SURABAYA, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 16 September 2026, Pada Rabu, 16 September 2023, ratusan mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) berkumpul di kompleks kampus untuk melaksanakan aksi unjuk rasa yang besar. Kegiatan ini diadakan sebagai bentuk penolakan terhadap pelantikan Akh Muzakki sebagai rektor baru untuk periode 2026-2030. Sejak pagi, para mahasiswa telah mempersiapkan diri untuk menyuarakan pendapat mereka mengenai keputusan yang dianggap tidak sesuai dengan aspirasi mereka.
Aksi dimulai dengan orasi-orasi yang disampaikan oleh berbagai perwakilan mahasiswa dari berbagai fakultas. Dalam orasi tersebut, mereka menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pemilihan rektor serta kritik terhadap proses pemilihan yang dinilai tidak melibatkan masukan luas dari seluruh elemen kampus. Mahasiswa merasa bahwa pelantikan rektor baru ini akan berdampak signifikan terhadap arah dan kebijakan universitas ke depan.
Ketegangan mulai meningkat seiring dengan berjalannya waktu dan semakin banyaknya mahasiswa yang bergabung. Banyak dari mereka membawa spanduk dan poster yang mencolok, berisi pernyataan penolakan dan tuntutan untuk meninjau kembali keputusan tersebut. Suasana demonstrasi yang awalnya damai mulai memanas ketika beberapa mahasiswa melakukan aksi simbolis, seperti duduk di jalan sebagai bentuk protes. Pihak universitas mencoba untuk merespons dengan mengirimkan pernyataan resmi, namun hal ini tidak menenangkan para demonstran, yang merasa bahwa suara mereka perlu didengar lebih serius.
Dalam dinamika yang terjadi, aksi unjuk rasa tidak hanya sekadar menjadi momen penolakan, tetapi juga menjadi panggung bagi mahasiswa untuk mengekspresikan ide serta harapan mereka mengenai kepemimpinan yang lebih baik di institusi pendidikan ini. Momen tersebut menjadi penting tidak hanya bagi mahasiswa untuk bersuara, tetapi juga bagi pihak rektorat untuk memahami sentimen dan aspirasi yang berkembang di kalangan komunitas akademik.
Pada unjuk rasa yang berlangsung di UINSA, para mahasiswa menyampaikan lima tuntutan utama sebagai respons terhadap pelantikan Rektor baru, Akh Muzakki. Tuntutan tersebut tidak hanya mencerminkan ketidakpuasan terhadap kepemimpinannya, tetapi juga menyoroti beberapa isu krusial yang dinilai mengancam lingkungan akademik. Pertama, para demonstran mengungkapkan keberatan atas dugaan keterlibatan rektor baru dalam kasus hukum yang berpotensi merugikan citra universitas. Masalah ini dianggap serius karena dapat mengganggu integritas akademik dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan tinggi.
Selanjutnya, mahasiswa menilai bahwa Akh Muzakki tidak memiliki kapabilitas yang memadai untuk mengelola kampus dengan efektif. Mereka menyatakan bahwa kepemimpinan yang baik harus ditunjang oleh pemahaman yang mendalam terhadap kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh institusi dan para mahasiswanya. Dalam hal ini, mahasiswa merasa kurangnya komunikasi pimpinan dan mahasiswa berkontribusi pada kurangnya kepercayaan terhadap kebijakan yang diambil.
Tuntutan ketiga menekankan pentingnya menciptakan ruang aman di lingkungan akademis. Mahasiswa beranggapan bahwa lingkungan yang aman dan inklusif sangat penting untuk mendukung proses belajar mengajar. Mereka khawatir bahwa dengan kepemimpinan yang tidak jelas arah, akan ada kecenderungan terhadap situasi yang mengintimidasi, yang dapat menghambat proses belajar mahasiswa. Selain itu, mereka mendesak agar permasalahan keamanan dan kesejahteraan di kampus segera ditangani.
Keempat, mahasiswa meminta adanya transparansi dalam kebijakan yang diambil oleh rektorat, terutama yang berkaitan dengan alokasi anggaran dan pengambilan keputusan strategis. Transparansi dianggap krusial untuk menghindari penyalahgunaan wewenang dan memastikan bahwa semua pihak memiliki akses yang setara terhadap informasi yang relevan. Terakhir, mahasiswa meminta penguatan mekanisme partisipasi mahasiswa dalam proses pengambilan keputusan, agar suara mereka didengar dan diakomodasi dalam kebijakan kampus ke depan.
