Pada bulan November 2021, Destry Damayanti resmi dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia, menggantikan posisi sebelumnya setelah melalui serangkaian proses seleksi yang ketat. Pelantikan ini berlangsung di Mahkamah Agung, Jakarta Pusat, yang menandakan suatu tonggak penting tidak hanya bagi karier Destry Damayanti tetapi juga bagi kebijakan moneter di Indonesia. Dalam wawancaranya, ia mengemukakan prinsip 3I Plus S, yang menjadikan acuan utama dalam pendekatan Bank Indonesia.
Prinsip 3I Plus S terdiri dari tiga pilar utama: integritas, inovasi, dan inklusi, dengan tambahan pilar solidaritas. Prinsip ini bertujuan untuk menciptakan suatu sistem keuangan yang lebih baik dan berkelanjutan, serta mendukung perkembangan ekonomi nasional yang inklusif. Dalam konteks ini, Destry menekankan pentingnya integritas dalam pengambilan keputusan yang transparan dan akuntabel, serta inovasi yang harus menjadi basis dari kegiatan operasional dan kebijakan yang diambil oleh Bank Indonesia.
Dari sudut pandang inklusi, Destry Damayanti mencatat bahwa akses terhadap layanan keuangan harus diperluas untuk semua segmen masyarakat, termasuk mereka yang sebelumnya terpinggirkan. Dengan pilar solidaritas, ia menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak, baik pemerintah, sektor swasta, maupun lembaga keuangan, untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan.
Pelantikan Destry Damayanti dan penerapan prinsip 3I Plus S mencerminkan upaya Bank Indonesia untuk mengadaptasi pendekatannya dalam menghadapi tantangan global yang terus berubah. Kebijakan yang berfokus pada nilai-nilai dasar ini diharapkan dapat mewujudkan stabilitas ekonomi dan mendukung pencapaian visi jangka panjang bangsa. Pada bagian berikutnya, kita akan membahas secara lebih mendalam tentang penerapan prinsip tersebut dalam kebijakan bank sentral dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia.
Prinsip 3I adalah suatu kerangka kerja yang diterapkan oleh Bank Indonesia di bawah kepemimpinan Destry Damayanti, yang terdiri dari tiga elemen kunci: impactful (berdampak), inklusif, dan integratif. Masing-masing elemen ini memiliki peran penting dalam membentuk kebijakan yang responsif dan efektif dalam mengatasi tantangan ekonomi dan keuangan di Indonesia.
Elemen pertama, impactful, merujuk pada kemampuan kebijakan untuk memberikan dampak positif yang nyata bagi perekonomian masyarakat. Dalam konteks ini, setiap kebijakan yang dirumuskan harus dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja baru, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bank Indonesia menyadari bahwa kebijakan moneter dan stabilitas keuangan yang solid sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi investasi dan pembangunan.
Selanjutnya, elemen inklusif menekankan pentingnya keterlibatan semua lapisan masyarakat dalam proses perumusan dan implementasi kebijakan. Hal ini berarti bahwa kebijakan yang diambil tidak hanya menguntungkan kelompok tertentu, tetapi harus mempertimbangkan kebutuhan dan kepentingan seluruh masyarakat. Dalam kerangka ini, Bank Indonesia berupaya untuk memastikan bahwa suara masyarakat, termasuk kelompok yang terpinggirkan, didengar dan diakomodasi dalam proses pengambilan keputusan.
Terakhir, elemen integratif menuntut adanya sinergi berbagai kebijakan dan lembaga. Bank Indonesia percaya bahwa pencapaian tujuan ekonomi yang optimal tidak dapat dicapai secara terpisah. Oleh karena itu, kerja sama Bank Indonesia, pemerintah, dan lembaga keuangan lainnya menjadi sangat penting. Prinsip integratif ini juga mengharuskan adanya koordinasi kebijakan moneter dan fiskal serta kebijakan sektoral lainnya untuk mendukung penciptaan kerangka kerja yang lebih komprehensif dan harmonis.
