Jakarta | Kerja sama Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) diwujudkan melalui APTISI Executive Rector Leadership Academy (AERLA). Program ini dirancang sebagai ruang pengembangan kepemimpinan bagi para pemimpin perguruan tinggi swasta, sekaligus sebagai upaya memperkuat kesiapan institusi menghadapi perubahan di sektor pendidikan tinggi. Kolaborasi tersebut menghubungkan pengalaman organisasi perguruan tinggi dengan peran pemerintah dalam mendorong peningkatan mutu dan tata kelola pendidikan tinggi di Indonesia.
Salah satu tujuan utama AERLA ialah menyetarakan standar kepemimpinan rektor perguruan tinggi. Kesetaraan standar ini penting agar pemimpin institusi memiliki pemahaman yang memadai mengenai tanggung jawab strategis, pengelolaan organisasi, dan arah pengembangan kampus. Dengan landasan kepemimpinan yang lebih terukur, rektor diharapkan dapat menjalankan perannya secara efektif di tengah perubahan kebijakan, kebutuhan masyarakat, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Program ini juga dapat menjadi sarana untuk membangun kesamaan perspektif mengenai kualitas kepemimpinan di lingkungan perguruan tinggi swasta.
Penguatan kepemimpinan berkaitan erat dengan tata kelola pendidikan tinggi. Rektor perlu mampu mengambil keputusan yang berpijak pada kebutuhan institusi, menjaga akuntabilitas, dan mendorong peningkatan mutu secara berkelanjutan. Melalui AERLA, APTISI dan Kemdiktisaintek berupaya mendukung kapasitas tersebut agar pengelolaan kampus semakin kuat dan responsif. Upaya ini relevan ketika perguruan tinggi dituntut beradaptasi dengan transformasi pendidikan, perubahan kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja, serta harapan publik terhadap layanan pendidikan yang berkualitas.
Ketua Umum APTISI Budi Djatmiko menyampaikan bahwa gagasan standardisasi kepemimpinan rektor telah dirancang sejak lama. AERLA menjadi wujud konkret dari gagasan tersebut melalui kerja sama APTISI dan Kemdiktisaintek. Kehadiran program ini menandai langkah untuk membangun kerangka pengembangan pemimpin perguruan tinggi yang lebih konsisten, sekaligus memperkuat tata kelola pendidikan tinggi secara luas. Pelaksanaannya diharapkan membantu para rektor mengembangkan kapasitas kepemimpinan yang sesuai dengan tantangan institusi dan perubahan lingkungan pendidikan.
Percepatan AERLA berkaitan dengan kebutuhan menyiapkan pimpinan perguruan tinggi swasta menghadapi era Education 6.0. Budi Djatmiko menyampaikan bahwa perubahan pendidikan telah berlangsung melalui penetrasi kecerdasan artifisial dan disrupsi teknologi. Perkembangan tersebut menjadi alasan penting bagi rektor dan pemimpin perguruan tinggi untuk memperoleh persiapan lebih dini. AERLA dimaksudkan sebagai ruang untuk membantu mereka mengenali perubahan yang sedang terjadi dan menimbang kesiapan institusi dalam menghadapinya. Dengan mempercepat program ini, APTISI dan Kemdiktisaintek mengarahkan perhatian pada kebutuhan kepemimpinan di tengah lanskap pendidikan yang terus berubah, bukan hanya pada situasi kampus saat ini.
Perubahan lain yang disebut Budi adalah pergeseran konsep kampus, dari yang berbasis fisik menuju kampus berbasis global. Pergeseran ini menunjukkan bahwa pengertian mengenai kampus tidak lagi semata-mata bertumpu pada keberadaan ruang dan fasilitas fisik. Dalam konteks perubahan tersebut, pimpinan perguruan tinggi perlu memahami bahwa kecerdasan artifisial, disrupsi teknologi, dan perubahan konsep kampus hadir sebagai bagian dari lanskap yang perlu diantisipasi bersama. Penekanan pada faktor-faktor itu menjelaskan mengapa persiapan kepemimpinan tidak sebaiknya ditunda. AERLA dipercepat agar proses pembekalan dapat dimulai sebelum perubahan pendidikan semakin berbeda dari pola yang dikenal sekarang.
Program ini ditujukan untuk mempersiapkan rektor serta pimpinan perguruan tinggi lebih dini menghadapi perubahan pendidikan yang diperkirakan berbeda pada 2035. Tahun tersebut menjadi titik perhatian dalam melihat kebutuhan antisipasi, tanpa mengabaikan perubahan yang sudah berlangsung saat ini. Bagi pemimpin perguruan tinggi, persiapan dini berarti memiliki kesempatan untuk mencermati arah perubahan dan memahami tantangan yang disebutkan, termasuk penetrasi kecerdasan artifisial, disrupsi teknologi, serta pergeseran dari kampus berbasis fisik menuju berbasis global. Dengan demikian, percepatan AERLA berangkat dari kebutuhan untuk menyiapkan kepemimpinan menghadapi Education 6.0 dan perubahan lanskap kampus, sesuai dengan alasan yang disampaikan Budi Djatmiko.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Khairul Munadi, mengapresiasi inisiatif APTISI dalam menghadirkan AERLA sebagai ruang pengembangan kapasitas kepemimpinan bagi pimpinan perguruan tinggi swasta. Menurutnya, upaya menyiapkan pemimpin tidak dapat dipisahkan dari agenda transformasi pendidikan tinggi. Perubahan kebijakan, perkembangan teknologi, dan kebutuhan masyarakat menuntut perguruan tinggi untuk terus beradaptasi. Karena itu, pimpinan perlu memiliki kemampuan membaca tantangan, menentukan arah institusi, serta menggerakkan seluruh unsur kampus agar perubahan dapat dijalankan secara terencana.
