belajar mengembangkan proses produksi, merancang desain produk, serta menyiapkan pengemasan yang sesuai dengan karakteristik pasar. Keterampilan tersebut penting agar produk memiliki nilai tambah dan dapat dipasarkan secara lebih profesional. Peserta juga didorong memahami peluang pasar, mengenali calon pembeli, dan membangun akses ke jaringan perdagangan, termasuk peluang untuk menjangkau pasar di luar negeri.
Rangkaian pembelajaran dari produksi hingga pemasaran memberi mahasiswa pengalaman yang lebih dekat dengan praktik perdagangan. Dengan mengetahui kebutuhan pasar dan cara mempresentasikan produk, peserta dapat menilai aspek yang perlu diperkuat sebelum menawarkan barang atau jasa kepada pembeli. Ragam produk yang disebut dalam kegiatan ini mencakup charcoal dan jasa animasi. Contoh tersebut menunjukkan bahwa peluang usaha mahasiswa dapat berasal dari produk berbasis komoditas maupun layanan kreatif, selama mampu menawarkan nilai yang relevan bagi pasar.
Dukungan terhadap peserta juga tampak dalam Trade Expo Indonesia ke-41 pada 2026. Kemendag menyediakan booth khusus bagi 20 kampus untuk memperkenalkan produk dan mempertemukan pelaku usaha muda dengan calon mitra dagang. Dalam pameran tersebut, transaksi yang tercatat mencapai USD 24,5 juta. Capaian ini memberi gambaran tentang potensi partisipasi perguruan tinggi dalam kegiatan promosi perdagangan sekaligus membuka ruang bagi produk mahasiswa untuk mendapat perhatian pembeli.
Melalui Campuspreneur dan fasilitasi pameran, mahasiswa memperoleh jalur untuk menguji kesiapan usaha, memperluas jejaring, dan mengenal proses transaksi lintas negara. Pembinaan yang menghubungkan keterampilan produksi dengan akses pasar dapat membantu usaha rintisan tumbuh lebih terarah. Bagi kampus, keterlibatan ini juga menjadi kesempatan untuk mendorong pembelajaran kewirausahaan yang terhubung dengan kebutuhan dunia usaha dan perdagangan global.
Pembinaan terhadap 2.600 desa menjadi salah satu upaya Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk menyiapkan produk lokal agar memiliki peluang memasuki pasar yang lebih luas. Pendampingan ini tidak berhenti pada dorongan untuk menghasilkan barang, tetapi mencakup sejumlah tahapan yang berkaitan dengan kesiapan produk. Dengan pendekatan tersebut, desa didorong memahami bahwa peluang pasar perlu ditopang oleh proses produksi yang terkelola, mutu yang terjaga, dan penyajian produk yang sesuai untuk ditawarkan kepada calon pembeli.
Aspek proses produksi menjadi perhatian agar kegiatan menghasilkan produk dapat berlangsung secara lebih terarah. Kemendag juga membina pelaku usaha di desa dalam pemeliharaan mutu. Mutu yang konsisten merupakan salah satu hal penting ketika produk diperkenalkan kepada pasar, termasuk calon pembeli dari luar negeri. Pembinaan ini membantu pelaku usaha memberi perhatian pada kualitas selama proses berlangsung, sehingga produk yang ditawarkan tidak hanya menarik pada satu kesempatan, tetapi memiliki standar yang dapat dijaga.
Selain produksi dan mutu, pengemasan turut menjadi bagian dari cakupan pembinaan. Kemasan berperan dalam menampilkan produk secara lebih siap untuk dipasarkan dan membantu menyampaikan informasi mengenai barang yang ditawarkan. Karena itu, perhatian pada pengemasan melengkapi upaya menyiapkan produk dari sisi proses dan kualitas. Ketiga unsur tersebut—produksi, pemeliharaan mutu, dan pengemasan—membentuk bekal dasar bagi produk desa untuk diperkenalkan dengan lebih baik kepada pasar.
Untuk membuka jalan menuju pembeli, Kemendag juga memfasilitasi business matching yang mempertemukan produk dengan calon pembeli luar negeri. Pertemuan ini memberi kesempatan bagi pelaku usaha untuk mengenalkan produk secara langsung dan menjajaki kecocokan dengan kebutuhan pembeli. Fasilitasi tersebut menghubungkan pembinaan di tingkat desa dengan peluang pasar ekspor, tanpa mengabaikan kesiapan produk yang telah dibangun melalui pendampingan. Dengan menjangkau 2.600 desa, upaya ini diarahkan agar semakin banyak pelaku usaha memiliki bekal untuk menawarkan produk dan memperoleh akses pertemuan dengan pembeli potensial dari luar negeri.
Menjelang akhir 2026, Kementerian Perdagangan menyiapkan agenda untuk mendorong belanja masyarakat dan memperkuat pasar domestik. Salah satu fokusnya adalah Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas), yang menjadi momentum belanja melalui kanal digital. Pemerintah juga merencanakan program diskon di jaringan ritel modern. Kedua agenda tersebut diarahkan untuk memberi ruang bagi kegiatan perdagangan dan mendorong konsumen berbelanja, tanpa mengabaikan upaya memperkuat posisi produk dalam negeri di pasar Indonesia.
Rencana program diskon mencakup berbagai jenis gerai ritel modern, mulai dari minimarket hingga department store. Dengan jangkauan bentuk ritel yang beragam, agenda belanja ini melibatkan saluran yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari maupun pilihan belanja yang lebih luas. Harbolnas melengkapi upaya tersebut melalui perdagangan daring. Penyebutan kedua kanal ini menggambarkan pendekatan yang mencakup transaksi online dan gerai fisik sebagai bagian dari strategi perdagangan menjelang penghujung tahun.
Penguatan pasar domestik menjadi salah satu kaitan penting dalam agenda tersebut. Mendorong belanja masyarakat dapat berjalan seiring dengan upaya menyediakan pasar bagi barang produksi dalam negeri. Karena itu, Harbolnas dan diskon ritel diposisikan sebagai bagian dari rangkaian strategi untuk menggerakkan perdagangan sekaligus memberi perhatian pada produk lokal. Rencana ini tidak dengan sendirinya menjelaskan besaran dampak atau hasil yang akan dicapai; pelaksanaannya tetap menjadi agenda yang disiapkan menjelang akhir tahun.
Strategi perdagangan tersebut dibahas Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam acara Awards 2026: Best Consumer pada Kamis, 29 Oktober 2026.
Baca juga: Strategi Nasional untuk Meningkatkan Produk Lokal dalam Pasar Haji dan Umrah | Cooling System dan DDS, Bripka Ristyanto Sambangi Warga Desa Cibadak Perkuat Kamtibmas | Danantara Siapkan Investasi Pabrik Etanol untuk Perkuat Kemandirian Energi