Suasana demonstrasi di UINSA menciptakan atmosfer yang penuh semangat dan ketegangan. Seiring berjalannya waktu, demonstran, yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa dari berbagai fakultas, semakin banyak berkumpul di depan gedung rektorat untuk menyuarakan penolakan mereka terhadap pelantikan rektor baru. Mereka mengangkat spanduk-spanduk yang mencantumkan berbagai pesan dan kecaman terhadap kebijakan yang dianggap merugikan organisasi kemahasiswaan dan integritas akademik universitas.
Para mahasiswa tidak hanya sekadar berdiam diri; aksi orasi bergantian dilakukan oleh perwakilan dari masing-masing fakultas, yang menjelaskan alasan penolakan terhadap rektor baru serta harapan mereka untuk masa depan institusi. Orator yang bersemangat memberikan pidato yang emosional, menekankan pentingnya kedemokrasian dalam proses pemilihan rektor serta mendorong perubahan positif di lingkungan kampus. Demikian, suasana demonstrasi menjadi arena evolusi gagasan dan aspirasi mahasiswa yang ingin didengar.
Kehadiran banyak mahasiswa membawa energi positif dan menunjukkan solidaritas yang kuat berbagai grup fakultas. Ketegangan di lokasi demonstrasi tidak hanya terbangun dari rasa ketidakpuasan, tetapi juga dari semangat kolektif untuk memperjuangkan kepentingan bersama. Meskipun ada potensi gesekan dengan aparat keamanan, mahasiswa menunjukkan sikap damai namun tegas, bertujuan untuk menyampaikan pesan mereka dengan cara yang terorganisir. Hal ini mencerminkan kedewasaan dan kematangan dalam berdemokrasi, serta menunjukkan bahwa aksi protes bisa menjadi medium untuk menyampaikan pendapat secara konstruktif.
Dengan banyaknya suara yang bersatu, demonstrasi ini bukan hanya sekadar ajang penyampaian pendapat, tetapi menjadi momen sejarah bagi UINSA, di mana mahasiswa mengekspresikan keberanian dan komitmen mereka terhadap nilai-nilai universitas yang mereka cintai. Suasana ini adalah gambaran nyata dari kekuatan kolektif yang berusaha merangkul aspirasi bersama untuk masa depan pendidikan dan pengelolaan yang lebih baik.
Dalam rangkaian unjuk rasa yang diadakan oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), sebuah momen yang mencolok adalah aksi pembakaran karangan bunga selamat datang untuk rektor baru, Akh Muzakki. Tindakan ini bukan sekadar pelampiasan emosional, melainkan juga merupakan simbol dari kekecewaan yang mendalam terhadap keputusan yang dihasilkan oleh pihak universitas dan bukti bahwa suara mahasiswa tidak dapat diabaikan.
Aksi ini diwarnai dengan perasaan frustrasi yang tampak jelas di para demonstran. Karangan-karangan bunga tersebut, yang seharusnya merepresentasikan ucapan selamat dan harapan yang positif, dialihfungsikan menjadi objek protes. Pembakaran itu berlangsung dengan disertai teriakan dan yel-yel penolakan. Dengan tindakan tersebut, mahasiswa ingin menegaskan bahwa mereka merasakan ketidakadilan dan kurangnya dialog pihak universitas dan mahasiswa.
Seiring dengan berlangsungnya aksi ini, situasi di lokasi demonstrasi semakin memanas. Para mahasiswa yang berkumpul menunjukkan semangat yang menggebu-gebu, namun juga diwarnai dengan kekhawatiran akan pergeseran menjadi kerusuhan. Keadaan menjadi semakin mendesak ketika pihak keamanan mencoba untuk mengendalikan massa, yang menciptakan ketegangan tambahan. Namun, meskipun ada potensi untuk eskalasi, sebagian besar mahasiswa tetap bertahan dalam upaya menyuarakan ketidakpuasan mereka dengan damai.
Kerusuhan yang terjadi saat itu mencerminkan frustasi yang mendalam dari mahasiswa. Pembakaran karangan bunga hanyalah bagian dari tindakan protes yang lebih besar, di mana mahasiswa menuntut agar kepemimpinan baru dapat lebih responsif terhadap aspirasi dan kebutuhan mereka. Momen tersebut menjadi landmark penting dalam sejarah institusi, menandakan bahwa suara mahasiswa tidak bisa diremehkan dan bahwa mereka akan terus berjuang untuk keadilan dalam lingkungan akademik.