Khairul memandang kapasitas kepemimpinan sebagai salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan transformasi perguruan tinggi. Perubahan tidak cukup berhenti pada pembaruan tata kelola atau penyusunan strategi, melainkan perlu diwujudkan dalam kinerja institusi dan kontribusi yang dirasakan secara luas. Pemimpin yang memiliki kompetensi memadai dapat mendorong lingkungan akademik yang responsif, memperkuat kolaborasi, dan memastikan sumber daya kampus digunakan untuk menjawab kebutuhan publik. Dengan demikian, perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan dan pengetahuan, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat dan bangsa.
Inisiatif AERLA dinilai sejalan dengan agenda Diktisaintek Berdampak, yang menekankan kontribusi pendidikan tinggi terhadap penyelesaian persoalan dan kemajuan Indonesia. Penguatan pemimpin menjadi bagian dari upaya membangun institusi yang mampu menerjemahkan agenda tersebut ke dalam prioritas dan tindakan nyata. AERLA juga melengkapi program Future Leaders yang diperuntukkan bagi pimpinan perguruan tinggi negeri. Kehadiran dua skema ini membuka jalur pengembangan kepemimpinan untuk kelompok pimpinan yang lebih luas, termasuk di lingkungan perguruan tinggi swasta. Pendekatan tersebut memungkinkan peningkatan kompetensi menjangkau ekosistem pendidikan tinggi secara lebih menyeluruh dan efisien. Kolaborasi kementerian dan APTISI pun dapat membantu memperluas praktik kepemimpinan yang adaptif, berorientasi pada hasil, serta selaras dengan kebutuhan institusi dan masyarakat. Dengan cakupan yang saling melengkapi, pengembangan pemimpin diharapkan tidak berjalan terpisah, tetapi menjadi bagian dari upaya bersama memperkuat mutu, relevansi, dan dampak pendidikan tinggi di Indonesia.
AERLA diproyeksikan menjadi program strategis jangka panjang untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan perguruan tinggi swasta (PTS) di Indonesia. Program ini diarahkan untuk mengakselerasi peningkatan mutu dan tata kelola institusi, dengan cakupan sasaran yang luas, yakni sekitar 70.000 pimpinan PTS di seluruh Indonesia. Proyeksi tersebut menempatkan AERLA bukan sekadar kegiatan pelatihan satu kali, melainkan sebagai upaya pembinaan berkelanjutan yang dirancang menjangkau pemimpin perguruan tinggi dari beragam wilayah dan karakter kelembagaan. Fokus pada mutu dan tata kelola juga memberi arah bagi pengembangan kapasitas para pimpinan secara bertahap dan terencana dalam jangka panjang.
Pelaksanaan angkatan pertama dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, pada 21–23 Oktober 2026. Sebanyak 40 rektor dari PTS bereputasi unggul terpilih untuk mengikuti pelatihan perdana ini. Pemilihan peserta tersebut menjadi bagian dari tahap awal pelaksanaan program, sebelum proyeksi jangkauan yang lebih luas kepada pimpinan PTS di berbagai daerah. Dengan demikian, angkatan pertama menghadirkan kelompok rektor sebagai peserta awal dalam rangkaian AERLA. Jadwal tiga hari itu menyediakan kerangka pelaksanaan kegiatan, sementara sasaran program jangka panjang tetap mencakup puluhan ribu pimpinan perguruan tinggi swasta di seluruh Indonesia.
Materi dan kegiatan AERLA mencakup pelatihan kepemimpinan, kolaborasi riset, serta penguatan kemitraan industri. Ketiga bidang tersebut menjadi ruang pembahasan bagi para rektor selama kegiatan berlangsung. Pelatihan kepemimpinan berkaitan dengan penguatan kapasitas para pemimpin institusi, sedangkan kolaborasi riset dan kemitraan industri melengkapi cakupan program melalui perhatian pada kerja sama akademik dan hubungan dengan dunia industri. Rincian ini menunjukkan lingkup agenda yang disiapkan untuk angkatan pertama tanpa mendahului hasil pelaksanaannya.
Baca juga: Inisiatif Telkom dalam Transformasi Digital: Meluncurkan Kerangka Scale | Transformasi Energi: Potensi Hemat Devisa melalui Bioenergi | Pendidikan Berkualitas untuk Semua: Dukungan PAN untuk Program Sekolah Rakyat dan Garuda