Konsep sinergi merah putih yang diajukan oleh Destry begitu penting dalam konteks kebijakan ekonomi yang diterapkan oleh Bank Indonesia. Sinergi ini bukan hanya sekedar slogan, tetapi sebuah pendekatan strategis yang menjadi pegangan dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi domestik, termasuk inflasi yang sering kali mengganggu kestabilan ekonomi. Dengan mengedepankan sinergi pemerintah, Bank Indonesia, dan pihak-pihak terkait lainnya, diharapkan akan tercipta iklim ekonomi yang lebih kondusif.
Dalam situasi ekonomi yang fluktuatif, kerjasama yang kuat antar lembaga menjadi sangat penting. Sinergi merah putih menekankan pentingnya kolaborasi Bank Indonesia dengan kementerian dan lembaga lainnya. Kerjasama ini diharapkan dapat memfasilitasi penyusunan kebijakan yang tidak hanya reaktif, tetapi juga proaktif dalam mengantisipasi perubahan yang dapat mempengaruhi inflasi dan kesejahteraan masyarakat. Misalnya, kolaborasi dalam penyediaan data dan informasi yang akurat bisa membantu dalam merancang kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Pentingnya sinergi merah putih tidak hanya terletak pada tataran teoritis, tetapi juga pada implementasi kebijakan di lapangan. Dengan memadukan sumber daya dan kebijakan dari berbagai lembaga, pemerintah dapat lebih responsif dalam menghadapi masalah yang muncul. Hal ini menjadi sangat penting dalam tatanan ekonomi yang kompleks dan dinamis, di mana tantangan seperti inflasi memerlukan respons yang cepat dan terkoordinasi. Oleh karena itu, sinergi ini menjadi fondasi yang kokoh untuk menciptakan kondisi ekonomi yang stabil, menjamin pertumbuhan berkelanjutan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Bank Indonesia (BI) memiliki struktur pimpinan yang jelas dan terorganisir, di mana saat ini dipimpin oleh Gubernur Destry Damayanti. Dalam masa kepemimpinannya, terjadi pengangkatan Aida S. Budiman dan Solikin M. Juhro sebagai Deputi Gubernur yang mendukung Gubernur dalam melaksanakan tugasnya. Pengangkatan tersebut menandai adanya pembaruan dan penguatan dalam kepemimpinan Bank Indonesia, yang merupakan elemen kunci dalam pencapaian tujuan moneter dan stabilitas sistem keuangan.
Dewan Gubernur Bank Indonesia terdiri dari Gubernur dan sejumlah Deputi Gubernur yang memiliki tanggung jawab masing-masing. Setiap anggota Dewan Gubernur memiliki bidang tugas yang spesifik, seperti kebijakan moneter, stabilitas sistem keuangan, serta pengembangan dan pengaturan sistem pembayaran. Pembagian tugas ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap aspek operasional Bank Indonesia dijalankan dengan fokus dan efisiensi, serta dapat merespons dinamika ekonomi yang terus berkembang.
Mekanisme pengambilan keputusan di dalam rapat Dewan Gubernur menerapkan prinsip musyawarah, di mana semua anggota memiliki kesempatan untuk menyampaikan pandangan dan usul. Keputusan penting biasanya diambil setelah melalui diskusi yang mendalam dan analisis yang menyeluruh mengenai dampak keputusan tersebut terhadap kondisi ekonomi nasional. Hal ini penting untuk menghindari keputusan yang tergesa-gesa dan memastikan bahwa kebijakan yang dihasilkan bersifat komprehensif dan dapat diimplementasikan dengan baik.
Dengan struktur pimpinan yang kuat dan jelas, serta pembagian tugas yang efektif, Bank Indonesia dapat beroperasi secara maksimal dalam menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Ini adalah langkah yang penting bagi pemulihan ekonomi yang berkelanjutan dan integrasi pasar keuangan global.













