Kota Ternate | Antrean kendaraan di SPBU Batu Anteru, Kota Ternate, Maluku Utara, memanjang hingga ratusan meter ketika warga datang untuk mengisi bahan bakar minyak. Sepeda motor dan mobil terlihat berbaris di area sekitar stasiun pengisian, membuat proses menuju dispenser berlangsung lebih lama dari biasanya. Pemandangan tersebut menjadi perhatian warga karena antrean muncul saat banyak pengendara berupaya memperoleh Pertalite.
Kepadatan itu terjadi ketika penjualan Pertalite difokuskan di SPBU Batu Anteru. Dengan layanan terkonsentrasi di satu lokasi, kendaraan dari berbagai arah berkumpul untuk mengisi bahan bakar di tempat yang sama. Akibatnya, volume kendaraan yang menunggu bertambah dan barisan antrean meluas ke jalan sekitar. Pengendara perlu bersabar, sementara pengguna jalan lain berhadapan dengan kepadatan di kawasan tersebut.
Pihak SPBU membantah adanya kelangkaan stok. Karena itu, antrean panjang di Batu Anteru tidak serta-merta menunjukkan bahwa persediaan Pertalite habis atau tidak tersedia. Situasi yang terlihat berkaitan dengan pemusatan penjualan di lokasi itu, sehingga banyak warga mendatangi SPBU yang sama dalam waktu berdekatan. Perbedaan kepadatan antrean dan kondisi stok penting dipahami agar informasi yang beredar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru.
Bagi warga yang hendak mengisi BBM, antrean dapat berdampak pada waktu perjalanan dan aktivitas harian. Pengendara mungkin perlu memperhitungkan waktu tambahan, mengikuti arahan petugas, serta menjaga agar kendaraan tidak menghalangi arus lalu lintas. Sementara itu, pengguna jalan yang tidak mengisi BBM dapat mempertimbangkan jalur lain apabila kondisi di sekitar SPBU sedang padat. Langkah tersebut membantu mengurangi hambatan di ruas jalan dan menjaga keselamatan semua pengguna.
Peristiwa di Batu Anteru menunjukkan bagaimana pemusatan layanan dapat memicu penumpukan kendaraan, meskipun pihak SPBU menyatakan stok bukan persoalannya. Informasi mengenai kondisi antrean dan operasional penjualan di lokasi dapat membantu masyarakat merencanakan perjalanan dengan lebih baik. Warga juga dapat mengikuti keterangan resmi dari pihak terkait sebelum menyimpulkan penyebab kepadatan. Dengan demikian, perhatian tetap tertuju pada fakta yang tersedia: antrean panjang terjadi di tengah penjualan Pertalite yang difokuskan di SPBU tersebut.
Pengalaman Yus, sopir angkutan kota, memperlihatkan bagaimana antrean Pertalite di Ternate dapat menyita waktu. Ia mulai bergabung dengan antrean di jalan sekitar pukul 05.00 WIT. Pada saat itu, Yus sudah berada dalam barisan kendaraan yang menunggu giliran menuju SPBU. Namun, ia tidak langsung dapat memasuki area pengisian. Waktu terus berjalan sementara antrean bergerak hingga akhirnya ia baru masuk ke area SPBU sekitar pukul 08.00 WIT. Rentang sejak mulai mengantre di jalan sampai tiba di area tersebut mencapai kurang lebih tiga jam. Urutan ini menggambarkan lamanya proses menunggu yang dialami Yus.
Masuk ke area SPBU sekitar pukul 08.00 WIT belum berarti Yus dapat segera mengisi bahan bakar. Setelah melewati antrean di jalan dan mencapai area SPBU, ia masih harus menunggu sekitar setengah jam. Dengan demikian, waktu menunggu yang ia alami tidak berhenti ketika kendaraan masuk ke area pengisian. Ada jeda tambahan sebelum gilirannya tiba untuk mendapatkan Pertalite. Keterangan Yus menunjukkan dua tahap waktu yang berbeda: menunggu di jalan sejak sekitar pukul 05.00 WIT hingga masuk area SPBU sekitar pukul 08.00 WIT, kemudian menunggu lagi di dalam area tersebut.
Baru sekitar pukul 08.30 WIT Yus dapat mengisi Pertalite. Jika dihitung dari awal ia bergabung dalam antrean di jalan, proses itu berlangsung sekitar tiga setengah jam sampai pengisian dapat dilakukan. Sementara itu, waktu dari masuk ke area SPBU hingga mengisi bahan bakar adalah sekitar setengah jam. Rangkaian waktu tersebut menegaskan bahwa kedatangan di SPBU bukan akhir dari penantian. Pengalaman Yus memberikan gambaran langsung mengenai antrean yang berlangsung sejak dini hari dan berlanjut setelah kendaraan masuk ke area SPBU. Ia mulai mengantre sekitar pukul 05.00 WIT, masuk area sekitar pukul 08.00 WIT, lalu mengisi Pertalite sekitar pukul 08.30 WIT.
