JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 18 September 2026, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, juga dikenal sebagai Bappenas, telah mengambil langkah strategis untuk melibatkan generasi muda dalam proses pembangunan di Indonesia. Salah satu inisiatif yang signifikan adalah kerjasama dengan Tanoto Foundation, sebuah lembaga filantropi yang berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengembangan masyarakat. Kerja sama ini bertujuan untuk mendorong partisipasi aktif pemuda dalam pembangunan sosial dan ekonomi di berbagai sektor.
Melalui program-program yang diusung oleh Bappenas dan Tanoto Foundation, diharapkan pemuda Indonesia akan memiliki peluang lebih besar untuk terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek pembangunan. Keterlibatan ini tidak hanya mencakup aspek pendidikan, tetapi juga mencakup aspek kebudayaan, sosial, dan lingkungan. Penekanan pada kolaborasi antar sektor sangat penting, karena pentingnya menciptakan ekosistem yang mendukung keberadaan pemuda dalam pembangunan berkelanjutan.
Program kerjasama ini juga bertujuan untuk membangun konektivitas yang lebih baik antar berbagai sektor, sehingga pemuda dapat berkontribusi tidak hanya secara lokal, tetapi juga dalam skala nasional. Dengan memberikan akses dan pelatihan yang sesuai, Bappenas dan Tanoto Foundation berupaya untuk meningkatkan kapasitas pemuda, sehingga mereka dapat berperan secara efektif dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan program-program pembangunan.
Dengan inisiatif ini, diharapkan generasi muda Indonesia dapat menjadikan diri mereka sebagai agen perubahan yang konstruktif. Kesediaan Bappenas untuk bekerja sama dengan Tanoto Foundation mencerminkan komitmen pemerintah dalam memberikan ruang bagi pemuda untuk berpartisipasi aktif dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, sehingga dapat berdampak positif bagi masa depan Indonesia.
Pengalaman langsung di lapangan merupakan elemen penting dalam proses pendidikan dan pengembangan calon pemimpin. Didik Darmanto, seorang direktur di Kementerian Bappenas, menekankan bahwa pemahaman yang mendalam mengenai persoalan masyarakat hanya dapat dicapai melalui interaksi langsung dengan berbagai elemen komunitas. Melalui pengalaman ini, generasi muda tidak hanya belajar teoritis tetapi juga mendapatkan wawasan praktis yang esensial dalam mengidentifikasi dan menganalisis tantangan yang dihadapi masyarakat.
Dalam konteks pembangunan Indonesia, pengalaman lapangan menyediakan platform bagi para pemimpin muda untuk memahami dinamika sosial, ekonomi, dan budaya yang unik di berbagai daerah. Hal ini memungkinkan mereka untuk mengembangkan solusi yang lebih relevan dan berkelanjutan dalam konteks lokal. Dengan terjun langsung ke lapangan, generasi muda dapat membangun jejaring yang kuat dan saling mendukung, yang merupakan kunci untuk mencapai hasil pembangunan yang efektif.
Lebih jauh lagi, pengalaman langsung ini dapat meningkatkan keterampilan komunikasi dan negosiasi, yang sangat dibutuhkan dalam posisi kepemimpinan. Saat terlibat dalam proyek-proyek nyata, mereka belajar untuk bekerja dengan berbagai kelompok, termasuk pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Kemampuan untuk menjalin kerjasama yang produktif ini akan melahirkan calon pemimpin yang lebih siap menghadapi tantangan di masa mendatang.
Oleh karena itu, penting bagi pendidikan formal dan program pelatihan untuk mengintegrasikan pengalaman lapangan sebagai bagian dari kurikulum. Dengan ini, calon pemimpin tidak hanya dilatih dalam teori, tetapi juga dalam praktik, menjadikan mereka lebih adaptif, responsif, dan inovatif dalam menghadapi berbagai masalah sosial dan pembangunan.
Program Tanoto Fellowship telah menjadi salah satu inisiatif penting dalam mendorong generasi muda untuk berkontribusi dalam pembangunan Indonesia. Peserta program ini, yang dikenal sebagai Fellows, biasanya diambil dari kalangan pemuda yang berkomitmen terhadap pendidikan dan kemajuan sosial. Sejak peluncurannya, program ini telah membawa banyak perubahan positif bagi masyarakat, terutama dalam aspek pendidikan.
Dalam tahun ini, sepuluh peserta Tanoto Fellowship Cohort 2025 telah menyelesaikan penugasan lapangan selama satu tahun di berbagai daerah. Selama penugasan mereka, para Fellows terlibat dalam proyek yang bertujuan untuk menguatkan literasi di kalangan anak-anak. Keterlibatan mereka mencakup pengembangan materi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan lokal, serta pendekatan inovatif untuk menarik minat belajar anak-anak di usia dini.
Bukan hanya sekadar menjalankan tugas, pengalaman yang diperoleh melalui program fellowship ini juga mendorong pemuda untuk lebih memahami dan memetakan kebutuhan masyarakat di tingkat lokal. Melalui interaksi langsung dengan komunitas, peserta fellowship dapat merasakan tantangan yang dihadapi oleh anak-anak dalam mengakses pendidikan berkualitas. Hal ini menjadi landasan bagi mereka untuk melakukan akselerasi dalam pengembangan metode pembelajaran yang relevan.
Di samping itu, keikutsertaan dalam proyek pendidikan juga mengasah keterampilan penting bagi para pemuda, seperti kerja sama tim, kepemimpinan, dan keterampilan komunikasi. Dengan bekal keterampilan ini, para Fellows tidak hanya akan mampu berkontribusi dalam konteks pendidikan tetapi juga berpotensi menjadi agen perubahan di bidang lainnya. Program fellowship ini diharapkan dapat menjadi katalisator dalam menciptakan generasi muda yang peduli dan siap berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Ari Widowati dari Tanoto Foundation menekankan pentingnya kesinambungan pengalaman yang diperoleh selama program fellowship. Program ini tidak hanya dirancang untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta, tetapi juga untuk mendorong mereka agar meneruskan apa yang telah dipelajari ke dalam tindakan nyata di masyarakat. Dengan menyelaraskan pendidikan dan pelatihan dengan kebutuhan yang ada, diharapkan para fellowship bisa berkontribusi secara langsung terhadap pembangunan bangsa.
Setelah menyelesaikan masa program, tantangan selanjutnya adalah bagaimana peserta tetap aktif dalam memberikan kontribusi bahkan ketika mereka telah kembali ke kehidupan sehari-hari. Ari menyoroti bahwa semangat kolaborasi yang telah dibangun selama program harus terus dipelihara. Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai inisiatif lokal bahwa peserta ingin jalani setelah keberadaan mereka di program fellowship berakhir. Dengan jalan ini, pengalaman fellowship tidak hanya menjadi kenangan, tetapi menjadi fondasi untuk membangun perubahan yang lebih signifikan di tengah masyarakat.
Partisipasi aktif dalam pelbagai kegiatan sosial dan pengembangan sumber daya manusia merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memastikan kontribusi yang berkelanjutan. Ari berharap, meskipun masa belajar telah usai, semangat para peserta untuk berkontribusi terhadap masyarakat tidak akan pudar. Sebaliknya, melalui inisiatif yang inovatif dan kolaboratif, mereka dapat mendorong generasi muda lainnya untuk turut serta dalam menghadapi isu-isu yang dihadapi oleh bangsa. Ketika generasi muda terkolaborasi dan berkontribusi, maka peluang untuk menciptakan perubahan yang positif akan semakin terbuka lebar.