Operator SPBU Batu Anteru, Nasarudin, menjelaskan bahwa antrean panjang kendaraan di lokasi tersebut berkaitan dengan terbatasnya tempat yang melayani pembelian Pertalite. Menurut keterangannya, untuk saat ini SPBU Batu Anteru menjadi satu-satunya SPBU di kawasan itu yang melayani penjualan Pertalite, sedangkan SPBU lain tidak menyediakan layanan penjualan jenis BBM tersebut. Akibatnya, warga yang hendak membeli Pertalite terpusat pada satu lokasi dan jumlah kendaraan yang datang dapat meningkat, terutama pada jam-jam ramai.
Situasi tersebut perlu dibedakan dari pernyataan bahwa stok Pertalite mengalami kelangkaan. Nasarudin menegaskan bahwa pihak SPBU membantah adanya kelangkaan stok. Penjelasan mengenai hanya satu SPBU yang melayani penjualan menerangkan mengapa antrean terkonsentrasi, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa persediaan BBM di SPBU habis atau pasokan sedang langka. Dengan demikian, kepadatan kendaraan dan ketersediaan stok merupakan dua hal berbeda yang perlu dipahami secara terpisah. Antrean bisa terbentuk karena layanan penjualan terpusat, tanpa harus diartikan sebagai konfirmasi adanya kekurangan pasokan.
Nasarudin juga menyampaikan jadwal pelayanan SPBU Batu Anteru. Pelayanan berlangsung sampai Sabtu, sementara pada Minggu SPBU tersebut tutup. Jadwal ini menjadi informasi penting bagi warga yang merencanakan pembelian Pertalite, khususnya karena lokasi itu disebut sebagai satu-satunya SPBU yang melayani penjualan BBM tersebut saat ini. Warga dapat mempertimbangkan waktu kunjungan pada hari pelayanan agar tidak datang ketika SPBU tutup. Namun, keterangan tentang jadwal operasional tidak mengubah penjelasan operator terkait stok: pihak SPBU membantah klaim kelangkaan. Pernyataan Nasarudin berfokus pada cakupan layanan dan hari operasional, bukan pengumuman bahwa pasokan Pertalite telah habis. Karena itu, penyebab antrean yang disampaikan adalah pemusatan pembeli di satu SPBU, sementara informasi mengenai ketersediaan stok tetap merujuk pada bantahan pihak SPBU terhadap klaim kelangkaan.
Kepadatan antrean bahan bakar tidak hanya dilaporkan di Ternate. Situasi serupa juga disebut terjadi di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, dengan barisan kendaraan yang panjang di sejumlah titik pengisian. Antrean kendaraan di wilayah ini dilaporkan dapat mencapai sekitar dua kilometer. Panjangnya barisan tersebut membuat pengisian BBM menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari bagi warga dan pengendara yang melintas. Mereka harus menghadapi antrean sebelum dapat melanjutkan perjalanan atau kembali beraktivitas.
Salah satu lokasi yang disebut mengalami kepadatan adalah SPBU Wonomulyo, yang berada di Jalan Trans Sulawesi. Letaknya di jalur yang ramai dilalui kendaraan menjadikan kondisi antrean mudah terlihat oleh pengguna jalan. Ketika barisan memanjang, kendaraan yang hendak mengisi BBM berkumpul di sekitar lokasi dan dapat menambah kepadatan lalu lintas. Bagi pengendara, panjang antrean berarti waktu perjalanan perlu disesuaikan, sementara warga setempat juga harus memperhitungkan kemungkinan menunggu lebih lama untuk memperoleh layanan pengisian.
Berdasarkan informasi yang disampaikan sumber, Kabupaten Polewali Mandar memiliki empat SPBU. Meski jumlah lokasi pengisian itu menjadi bagian dari konteks yang tersedia, antrean panjang tetap disebut sebagai hal yang kerap terlihat di daerah tersebut. Laporan mengenai situasi ini menambah gambaran bahwa persoalan waktu tunggu BBM dirasakan masyarakat di lebih dari satu wilayah, termasuk Ternate dan Polewali Mandar. Warga serta pengendara di kedua daerah berharap pemerintah dan Pertamina dapat menghadirkan solusi konkret, sehingga waktu mereka tidak terus tersita untuk mengantre BBM dan dapat digunakan untuk kebutuhan maupun kegiatan sehari-hari lainnya.
Baca juga: Bahlil Sampaikan Solusi Atas Antrean Panjang di SPBU | Coba Masuk Lewat Antrean Kedubes AS, Pria Asal Jakarta Diamankan Petugas






